Showing posts with label #nulis. Show all posts
Showing posts with label #nulis. Show all posts

Sunday, March 2, 2014

Rasanya Tidak Rela #30

Halo, Bosse @PosCinta!
Hari ini tepat tiga puluh hari program #30HariMenulisSuratCinta yang aku dan teman-teman pecinta lain ikuti. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir aku bisa mengirimkan surat cinta melalui bantuan Bosse dan tukang pos lain. Sedih rasanya, ada sedikit ketidak-ikhlasan untuk mengakhirinya. Aku seperti sudah menjadi bagian dalam rutinitas menulis yang awalnya memaksaku untuk memeras otak, merangkai kata demi kata menjadi satu surat cinta yang indah.

Tapi, Bosse, ada kabar baik. Kabar baiknya adalah aku berhasil beristiqomah selama tiga puluh hari berturut-turut tanpa cela demi merampungkan #30HariMenulisSuratCinta. Ini merupakan sebuah kemajuan yang cukup pesat buatku. Karena sebelumnya aku juga sudah pernah mengikuti program menulis serupa, namun hasilnya tidak seberhasil ini. Selalu ada saja hari yang terlewat. Namun kali ini tidak. Aku berhasil, Bosse! Aku berhasil!

Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Bosse yang sudah memberikan ruang bagiku dan kawan-kawan pecinta lain untuk menyebarkan cinta melalui surat-surat yang kami tulis. Terima kasih juga karena sudah memfasilitasiku untuk mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini hanya mampu kupendam lewat program Surat Kaleng. Aku benar-benar lega telah menyatakan apa yang kurasa pada seseorang di sana, Bosse. Yah, walaupun masih tersisa deg-degannya, sih. Hehehe.

Oiya, kabarnya Bosse mengadakan gathering di Bandung, ya? Andai saja Bosse juga mengadakannya di Surabaya, aku pasti datang. Aku ingin bertemu para pecinta, tukang pos, dan Bosse tentunya, secara langsung. Pasti sangat menyenangkan bisa kopi darat bersama kalian. Adakanlah di Surabaya dong, Bosse... Ya?

Ah, belum apa-apa aku sudah rindu menulis surat cinta lagi. Untuk menunggu hingga tahun depan rasanya tak sanggup. Tapi sekali lagi aku benar-benar mengucapkan terima kasih pada Bosse dan para tukang pos yang sudah mau direpotkan oleh kami para pecinta untuk mengirimkan surat-surat cinta yang kami tulis. Terima kasih, aku sayang kalian!

Sampai jumpa di #30HariMenulisSuratCinta selanjutnya, Bosse dan kawan-kawan! :D



Surabaya, 2 Maret 2014.
Rizky Nindy Lestari.

Saturday, March 1, 2014

Jangan Meredup #29

Hei kau, perempuan yang penuh energi.
Jangan kira aku tak tahu apa yang sedang kau alami saat ini. Walau kau tak pernah bercerita banyak, aku bisa melihat dari sorot matamu yang kadang sendu. Bukannya aku mau sok tahu, tapi percayalah, aku pernah berada di posisimu. Di posisi yang menuntut kita untuk tetap tersenyum dan ceria di manapun kapanpun tanpa pedulikan hati yang sedang kalut.

Akhir-akhir ini, kulihat pandanganmu sering menerawang jauh. Entah apa yang sedang kau pikirkan namun kuyakin, itu pasti bukanlah hal yang bisa kau atasi dengan mudah. Ketahuilah, wahai perempuan yang penuh energi, kau tidak sendiri. Jika kau butuh tempat untuk meluapkan dan melupakan segala beban barang sebentar, kau bisa panggil aku. Kau bisa datangi aku kapan saja. Dengan senang hati aku akan mendengarkan keluh kesahmu, cerita-ceritamu, karena aku tahu rasanya tidak didengar dan tidak punya siapapun untuk berbagi duka.

Hai perempuan yang penuh energi,
kau pernah berkata padaku bahwa kau marah pada dunia. Bahwa dunia tidak pernah adil. Bahwa untuk mendapat sedikit simpati saja harus berparas cantik. Bahwa untuk dihargai saja harus menjadi penjilat. Aku memahami amarahmu. Aku juga pernah memikirkan hal yang sama. Namun kau salah. Kau cantik, dalam caramu sendiri yang memang tak semua orang dapat lihat dengan kasat mata. Kau tidak perlu menjadi penjilat untuk dapat dihargai karena aku dan beberapa orang di sekeliling menghargaimu. Dunia memang tidak adil, sayang, namun ingatlah, ada sang Maha Adil.

Aku tidak ingin melihat energi-energi positif yang selalu kau pancarkan meredup, kemudian lambat laun menghilang. Aku ingin kau kembali bersinar seperti dahulu kala, kembali percaya diri, kembali menjadi dirimu yang kukenal selalu ceria di mana saja. Aku ingin kau tahu, aku akan selalu membantumu setiap saat kau butuh bantuanku.



Pasuruan, 1 Maret 2014.
Dari yang benar-benar memahami perasaanmu.

