Showing posts with label Tears. Show all posts
Showing posts with label Tears. Show all posts

Thursday, June 19, 2014

Untitled

Nggak pernah sebelumnya aku ngerasa kayak gini. Ngerasain perasaan ketika aku ngebuka pintu kamar, nyalain lampu, lepas sepatu, naroh tas, diem terduduk di pinggir tempat tidur sambil mikir, “Hari ini berat dan melelahkan banget.” Seumur-umur, sesedih-sedihnya aku, segalau-galaunya aku, belum pernah aku kepikiran kalimat macem gitu. Tapi malem ini rasanya pundakku berat, kayak banyak beban gitu. Pingin cerita tapi ya cerita ke siapa. Pingin nangis tapi air mata rasanya ketahan di tenggorokan sampe bikin sakit (iya, aku ngerasa tenggorokan berat banget nahan air mata). Toh, tadi ya udah sempet nangis dikit waktu ditelpon mama. Cukup lega sih. Tapi masih nggak bisa nutupin sedihku sampe sekarang.

Thursday, February 13, 2014

Senyum Terakhirmu #13

Hai, Mai!
Sudah berapa lama kita nggak ketemu? Terhitung sejak sapaan terakhirmu, ini sudah empat tahun lebih ya, Mai. Kangen nggak sama aku? Hahaha, aku kangen ngejailin kamu dan rambutmu yang aneh itu, Mai. Masih inget kan, gimana aku dan Elita masuk-masukin sisa-sisa penghapus sama staples ke rambutmu, trus kamu bilang, "Woi woi! Aduuuuh..." sambil ketawa-tawa kecil geje trus acak-acak rambutmu biar "sampah" tadi hilang. Aku sama Elita cuman bisa ngakak dan nggak berhenti ngejailin kamu, Mai.

Oh ya, Mai, inget nggak waktu Elita bilang, "Mai, ada pemain FTV yang mukanya mirip kamu!" trus kamu senyum-senyum geje (kapan sih, kamu nggak senyum-senyum geje?) lalu tanya, "Hah iyotah, El? Sopo emang?" Trus Elita jawab namanya Guntur. Dan sejak itu aku dan Elita sering panggil kamu Geledek, gara-gara kamu mirip orang yang namanya Guntur itu. Huahaha, yang bikin lebih lucu adalah karena kamu ngakuin kalau kamu emang mirip Guntur. Konyol tau, Mai. :D

Kalau ada yang panggil kamu Mai, selain aku dan Elita, itu pasti Papai, pasanganmu, Mai. :p Hahaha, nggak ngerti kenapa kita dulu bisa gila banget bikin keluarga yang terdiri dari kamu sebagai Mamai, Papai, Mbah, dan anak-anaknya adalah aku sama Elita. Trus kekeluargaan kita kusebarluaskan di tempat les, sehingga mbak Ninda dan beberapa tentor lainnya ikutan manggil kamu Mai. Duh, Mai, kangen nggak sih waktu ketawa-tawa ngakak karena kita sekeluarga ngelakuin hal-hal nggak jelas yang semestinya nggak lucu dan nggak pantes buat ditertawain tapi kita malah ketawa-tawa sendiri? Aku kangen, loh.

Aku juga masih inget, Mai, seminggu sebelum kamu bener-bener pergi, kamu ngasih aku 'kenangan' yang nggak biasa. Hari Senin sepulang sekolah, waktu aku nunggu jemputan di depan gerbang, aku masih inget banget kamu dan motormu yang lebih gede daripada ukuran badanmu sendiri, tiba-tiba nangkring di depanku. Kamu berhenti sebentar sebelum lanjutin perjalanan pulang, lengkap dengan senyummu yang nggak pernah nggak geje. Trus aku bilang, "Lapo, Mai?" dan kamu jawab, "Nggak, nggak popo." Setelah senyum-senyum geje yang bikin aku ikutan senyum geje juga, kamu akhirnya mutusin buat lanjut pulang. "Mulih sek, yo!"
Hari Selasa (atau mungkin Rabu, aku lupa), masih setelah pulang sekolah, selepas aku jemput Elita di kelasnya, aku dan Elita lihat kamu berdiri dengan tatapan kosong di depan wastafel sebelah laboratorium fisika. Aku sama Elita yang nggak biasanya lihat kamu kayak gitu, otomatis nyapa dong. Kita tanya, "Kenapa, Mai?" kamu masih belum sadar dari kebengonganmu. Lalu kita ngagetin kamu dengan, "Woi, Mai!" Kamu cuman senyum tipis yang dipaksakan, dan geleng-geleng kecil.

Setelah itu, aku lupa kapan terakhir aku ngece kamu dengan motor gedemu. Tapi di Jum'at siang tanggal 11 Desember 2009, di sela tidurku buat ngisi energi sebelum les, aku dibangunkan oleh sebuah pesan singkat yang kuterima dari Hilal dengan isi yang nggak aku ngerti maksudnya apa. Aku diem, bengong, langsung ngambil posisi duduk begitu aku baca smsnya. Setelah aku bales smsnya Hilal dan dia ngasih penjelasan, saat itu aku bener-bener bengong nggak percaya. Aku masih diem. Nggak lama, Elita nelpon dan bilang kalau kabar itu bener. Bahkan sekarang temen-temen yang lain sudah berada di rumah sakit. Nggak pake pikir panjang, langsung aja aku ganti baju dan meluncur ke rumah Elita. Sesampainya di rumah sakit, aku lihat Imam yang nangis sesenggukan di depan UGD. Aku lemes.

Lihat tubuhmu udah terbujur kaku di ruang jenazah, air mataku udah nggak terbendung lagi, Mai. Aku nggak percaya yang ada di sana itu kamu, Galih Raditya Pratama, Mamai-ku, temen yang selalu kujailin semasa sekolah. Helm yang kamu pakai waktu itu, udah penuh darah. Aku makin nangis ngeliatnya. Beruntung, ada Elita dan Bu Mus, guru bahasa Indonesia favorit kita, yang nenangin dan yakinin aku kalau kamu sudah bahagia di sana. Aku masih sempat lihat senyum terakhirmu di ruangan yang seram itu, Mai. Kamu tersenyum, sama seperti senyuman yang kamu beri buat aku dan Elita beberapa hari sebelum kamu pergi.

Aku nggak pernah nyangka, sapaan dan candaan di hari Senin itu bakal jadi yang terakhir yang kuterima darimu, Mai. Tapi aku bersyukur, kamu ngasih aku kenangan yang nggak bakal kulupain itu. Sekarang, sudah nggak ada lagi Mamai yang bisa kuusilin rambutnya, yang bisa kuajak debat masalah lagu, yang cerita masalah hal-hal nggak penting sama aku. Seandainya kamu masih sama-sama kita di sini, mungkin kamu sudah satu kampus sama Edo, Gani, Fajrin, dan temen-temen lainnya di kampus impianmu, Mai. Mungkin kita masih bisa bercanda lagi di kota orang. Tapi 'andai' akan tetap menjadi andai.

Kita nggak berpisah untuk selamanya kok, Mai. Hanya sampai nanti kita bertemu lagi. Kangen nih. Surga pasti memberimu lebih banyak kebahagiaan dibanding yang kamu rasa di sini.

Foto ini kuambil di atas kapal dalam perjalanan menuju Bali. Coba lihat gayamu, Mai, tetep sok jutek. :p



Pasuruan, 13 Februari 2014.
Dari yang selalu nangis ketika dengerin Lagu Untuk Riri-nya RAN.

Saturday, February 1, 2014

Surat Pertama untuk Papa #1

Assalamu'alaikum, papa.
Surat ini adalah surat pertama yang kutulis untuk papa. Juga surat pertama dari serangkaian surat-surat yang akan kutulis dalam #30HariMenulisSuratCinta oleh @PosCinta. Semoga papa tidak mengoreksi tulisanku, ya. Mengingat papa adalah seorang penulis yang menjadi inspirasiku menulis selama ini.