Friday, February 28, 2014

Trying to Get Used (Again) #28

This maybe the first and last letter I wrote in English. There's no particular reason why I wrote this in English. I'm just feel like my English skill is getting worse and worse since I seldom use it like I used to. You who read my blog earlier from 2011-2012 definitely not surprised and familiar with the way I wrote some posts in English.

It's Friday night, and as a participant in #30HariMenulisSuratCinta, today means Surat Kaleng day. No need to worry guys, I've planned to wrote an anonymous letter to someone (unfortunately you won't read it on my blog, and if you read it on PosCinta's, you probably don't know which letter I've written) who has made me fascinated at the very first time I saw him. I know it sounds cheesy but you'll get it once you meet him.

I think this is literally not a letter. A letter to myself, perhaps. To remind me that I have to learn English more and improve my skill by using it everyday.



Pasuruan, February 28th, 2014.
From a girl who is dying to study abroad.


PS:
Every Friday, the postmen will NOT deliver any letters because it's Surat Kaleng day.

Wednesday, February 26, 2014

Kehilangan Itu Sakit #26

Tidak seperti surat-suratku sebelumnya, kali ini aku tidak mengawali surat yang ke-dua puluh enam ini dengan sapaan. Hai dan halo yang biasa kulontarkan begitu kalian membaca suratku, kusimpan dahulu. Tidak ada alasan khusus memang, hanya saja surat yang ini kutujukan buat diri sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehilangan apapun akan menorehkan paling tidak sedikit luka. Hari ini, aku merasakan satu kehilangan yang sakitnya luar biasa. Bahkan dengan menangispun tak dapat menyembuhkan lukanya dalam sekejap. Namun dari pengalaman kehilanganku hari ini, aku dapat menarik satu poin yang selama ini mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya: beberapa kehilangan diciptakan untuk kebaikan diri di masa depan.

Di era seperti ini, jaman yang dipenuhi remaja-remaja galau soal asmara, banyak dari kita para remaja yang seringkali merasakan kehilangan seseorang yang dicinta. Entah itu pacar, gebetan, teman, juga keluarga. Tidak sedikit dari kita yang kerap menyalahkan waktu dan keadaan, bahkan Tuhan, karena mengambil mereka yang kita cinta tanpa permisi. Di titik itu, kita pasti belum menyadari bahwa semua yang kita punya di dunia ini hanyalah titipan semata, yang bisa diambil oleh yang Maha Punya kapan saja tanpa perlu meminta persetujuan dari tiap-tiap kita.

Munafik rasanya kalau aku berkelit bahwa aku selalu ikhlas saat dilanda kehilangan. Kadang aku marah dan kecewa, kadang juga bertanya-tanya, mengapalah diciptakan satu perasaan yang disebut cinta jika pada akhirnya kita harus merelakan yang kita cinta? Bukankah lebih baik kita tidak perlu merasakan apapun daripada harus merasa sakit pada akhirnya?

Namun, hari ini, aku mengerti mengapa kita harus belajar ikhlas merelakan segala sesuatu yang hilang. Karena memang beberapa kehilangan diciptakan untuk kebaikan diri di masa depan. Mungkin kita belum memahami di mana sisi baik untuk diri pada saat ini, namun seperti kata pepatah: waktu akan menjawabnya.

Kehilangan memang sakit. Tapi percayalah, bahwa di setiap yang pergi, ada yang datang.



Pasuruan, 26 Februari 2014.
Dari yang sedang menerka-nerka kapan saat baik itu tiba.

Tuesday, February 25, 2014

Aku Suka Untuk Februari-mu #25

Hai, kak Tiwi (maaf aku sok kenal, tapi apakah benar begitu panggilanmu?).
Aku dan kau memang sama-sama tidak saling kenal, kak. Tapi begitu aku membaca suratmu yang kau tujukan kepada Februari, entah mengapa rasanya aku tidak asing denganmu. Kata demi kata yang kau rangkai memang sederhana, namun indah dan mendatangkan candu untuk terus membacanya.

Sebelumnya, perkenankan aku mengenalkan diri. Kak Tiwi bisa panggil aku Nindy, kebetulan kita berdiam di kota yang sama, kak. Mungkin melalui surat yang kukirim lewat PosCinta, kita bisa menjalin silaturahmi dan bertukar ide mengenai dunia tulis menulis dengan lebih mudah mengingat kakak dan aku tinggal di satu kota (aku menimba ilmu di kota tempatmu tinggal, kak).

Oh ya kak, perihal Februari, kita punya kesamaan. Februari mengajarkanku hal-hal baru jauh lebih banyak dibanding bulan-bulan lain, yang notabene memiliki hari lebih lama. Walau Februari hanya sampai dua puluh delapan saja, tapi hingga dua puluh lima Februariku ini, aku justru sudah belajar banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang tak bisa dibayar dengan uang. Bukankah kak Tiwi juga merasa seperti itu? Rupanya hal ini rahasia Tuhan yang lain, ya, kak.

Teruslah menulis, kak Tiwi. Maaf jika aku lancang mengirimimu surat seperti ini. Senang bisa menemukan orang dengan minat yang sama dari kota tempat tinggal yang sama pula.