Papa, sudah sembilan belas tahun sekian hari aku menjadi anak gadismu. Semakin kuberanjak dewasa, rasanya kedekatan kita semakin merenggang, tak lagi seperti dahulu. Aku ingat, bagaimana papa selalu mengajakku pergi ke tempat baru, mengajakku ke toko buku dan membiarkanku memilih buku apapun yang kusuka, mengajakku ke tempat penuh misteri (karena kita menyukai hal-hal berbau misteri, tentunya), mengajakku ke pameran lukisan di gedung Balai Pemuda Surabaya, mengajakku ke sanggar budaya milik teman papa, mengajakku ke taman bermain, dan masih banyak lagi. Masihkah papa mengingatnya?

Sekarang, ketika usiaku sudah terbilang remaja, papa lebih suka menjagaku dari kejauhan. Papa sering sekali bertanya ke mana aku akan pergi, dengan siapa, pulang jam berapa. Bahkan tak jarang papa menawariku tumpangan menuju tempat yang sudah kutentukan bersama teman-temanku. Aku tidak pernah menolaknya, kecuali memang salah seorang teman sudah memberiku tumpangan menuju sana. Aku juga tidak pernah malu saat papa menemaniku ke mana saja, malahan aku merasa senang karena tidak banyak anak-anak di luar sana yang diperhatikan oleh papanya sedemikian rupa.

Kadang papa memang menjengkelkan. Melarangku ini-itu, menggodaku dengan kalimat-kalimat papa yang khas, namun memang seperti itulah karakteristik orang tua. Aku tahu mungkin papa mengkhawatirkanku, tidak menginginkan aku berbuat suatu hal yang menurut papa keliru, ingin menjagaku dari dunia yang kejam. Tapi papa, bolehkan aku sedikit saja mencoba hal-hal yang menurutku benar. Aku sudah se-dewasa ini, tentunya aku bisa menentukan mana yang benar dan yang tidak, iya kan, pa?

Walau papa seringkali berusaha menyembunyikan bentuk perhatian papa dariku, aku selalu berhasil mengetahuinya, pa. Ketika aku sedang berada jauh dari papa dan sedang tidak sehat, mama selalu menelpon dan menanyakan sudahkah aku meminum obat? Sudahkah aku makan? Mama juga selalu mengingatkan untuk aku menjaga kesehatanku karena tidak akan ada yang bisa merawatku ketika sakit di perantauan. Namun aku tahu, di balik semua itu, papa kan yang mengingatkan mama agar segera menghubungiku, bukan begitu, pa? Anakmu ini tahu, perhatian papa tidak bisa segamblang mama.

Selain memberiku inspirasi menulis, pengetahuan dan selera musikku juga banyak dipengaruhi papa. Sejak aku kecil, papa selalu memutarkanku lagu-lagu dari The Beatles, Rolling Stones, Deep Purple, Ella Fitzgerald, Selena Jones, dan masih banyak musisi lainnya. Tidak hanya lagu-lagu dari musisi tersebut, papa juga mengenalkanku dengan lagu-lagu beraliran Jazz, Country, Rock n Roll, juga Pop. Berkat papa, kini wawasan musikku bertambah (memang lebih ke lagu-lagu jadul, sih). Selera musikku juga tidak jauh dari apa yang sudah kudengar selama ini. Aku tumbuh dengan kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan oleh musisi mancanegara legendaris.

Aku juga beruntung karena papa memiliki banyak barang-barang keren. Papa punya sepatu boots dengan merek ternama yang untuk saat ini belum bisa kujangkau jika aku membelinya dengan uang milikku sendiri. Namun papa tahu apa yang kuinginkan. Papa rela mencuci kembali sepatu boots milik papa agar aku dapat memakainya. Yah, walaupun aku harus kecewa karena sepatu itu sedikit kebesaran di kakiku.