Pasuruan, 25 Februari 2014.
Dari yang (merasa) punya beberapa kesamaan denganmu.

Monday, February 24, 2014

Aku Terpukul #24

Halo, lelaki berparas tampan dengan tingkah menyenangkan.
Saat aku melihatmu untuk pertama kalinya, tak terpikir sedikitpun bahwa aku akan mengagumi indahmu. Namun lambat laun, dengan segala aksi lucu dan menggemaskan yang kau lakukan entah sadar atau tidak, perasaan itu terpancing juga.

Sebenarnya alasanku (dulu) menggemarimu adalah karena kau tegas dan lugas dalam berbicara. Tak pernah berbelit-belit. Ditambah lagi kelakuan-kelakuan aneh yang kadang tanpa sadar kau lakukan. Seakan hilang apa yang dikatakan dengan jaim dalam dirimu.

Namun, sore tadi, aku seolah dihantam kenyataan. Keras. Dan membuatku terpukul. Makin ke mari tingkahmu makin tak selelaki dahulu. Tentu saja aku terkejut. Siapa yang mengira seseorang sepertimu akan bertingkah seperti itu.

Sungguh disayangkan bahwa kau meleset sedikit agak jauh dari yang selama ini kuharapkan.



Surabaya, 24 Februari 2014.
Dari yang sempat membangga-banggakan ke-tidak jaim-anmu.

Sunday, February 23, 2014

Mingguku Menyenangkan #23

Hai, kau yang esok kembali ke kota rantau.
Bagaimana hari Minggu-mu? Apakah kau melaluinya dengan perasaan bahagia, ataukah sebaliknya? Hingga detik ini kau belum cerita, apa yang sudah kau alami seharian tadi di hari yang tidak pernah kau sukai ini. Kalau begitu, boleh kan, aku saja yang cerita?

Hari ini aku berangkat menuju kota tempat kita menimba ilmu dengan mengendarai bus ditemani mama. Lalu aku menginap di rumah Yesi, teman sekampusku yang sudah sangat sering kuceritakan padamu. Aku dan Yesi, bersama dengan mbak Shandra dan Bagas, memutuskan untuk menghabiskan Minggu dengan mengunjungi sebuah event bulanan yang katanya gaul di salah satu mal. Di sana banyak dijual pakaian-pakaian, makanan, dan beberapa barang dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Tapi dasar aku, perasaan excited ketika pertama kali sampai di tempat tidak bertahan lama karena suasana yang ramai dan penuh sesak. Aku hanya melihat-lihat beberapa barang, mengitari booth-booth, lalu menunggu Yesi dan mbak Shandra selesai berbelanja. Entahlah. Aku lebih suka mengamati sekeliling, kau tau itu kan.

Minggu-mu sebahagia punyaku tidak? Ah tapi aku tak ingin memaksamu untuk bercerita jika kau tidak mau. Salah salah malah aku mengacaukan moodmu yang tidak pernah bisa kutebak itu. Nanti kalau kita bertemu, aku akan ceritakan hal-hal seru yang terjadi di dua puluh tiga Februari ini, ya.

Semoga perjalananmu besok menuju kota tempatku berada sekarang lancar dan sampai dengan selamat.



Surabaya, 23 Februari 2014.
Dari yang sedang mengagumi salah seorang gitaris band lokal.

Saturday, February 22, 2014

Kecuali Kamu #22

Selamat malam, lelaki dengan kacamata berbingkai hitam.
Hari ini kau meneleponku. Dari seberang telepon kudengar kau akan kembali menuju kota tempatmu belajar (kota tempat kita belajar, lebih tepatnya) hari Senin pagi. Tanpa perlu kutanya, kau tau-tau saja sudah bercerita mengenai hari Minggu besok, yang katamu akan sangat membosankan. Untuk hal ini, aku biasanya akan memprotes siapapun yang memberi penilaian akan sesuatu padahal ia belum tau kebenarannya. Tapi denganmu, aku tidak melakukannya.

Aku juga tidak pernah suka ditelepon dan menelepon, kecuali dalam keadaan yang sangat terdesak. Kau tau kan, suaraku terdengar sangat aneh dan tidak mencerminkan suara seorang wanita sama sekali jika didengar melalui sambungan jarak jauh itu. Tapi, lagi lagi, denganmu, aku tidak mempermasalahkannya.

Tadi kau bertanya bagaimana hari-hariku selama melakukan perjalanan lima hari empat malam. Kubilang padamu bahwa semua yang kualami tidak bisa dibeli dengan uang. Aku tidak mendengar adanya nada terkejut dalam hela nafas dan suaramu. Itu pasti karena kau sudah pernah mengalami apa yang kualami sebelumnya, benar begitu?

Hari ini aku membaca satu buku lama yang kutemukan di dalam rak buku tua di kamar. Biasanya aku selalu mengabaikan anjuran orang-orang di dekatku untuk tidak membaca buku dengan posisi tidur. Tapi denganmu, aku langsung mengubah posisiku saat itu juga tanpa sedikitpun mengeluh.

Apa yang sudah kau lakukan terhadap alam bawah sadarku?