Papa, papa memang sudah tidak lagi semuda dulu. Maaf bila selama ini aku sering mengecewakanmu, membuatmu marah, dan belum bisa membanggakanmu. Terima kasih karena telah menjadi papaku yang memberiku banyak sekali hal yang mungkin tidak dapat kujabarkan satu persatu di surat ini. Terima kasih karena mendidikku dengan baik. Terima kasih karena masih memberiku perhatian-perhatian di usiaku saat ini. Kumohon tunggulah saat di mana aku akan berdiri tegak dengan kesuksesanku dan memberimu sesuatu untuk dibanggakan. Kumohon jagalah kesehatanmu, agar papa bisa melihatku bahagia dengan pasanganku suatu hari nanti di pelaminan. Berhentilah merokok, papa. Bukan maksudku ingin menjadi anak yang durhaka dengan sering menyembunyikan rokokmu, aku hanya tidak ingin papa sakit-sakitan. Aku ingin papa tetap sehat dan menemani cucu-cucu papa bermain di waktu yang akan datang.



Pasuruan, 1 Februari 2013.
Dari anak gadismu yang menyayangimu.

Monday, December 23, 2013

Hal Ini #9

Tiada yang bisa mengalahkan kelegaan setelah mencurahkan isi hati pada seorang ibu. Mendengar suara mama di seberang telepon sana, hatiku rasanya plong. Dengan sabar mama mendengarkan segala keluh kesahku melalui sambungan telepon. Aku bercerita ini dan itu hingga tak sadar suaraku mulai bergetar, makin lama makin terbata. Lalu dengan suara lembutnya mama berkata, “Udah nggak usah nangis… Nggak apa-apa nak, nggak usah dipikir…” Aku hanya mampu terdiam.

Kemudian mama melanjutkan ucapannya. “Ini cuman kerikil kecil, nggak usah terlalu dipikir. Berarti mbak Kiky ini udah melewati proses jadi calon pemimpin. Kamu kalau mama lihat kan sudah berubah, dulu dikit-dikit nangis, sekarang sudah mulai tegar. Kamu harus tegas, nak. Kalau kamu nggak bisa ngatasin gini aja, nanti gimana kalau di luar negeri, nggak ada mama? Hayo…”
Tangisanku makin menjadi.

Ah, mama ini. Tak pernah kulewati seharipun tanpa bersyukur pada Allah karena mengirimiku malaikat seperti mama. Setiap masalah apapun yang membebani, terasa ringan begitu aku membagi cerita dengan mama.

“Udah, sekarang mbak Kiky istirahat aja. Kamu di mana sekarang? Udah makan? Udah solat? Kalau malam gini nggak apa-apa minum demacolin aja. Ndang sembuh, jangan sakit-sakitan, jangan kecapekan…”

Entahlah, diperhatikan mama seperti ini harusnya aku merasa senang. Aku memang senang, namun air mata tetap tak henti mengucur deras membasahi pipi. Menceritakan apa yang membuat sesak hati pada mama terkadang memberikanku perasaan bersalah. Mama sudah terlalu banyak beban pikiran, dan sekarang, aku malah menambahi pikiran mama. Tapi harus pada siapa lagi aku bercerita kalau bukan pada mama? Hanya mama yang mengerti aku, yang mampu membuatku tenang, penyemangat hari-hariku kala aku bersedih.

Aku rindu mama.
Maafkan aku karena selalu menjadi beban untukmu, Ma. Doakan semoga aku bisa segera membahagiakanmu.

Friday, May 10, 2013

Tumpahan Perasaan yang Sengaja Dipendam Sekian Lama

Hari ini, akan kutuliskan hampir semua draft di memo hpku, percakapanku dengan diri sendiri di sebuah aplikasi chat, dan microsoft word laptopku yang sudah sekian lama kusimpan sendiri tanpa ada satu orangpun yang tahu ada cerita apa di baliknya.

Bahkan aku pun harus meyakinkan diri sendiri bahwa aku bukanlah aku, yang dulu, untuk beberapa waktu ini.