Pasuruan, 22 Februari 2014.
Dari yang menjadikanmu sebuah pengecualian istimewa.

Wednesday, February 19, 2014

Cepat Sembuh, Mas! #19

Hai, mas Widi. Perkenalkan, aku Nindy, salah seorang dari banyak mahasiswa yang tadi mengunjungi tempat kerjamu. Awal aku memasuki ruangan di mana kau menunggu kami untuk memberikan materi company profile perusahaanmu, jujur saja, aku terkejut. Aku merasa tak asing dengan wajahmu. Kacamata itu, terasa familiar. Lalu aku mulai mengingat-ingat siapakah namamu.

Setelah rekanmu memperkenalkan diri (dan memperkenalkanmu), aku baru mengingatmu. Setelah panjang lebar kau jelaskan ini itu, kau juga mengatakan suatu hal yang makin menguatkan ingatanku. Pantas saja kau tak asing bagiku.

Tapi mas, tadi kondisimu tidak begitu sehat. Ada dua penyangga badan yang kau gunakan untuk membantumu berjalan. Aku biasa menyebutnya krek. Aku penasaran mengapa kau seperti itu. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menanyakannya langsung padamu.

Semoga kau lekas sembuh ya, mas Widi. Sukses dengan karirmu. Dan terima kasih karena telah memberiku dan teman-temanku ilmu baru yang bermanfaat.



Purwakarta, 19 Februari 2014.
Dari yang sudah lama mengagumimu.

Tuesday, February 18, 2014

Mang Uus, Kencan Yuk! #18

Halo, mang Uus, sang tukang pos yang ceria (memang iya? Hehe, anggap saja begitu).

Ini kan surat pertamaku buatmu mang, untuk salam pembuka aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyampaikan surat-suratku walau kadang terselip. Aku mengerti, pasti banyak tumpukan surat yang harus kau sampaikan, sehingga satu-dua surat dariku atau mungkin dari teman-teman lain tidak sempat disampaikan.

Eh, ngomong-ngomong, mang Uus sudah tau mobil imut lucu keluaran Toyota yang harganya terjangkau itu? Iya, Agya. Sepertinya akan menyenangkan bisa jalan-jalan mengitari kota dengan Toyota Agya, apalagi jika kau temani. Bolehkan aku sekali ini mengajakmu kencan, dengan menumpangi Agya tentunya, sebagai tanda terima kasihku atas jasamu mengirimkan surat-suratku.

Mang Uus mau ya, kencan bersamaku dengan mobil Agya yang super imut itu? Ya? *kedip manja*



Bekasi, 18 Februari 2014.
Dari yang pernah ngambek karena suratku tidak kau kirimkan.

Monday, February 17, 2014

Semoga Tidak Semu #17

Hai, kau. Lagi lagi kau.
Aku akhirnya mulai mengantongi beberapa pengalaman dan keseruan baru. Saat ini, aku sedang berada dalam satu bus yang akan membawaku menjemput kenangan baru yang pasti akan kubagikan padamu.

Hari ini, aku telah melewati beberapa kota yang (mungkin) sudah pernah kulewati sebelumnya tanpa sadar (karena ini bukan kali pertama aku menuju ibukota dengan menaiki bus). Sejauh ini aku menikmati perjalanan panjang yang asyik dan seru. Doakan saja ya, keasyikan dan keseruan ini berlanjut hingga esok, esok, dan esoknya lagi.

Kau apa kabar? Bagaimana hari Minggu-mu kemarin? Kau belum menceritakannya padaku, lho. Semoga saja tidak membuatmu melipat muka seperti biasanya, ya.




Kendal, 17 Februari 2014.
Dari yang sedang berjuang melawan migrain di sela keramaian.

Sunday, February 16, 2014

Sebuah Perjalanan #16

Hai, kau.
Besok pagi aku akan mulai merangkai kenangan dan pengalaman. Jangan kira hanya kau saja yang bisa membuat lawan bicaramu iri dengan cerita-cerita melanglang buana milikmu. Ya, walaupun esok aku tidak bisa dikatakan akan 'melanglang buana', setidaknya aku akan merasakan beberapa buah pengalaman baru di tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Aku berani menjamin, ceritaku tidak kalah serunya dengan punyamu.

Saat menuliskan surat ini, aku ditemani tembang-tembang mengasyikkan dari album ketiga band lokal favoritku, RAN. Di detik ini, pukul 21:38, sedang terputar lagu berjudul Singgasana Hati. Coba kau dengarkan lagu itu, liriknya ringan namun tidak murahan. Kau pasti suka.

Aku juga sedang packing, nih. Satu hal yang pernah kau ajarkan padaku mengenai packing yang tidak akan kulupa: selalu bawa reusable bag, demi mengurangi sampah plastik kresek dan jaga-jaga. Kepedulianmu terhadap lingkungan memang patut kuacungi dua jempol. Tak heran kau menjadi panutan teman-temanmu.

Sudah dulu, ya. Aku tidak boleh tidur terlalu larut, karena besok pagi-pagi sekali aku harus sudah siap. Tunggu kepulanganku dengan pengalaman-pengalaman baru, ya!



Surabaya, 16 Februari 2014.
Dari yang sedang kelaparan di tengah sibuknya melipat baju.

Saturday, February 15, 2014

Welcome Home, You. #15

Hai, kau yang akhirnya sampai di rumahmu dengan selamat. Sudah tiga hari kau berada di tempatmu yang hangat. Maafkan aku yang baru bisa mengucapkan "Selamat datang kembali!" padamu.

Kau pulang dengan membawa sejuta cerita-cerita seru nan menarik yang tak henti kau ceritakan terus-menerus padaku. Sore tadi, saat kita memutuskan untuk bertatap muka setelah sekian lama, kau terlihat sedikit berbeda. Kulitmu lebih gelap dari terakhir kita berjumpa, tapi sinar matamu masih sama. Air mukamu juga masih berseri-seri. Andai saja aku berada di sana, bersamamu, menemanimu, dan menjadi bagian dari cerita-cerita yang (katamu) akan selalu kau kenang.

Kini, saat kau (akhirnya) kembali dari perjalanan panjangmu, aku malah akan beranjak memulai perjalanan tanpamu. Entahlah, kita seperti selalu terpisah ruang dan waktu, untuk sekadar bertemu saja kita harus menunggu sekian lama. Maafkan aku ya, nanti akan kuhujani kau dengan cerita-cerita seru punyaku. Jadi kita impas.

Oya, aku juga sudah berencana untuk mendatangi tempatmu sepulangku dari perjalanan yang kuceritakan tadi. Untuk menjalani hubungan seperti ini memang tidak pernah mudah untuk kita, maka dari itu aku putuskan untuk sekali waktu menengok kampung halamanmu. Kau kan sudah sering menengokku di sini, jadi bolehlah aku merasakan udara pagi kotamu.

Sampai berjumpa kembali, dear. Dan, selamat datang!



Pasuruan, 15 Februari 2014.
Dari yang tidak sabar ingin bertemu lagi.

Friday, February 14, 2014

Kepada Sesiapa yang Akan Mendampingiku Kelak #14

Halo, kau yang nantinya akan berada di sampingku ketika tiba saatnya.
Aku tidak tahu apakah kita sudah dipertemukan atau belum. Aku juga tidak tahu apakah kau seorang lelaki gundul ataukah berambut cepak rapi. Aku tidak menemukan petunjuk apapun tentangmu, selain kau seorang laki-laki yang sudah pasti terbaik untukku.

Mungkin kita memang belum bertemu, mungkin pula kita pernah satu kali bertatap muka di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Mungkin kita sedang sama-sama menunggu waktu itu; saat akhirnya kita mendapat keyakinan bahwa kau memang tercipta untukku dan aku tercipta dari tulang rusukmu.
Selama ini, aku bertanya-tanya: Adakah seseorang di sana yang dapat mengerti seluruh cerita-cerita dan keluh kesah manjaku tanpa sekalipun memberi penilaian? Adakah seseorang di sana yang rela menjadi partner gilaku? Adakah seseorang di sana yang mampu melihat kekurangan-kekuranganku dan menutupinya dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki? Adakah seseorang di sana yang bersedia menjadi imam dan kepala keluarga dari keluarga kecilku kelak? Adakah seseorang di sana yang dapat membawaku menjadi ciptaan Allah yang jauh lebih baik dari sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang terlalu dini untuk ditanyakan, namun aku sudah menemukan jawabnya: ada. Kau, yang entah membaca surat ini atau tidak, sudah dipersiapkan Allah untuk memintaku pada Ayahku pada saat yang tepat. Yang akan menerimaku dalam segala kurang dan lebihku. Yang akan menemaniku meraih cita-cita yang belum tercapai. Yang akan menjadi pria ketiga yang kucintai sepenuh hati setelah ayah dan adik lelakiku. Yang akan menjadi pemimpin dalam setiap langkah yang akan kita jalani.

Kau mungkin tidak sempurna, begitupula aku. Tapi hingga saat yang kita tunggu itu tiba, aku akan terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi pendampingmu yang baik dan solehah. Bukankah Allah sudah menentukan, "Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik." Dan karena aku menginginkanmu, seseorang yang sudah tentu baik untukku dan keluargaku (juga keluarga kita), maka aku harus memperbaiki diri menjadi sosok wanita yang pantas mendampingimu.

Aku yakin, tingkah-tingkah anehku yang mungkin kebanyakan orang tak dapat memahami, akan kau pahami dan mungkin menjadi bagian favoritmu dariku. Bagian dirimu yang tidak kau suka, mungkin juga akan menjadi bagian yang paling kugemari. Aku percaya, pasangan diciptakan untuk saling melengkapi, dan aku menunggu saat kau akhirnya menempati ruang kosong dalam hidupku; menyempurnakannya.

Sabarlah menunggu. Aku takkan ke mana-mana.



Pasuruan, 14 Februari 2014.
Dari yang sedang mempersiapkan diri bertemu denganmu.

Tuesday, February 11, 2014

Semangat Ya, Mbak! #11

Kepada mbak berbaju hangat hijau keabu-abuan di foto ini...