Mungkin aku butuh seseorang, atau sesuatu, untuk membagi cerita-cerita yang lama kupendam sendiri. Yang selalu jadi bahan pikiranku ketika larut dan mataku tetap tak mau terpejam. Sungguh, tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat bagi seorang aku untuk benar-benar mengubur perasaan yang kian hari kupaksakan untuk pergi namun ia tidak bisa benar-benar pergi. Semakin kupaksa, semakin kuusahakan untuk melupakan, semakin aku teringat. Dan puncaknya, aku menangis mendengarkan sebuah lagu yang, entahlah, liriknya seperti mengisahkan kisah kita.

Monday, February 4, 2013

In Memoriam, Mak Bongky.

source: kaskus
Arek-arek Jawa Timur, khususnya arek Suroboyo, pasti udah ngga asing dengan foto di atas. Yap. Siapa lagi kalau bukan Mak Bongky. Postingan ini, didedikasikan untuk tante Nungky, as known as Mak Bongky, yang kemarin malam telah berpulang ke haribaanNya.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un.
Mak Bongky, yang bernama asli Sri Hoenoen Ontowati, kemarin malam, Minggu (3/2) pukul 23:45 WIB, menghembuskan napas terakhirnya di RSAL Dr. Ramelan Surabaya. Kenapa aku mau repot-repot dan susah-susah bikin postingan khusus untuk Mak Bongky?

Well, Mak Bongky atau tante Nungky Nena ini temen SMA sekaligus sahabat dekatnya mamaku. Pertemanan mama dan mak Bongky udah terjalin semenjak mereka berdua sekolah di SMA yang sama, SMA Trimurti Surabaya.
Pertama denger kabar meninggalnya mak Bongky itu tadi pagi sekitar jam 2-an. Waktu itu aku lagi nonton film Mirrors di RCTI, tiba-tiba hpnya mama bunyi. Ada telepon masuk. Mama yang udah tidur di sebelahku langsung bangun dan nerima telepon itu. Beberapa detik kemudian mama ngucap "Innalillahi" dengan nada yang terdengar shock. Mendengar mama ngomong gitu, aku tau pasti ada sesuatu yang gak beres. Dan entah kenapa pikiranku langsung tertuju sama mak Bongky. Mama nutup teleponnya, kemudian duduk terdiam. Shock. Kaget. Trus aku tanya, "Siapa yang meninggal ma?" dengan harapan ngga akan dijawab dengan "Mak Bongky". Tapi dugaan aku ternyata bener. Mak Bongky meninggal dunia setelah melawan penyakit serius yang menyerang bagian otaknya.

Aku kaget dan juga ngga percaya. Speechless. Trus aku tanya lagi ke mama, "Ma beneran mak Bongky meninggal? Tante Nungky kan ma? Salah info kali ma.." tapi mama cuman jawab, "Iya.. Ya Allah.." dengan suara lirih dan masih tertegun ngga percaya. Untuk beberapa saat, mama ngga bisa ngomong apa-apa. Cuman diem, trus hpnya bunyi lagi pertanda ada BBM. Dicek, kemudian diem lagi. Aku bisa ngerasain apa yang mama rasain saat itu, karena aku pun pernah mengalami rasanya ditinggal seorang sahabat yang baik, lucu, menyenangkan kaya mak Bongky.
Mama lalu cerita, hari Kamis kemarin, mak Bongky masih sempat telfon-telfonan sama mama. Mak Bongky bilang, "Mblek, mreneo yo mblek. Aku insyaallah nek waras tak dolen-dolen nang Pasuruan." (translate: "Mblek, ke sini ya Mblek. Aku insyaallah kalau udah sembuh mau main-main ke Pasuruan.") FYI, Mblek itu nama panggilan mama diantara temen-temennnya, dipanggilnya Jimblek. Waktu telfon-telfonan itu mama bilang bakal jengukin mak Bongky waktu mama ke Surabaya nanti. Namun ternyata takdir berkehendak lain.
Masih antara percaya ngga percaya, mama kemudian bangunin papa dan ngasih tau. Papa pun juga sama kagetnya kaya aku dan mama.