Sebelumnya, aku minta maaf karena lancang mengambil gambarmu yang sedang menikmati sarapan tanpa izin. Aku tidak mengenalmu, mbak, begitupula denganmu. Aku masih ingat, di pagi itu aku sedang menunggu pesanan siomay-ku di Taman Bungkul bersama Ayu. Dengan kamera yang kukalungkan (aku sedang dalam tugas kuliah fotografi bertemakan human interest), mataku menangkap sosokmu yang sedang menunggu pembeli datang. Si Mbak menjajakan pakaian-pakaian yang dibiarkan tergantung di pinggirmu. Sesekali wanita-wanita muda berhenti, mendekat, dan memilah-milih baju daganganmu. Tapi tak seorangpun membuka dompetnya untukmu, mbak.

Mungkin kau lelah berdiri terus-menerus menata dagangan, maka kau putuskan untuk beristirahat barang sebentar. Kau membuka sebungkus nasi pecel yang (mungkin) kau beli dari ibu pedangan pecel ponorogo di seberang lapakmu. Melihatmu makan dengan lahap, aku yakin kau pasti belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutmu ketika berangkat berdagang pagi tadi.

Kita memang tidak saling mengenal, mbak, tapi aku salut padamu. Kau masih begitu muda, mungkin seumuran denganku, mungkin juga lebih tua beberapa tahun. Jika boleh menebak, mungkin kegiatanmu di Minggu pagi itu adalah salah satu selingan untuk sekadar mencari uang jajan tambahan, mungkin juga tidak. Well, apapun tujuanmu berdagang, aku hanya bisa menyemangatimu dari kejauhan, mbak.

Semoga daganganmu laris manis ya, mbak, sepertimu yang manis dengan wajah tertutup topi merah jambu dan rambut terikat.



Pasuruan, 11 Februari 2014.
Dari aku yang suka memperhatikan sekeliling.

Monday, February 10, 2014

Pulanglah #10

Halo, kau yang jauh di sana. Saat ini hanya dua suku kata yang dapat menggambarkan perasaanku: rin-du; ka-ngen.

Sudah dua minggu kau habiskan waktu liburmu mengunjungi pantai-pantai indah nusantara. Dari yang kusimak melalui ceritamu dalam pesan-pesan singkat yang kau kirim, sepertinya kau tidak ingin masa-masa bebas tugas kuliah ini segera berakhir. Tapi aku sebaliknya. Maaf untuk keegoisanku, aku hanya tidak sabar untuk segera bertemu denganmu.

"Kamu minta oleh-oleh apa?" begitu katamu. Aku tak inginkan apapun kecuali kepulanganmu dengan selamat. Aku rindu mengacak-acak rambutmu, aku rindu menyembunyikan kacamatamu, aku rindu menarik-narik bulu kakimu, aku rindu semua hal gila yang kita lakukan. Aku rindu.

Pulanglah. Dengan tanpa kekurangan satu apapun.



Pasuruan, 10 Februari 2014.
Masih untukmu,
dari aku yang (juga masih) menunggu.

Sunday, February 9, 2014

Yang Tidak Kau Suka #9

Hai. Ini hari Minggu, hari yang kau benci. Aku masih ingat alasan dibalik kebencianmu terhadap hari ini. Standar saja memang: karena esoknya adalah Senin, hari di mana semua rutinitas kembali seperti biasa. Tapi akhir-akhir ini, kau sudah tidak pernah mengeluh lagi padaku perihal hari Minggu. Entahlah, mungkin liburanmu di pulau seberang lebih mengasyikkan hingga tak meninggalkan sedikit ruang untukmu mengeluh.

Aku suka ketika kau melupakan hari Minggu-mu. Itu berarti, kau sedang menghabiskan waktu yang bermakna hingga kau lupakan ketidaksukaanmu. Sama seperti beberapa minggu yang lalu, saat kau berkata, "Besok lagi, yuk!" yang kubalas dengan, "Besok kan harus kuliah..." lalu kau tersadar, namun bukannya merengut seperti biasanya, kau malah tertawa. Aku selalu suka melihat tawa yang menimbulkan beberapa kerut di sekitar matamu.

Saat kutuliskan surat ini, aku sangat yakin bahwa Minggu-mu sedang penuh tawa seperti saat itu. Walau kau melaluinya tanpaku, itu bukan masalah besar. Yang terpenting adalah kebahagiaanmu. Percayalah aku selalu mendoakanmu untuk itu.



Pasuruan, 9 Februari 2014.
(lagi-lagi) Untuk kamu,
dari aku yang menunggumu pulang membawa keriaan.

Saturday, February 8, 2014

Singkat Saja #8

Selamat malam.
Surat yang ini, untuk kamu.
Kita sudah lama tak bersua. Hanya mampu bertukar cerita melalui sambungan interlokal. Telepon memang sedikit mengobati rasa rindu, namun perasaan lega dan gembiranya tak sama dengan jika kau dan aku saling bertatap mata - membuka telinga untuk kisah-kisah; mendengar riang suaramu dan aku: kita.