Jam setengah empat pagi dan kita bertiga ngga bisa tidur lagi. Mama mutusin buat sholat malam, entah sholat tahajud atau sholat hajat yang jelas tadi mama sholatnya lama dan berkali-kali. Kemudian aku denger mama menghela napas berat di sela-sela doanya, kemudian nangis sambil nutupin muka. Saat itu, aku merasa kejadian 3 tahun lalu, 11 Desember 2009, keulang. Aku masih inget perasaan itu waktu kehilangan Galih. Mungkin rasa sedihnya mama kurang lebih sama kaya sedihku waktu itu.

Selama ini, aku sudah cukup dekat dengan mak Bongky. Tiap mama kumpul sama temen SMAnya, selalu ada mak Bongky yang bikin suasana jadi lebih seger dengan guyonan dan celetukan renyahnya. Kata-kata yang khas banget dari mak Bongky yang akan selalu aku inget adalah "Njemunuk njaya." Kalian yang udah sering nonton acaranya mak Bongky pasti sudah hafal sama karakteristik mak Bongky kalau lagi bawain show. Di kehidupan nyata, sepanjang yang aku tau, mak Bongky ngga jauh berbeda dengan ketika waktu beliau lagi bawain show-nya di JTV. Ceria, selalu bikin orang sekitarnya ketawa, kalau ngomong selalu ditambahi 'm' sama 'n' didepan setiap katanya, intinya mak Bongky orang yang lucu dan menyenangkan. Ngga heran kalau banyak yang merasa kehilangan.

Aku ngga pernah nyangka kalau mak Bongky ternyata lagi berjuang melawan penyakitnya yang bisa dibilang cukup serius. Dari beberapa acara yang aku lewati sama mak Bongky, acara reunian temen SMAnya mama, family gathering ex-Trimurti '84, sampai waktu beliau jenguk aku pas aku kecelakaan beberapa bulan lalu, aku ngga pernah lihat ada guratan sakit di wajah beliau. Mangkanya, waktu beberapa bulan lalu mama bilang mau jenguk mak Bongky yang lagi sakit, aku kaget. Mak Bongky sakit apa? Yang aku tahu beliau selalu ketawa ketiwi dan terlihat ceria di segala situasi. Beliau yang selalu bikin sebuah acara jadi meriah berkat guyonannya. Itulah, mereka yang selalu terlihat ceria dan senyum kapanpun dimanapun, belum tentu mereka yang hidupnya selalu bahagia dan tanpa beban. Contohnya, mak Bongky. Dibalik perjuangannya melawan penyakit yang serius ini, masih ada hal lain yang membebani pikirannya yang sebenernya ngga bisa dibilang enteng. Tapi ya ngga aku beber di sini lah ya. Privasi.

Ngga pernah menyangka tante akan pergi secepat ini. Tapi inilah yang terbaik buat tante. Allah sayang banget sama tante, ngga mau membiarkan tante berlama-lama merasakan sakit itu, te. Good bye, tante Nungky. Good bye, Mak Bongky. You're free from your pain now. I know you're happy up there. I, my mom, your family, your friends, and your fans love you. You were a good friend for us, a good mom for your daughter and son, and we will never ever forget you and your smile. Here some photos and memories you had with my mom. Rest in peace, Mak..

Mama dan Mak Bongky di sebuah hotel waktu umroh bareng ex-Trimurti '84
Mak Bongky (berkacamata hitam) dan temen-temen SMAnya waktu umroh bareng
Mak Bongky (3 dari kiri) dan temen-temen SMAnya waktu kumpul bareng
Mak Bongky (tengah) foto bareng temen SMAnya
Mak Bongky dan mama waktu kumpul bareng ex-Trimurti '84
Mak Bongky (2 dari kanan) bersama temen-temen SMAnya