Aku bisa saja memandang wajahmu melalui video call, tapi aku lebih memilih untuk melihatmu secara langsung, walau memang butuh kesabaran lebih untuk itu. Tidak apa-apa, mendengar suaramu saja sudah lebih dari cukup.



Pasuruan, 8 Februari 2014.
Untuk Ario,
dari orang yang kau sebut masa depan.

Friday, February 7, 2014

Hai, Hujan! #7

Aku terbiasa menyukaimu, hujan. Entah bagaimana, saat kau mulai datang, aku senang. Tapi aku tidak suka ketika kau datang beramai-ramai. Kau tahu kan, aku tidak terlalu suka keramaian. Aku suka saat kau mendatangiku dengan ramah. Menyapa dengan bau khas sehabis kau turun yang sangat kusuka.

Tapi akhir-akhir ini, aku tidak begitu mengharapkan kedatanganmu. Beberapa tempat di bumi pertiwiku menyalahkanmu atas apa yang sedang terjadi belakangan. Aku sempat kesal, tidak terima dengan tuduhan mereka. Bukan sepenuhnya salahmu kalau di sana sini terjadi banjir. Siapa suruh mereka tidak mau membuang sampah pada tempat yang seharusnya, hm? Tapi kemudian, aku terpikir mereka yang terpaksa menunda kegiatan hanya karena kau tiba-tiba datang. Aku juga tidak bisa menyuruhmu untuk memberi peringatan saat kau ingin datang. Kalau kau ingin datang, ya datang saja. Tapi lalu bagaimana dengan mereka yang menyalahkanmu? Yang katanya kesusahan karenamu? Yang rencana-rencananya tertunda karena hadirmu?

Namun tenang saja, aku tetap menyukaimu. Walaupun ketika aku terkena seranganmu meski sekelebat saja ragaku langsung memberontak, tapi aku tetap dan masih akan menyukaimu. Kau juga ciptaanNya, yang patut disyukuri.



Pasuruan, 7 Februari 2014.
Dari temanmu, sang penggemar petrichor.

Thursday, February 6, 2014

Teruntuk Wanita yang Tenaganya Tidak Pernah Habis #6

Assalamu'alaikum, wanita hebat yang selalu ada untukku.

Mama, begitu aku memanggilmu. Mungkin kata itu pula yang keluar pertama kali dari mulutku saat aku mulai bisa berucap. Tapi surat ini bukan perkara bagaimana aku memanggilmu, ma, atau mengapa aku memanggilmu mama, bukannya ibu, bunda, atau bahkan mommy.

Ma, aku bangga memiliki mama yang super tangguh sepertimu. Di usia papa yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja lagi, kaulah yang selama ini membiayaiku dan adik sekolah, memberiku uang jajan, membelikanku ini dan itu, sekaligus masih menjadi mama yang menangani segala keperluan rumah. Aku tahu itu tidak mudah bagimu, ma, karena mama pasti lelah sekali menanggung semuanya sendiri. Belum lagi ketika ada keperluan kuliah yang mendadak, yang mengharuskanku meminta lagi pada mama. Sebenarnya ma, hati ini tidak pernah tega mengatakan kalimat demi kalimat penuh permintaan kepadamu. Aku tidak ingin selalu mengandalkan mama, aku ingin mama yang mengandalkanku.

Dahulu, saat pikiranku tak sestabil ini, aku sering sekali ngambek saat mama tidak memberikan apa yang kuingin. Mama memang selalu mengajarkanku untuk berusaha dengan kemampuanku sendiri demi mendapat apa yang kumau. Mana pernah mama langsung mengiyakan ketika aku menginginkan sesuatu? Seperti saat aku menginginkan kamera yang kuidam-idamkan sejak lama, alih-alih membelikan, mama malah berkata, "Iya nanti mama belikan, kalau kamu ranking satu." Dan benar saja, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan kamera yang kini kumiliki. Tapi apa yang selalu mama ajarkan padaku selama ini membawa dampak positif padaku, ma. Aku jadi tidak meremehkan sekecil apapun usaha. Aku jadi selalu termotivasi untuk tetap terus berusaha lebih dan lebih demi mendapatkan sesuatu, bukannya santai-santai dan tinggal tunjuk.

Tetapi, kini dengan semakin bertambahnya usia, aku menyadari, bahwa ngambek ketika keinginanku tidak terpenuhi saat itu juga adalah hal konyol yang kekanak-kanakan. Sekarang, untuk meminta sesuatu pada mama, aku berpikir seribu kali. Aku akan berusaha mendapatkan sesuatu dengan usahaku sendiri. Dengan uangku sendiri. Aku tidak setega itu untuk meminta terus-menerus pada mama. Masih banyak hal lain yang membutuhkan dana tidak sedikit untuk mama tangani. Aku sadar itu, ma. Maka dari itu, aku tidak berani memberitahu mama tentang biaya study excursie. Aku ingin berusaha dahulu.

Mama tidak mengenal kata capek. Selepas kerja, mama bukannya beristirahat tapi malah membuatkanku makan siang. Saat mama terlelap, aku sering memerhatikan raut muka mama. Raut muka lelah, yang tak lagi sesegar dulu, yang tak lagi muda, yang kini mulai dihiasi keriput kecil. Bagaimana bisa aku tidak meneteskan air mata melihat wajah kelelahan itu? Bagaimana bisa aku tidak memikirkan beban yang mama pikirkan? Seperti mama yang selalu ada saat aku sedang dalam keadaan apapun, aku berjanji juga akan selalu ada saat mama membutuhkanku untuk sekadar berbagi lelah.

Tidak ada sahabat terbaik di dunia selain mama. Siapa yang akan kutelepon pertama kali ketika aku membutuhkan seseorang untuk meluapkan rasa sesak dalam dada jika bukan mama? Siapa yang akan meneleponku pertama kali ketika aku tak segera pulang padahal hari sudah malam jika bukan mama? Siapa yang akan mengingatkanku pertama kali untuk tidak terlambat makan dan minum obat saat aku sedang sakit jika bukan mama? Di kota orang, aku tidak bisa mendapatkan perhatian mama sebanyak jika aku sedang berada di rumah. Itulah mengapa aku selalu ingin pulang ke rumah saat akhir pekan tiba, ma.

Ma, mama selalu menyebutku gadis tomboy. Sekali waktu ketika aku minta dibelikan lipstick padamu, mama bilang, "Duh, kamu kalau pake lipstick ntar kayak banci, mbak." Tentu saja aku merengut, namun kemudian kita tertawa bersama di depan mbak sales promotion girl yang memandangiku dengan senyum lebar. Pernah juga saat aku merajuk minta dibelikan rok, mama malah berkata, "Percuma, nanti nggak kamu pake." Hahaha, mungkin memang benar sih, ma, tapi kan aku juga ingin seperti gadis-gadis lain di luar sana yang tampil anggun dengan memakai rok.

Ma, anak perempuanmu yang manja ini sekarang sedang dalam proses menuju dewasa. Mungkin aku belum sedewasa wanita-wanita lain di luar sana, tapi sedang kuusahakan supaya aku tidak lagi manja dan cengeng. Aku senang ketika aku bercerita betapa menyebalkannya hariku pada mama melalui telepon, mama berkata, "Nggak apa-apa, mbak. Ini kamu lagi diuji sama Allah, bisa nggak kamu nyelesein masalah kayak gini. Kamu kan calon pemimpin. Tapi kamu sudah lumayan berubah lho, mbak. Dulu dikit-dikit nangis, sekarang sudah lebih tegar." Berarti aku sudah bukanlah gadis kecil mama yang cengeng lagi ya, ma? :")

Ketegaranku kupelajari darimu, ma. Mama selalu tabah dan tegar menghadapi segala rupa masalah. Dari luar, mungkin mama mengira aku tidak peduli, cuek, dengan apa yang sedang mama alami. Tapi sejujurnya ma, aku sedang berusaha mencari solusi terbaik untuk meringankan beban mama. Aku bersedia menjadi tempat mama membagi beban hidup, apapun itu. Apalah gunanya mama melahirkan anak perempuan jika tidak dapat membantumu, ma.

Memilikimu sebagai mamaku membuatku merasa menjadi anak paling beruntung sedunia, ma. Bagaimana tidak, apapun cerita dan permasalahanku, mama selalu sedia menjadi sosok pendengar yang baik. Aku tidak segan menceritakan apa saja yang ingin kuceritakan, termasuk siapa lelaki yang sedang kusuka saat ini, apa yang terjadi dalam dunia perkuliahanku, bahkan selain mendengarkan cerita-ceritaku yang tidak penting, mama juga menemaniku nonton konser band favorit dan ikut menyanyi seolah-olah mama juga penggemarnya. Hal menyenangkan lainnya adalah mama juga memiliki selera fashion yang menarik, sehingga banyak baju-baju keren mama ketika muda yang dapat kupakai kembali di masa kini. Aku memang beruntung punya mama seperti mama.

Mama, kau memang seorang wonder woman dalam arti yang sesungguhnya. Alhamdulillah, Allah memberi seorang malaikat seperti mama dalam kehidupanku. Terima kasih telah membiarkanku berada dalam perut mama selama sembilan bulan. Terima kasih telah memberiku asupan gizi terbaik. Terima kasih telah mendidikku dengan baik. Terima kasih telah menjadi sahabat pertama yang tidak pernah menghilang. Terima kasih untuk segala doa yang tak pernah putus kau panjatkan padaNya. Terima kasih karena menjadi mamaku, mama yang cantik dan baik. Jagalah kesehatan, jangan mama sakit-sakitan lagi. Mama jangan capek-capek, istirahatlah secukupnya. Makanlah yang teratur, ma. Maaf karena aku masih sering membuat mama marah dan menangis. Maaf karena belum bisa menjadi anak yang patut dibanggakan. Tunggulah saat ketika impian dan cita-citaku terwujud, sehingga suatu hari nanti mama dapat melihatku tumbuh menjadi seorang wanita sukses dan bisa kau banggakan.



Pasuruan, 6 Februari 2014.
Dari anak sulungmu yang menyayangimu melebihi apapun.