Mak Bongky dan mama waktu kumpul di Sutos
Mak Bongky dan temen-temen SMAnya waktu kumpul di Sutos
Mak Bongky waktu kumpul bareng temen-temen SMAnya di Sutos
Mak Bongky, tante Devi, dan anaknya tante Devi waktu jengukin aku pas kecelakaan
Mama dan temen-temen SMAnya waktu jenguk Mak Bongky

Sunday, October 28, 2012

33 Months and 4 Days.

Aku yang salah. Aku yang jahat. Aku yang gabisa mertahanin semuanya. Aku bukan orang yang tepat untuk kamu. Kamu yang terlalu baik. Kamu yang terlalu sempurna. Kamu bener, 2 tahun 9 bulan 4 hari itu bukan waktu yang singkat. 1008 hari penuh kenangan. Kamu ngga perlu bingung mau diapain semua kenangan itu. Ngga perlu dilupakan, karena pasti gaakan bisa lupa. Kalau mungkin kamu berpikir ini semua mudah buatku, kamu salah. Aku ngga sepenuhnya sekuat itu. Kamu bener (lagi), kalo liat SIM, pasti bakal keinget kita dulu. Kalo liat kartu ATMmu, pasti bakal keinget kita dulu. Kalo liat sepatu, bintang, hujan, jaket, polo shirt, kaos, hem, Jatim Park, Cito, Royal, bank, masih banyak yang bakalan ngingetin gimana kita dulu. Aku ngga minta kamu ngelupain semuanya, karena aku juga gabakal ngelupain semuanya. Aku juga masih inget semua salahmu ke aku, juga salahku ke kamu. Aku cuman mau kita jalani aja dulu hidup kita kaya semestinya. Semuanya akan baik-baik aja. Aku tau kamu kuat, jangan bikin aku merasa bersalah walaupun pada kenyataannya aku emang salah. Iya, aku egois. Tapi aku gamau nyakitin kamu lebih dari ini. Aku tau kamu tersakiti banget. Hatimu pasti jauh lebih sakit dibanding sakit hatiku yang dulu dulu. Tapi, kita masih bisa berteman, iya kan? :')

Mungkin kamu ngga percaya sama quote "If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. And if they don't, they never were."  dan kamu pun nyuruh aku buat gausah mikirin quote ini. Tapi aku percaya, quote ini ada benernya. Maafin aku, walaupun aku tau, maafku ini percuma. Sia-sia. Kamu lebih pantes dapet yang lebih baik dari aku. Di luar sana pasti ada yang bikin kamu lebih bahagia dan ngga nyakitin kamu seperti aku nyakitin kamu. Kamu terlalu sempurna untuk aku, yang ngga pernah bisa jadi sempurna untuk kamu meski aku sudah berusaha. Kamu mau lupain aku atau engga, itu terserah kamu. Aku ngga akan lupain kamu kok, cowok yang selama ini udah bikin aku jadi lebih baik. Maaf aku malah gabisa bikin kamu lebih baik seperti apa yang kamu ajarin ke aku. Makasih buat semua pelajaran berharga, kenangan pahit manis selama ini, pengetahuan yang kamu kasih ke aku. Aku ngga akan nyalahin kamu kalau kamu mau benci aku, aku emang jahat. Tapi plis, jangan samain aku sama dia. Aku bukan dia, kita orang yang berbeda. Dan kalau emang Tuhan sudah menakdirkan kamu jodohku, cepat lambat semua pasti balik kaya dulu kok, bahkan mungkin lebih indah :)

Semoga Pasti kamu dapet yang lebih baik dari aku.

Thursday, September 13, 2012

Belum Pernah Segalau dan Serisau ini Sebelumnya

Mungkin kalian pernah berada dalam situasi yang membingungkan. Yang rumit. Complicated. Situasi dimana kita dan temen kita yang satu itu, yang sudah dekat itu, terjadi kesalahpahaman. Suasana jadi kikuk. Kaku. Ngga ada ngobrol-mengobrol. Semua jadi hening, keadaan berubah dari yang semula hangat menjadi dingin. Apa kalian pernah?

Sekarang aku sedang berada di dalamnya. Dan sesungguhnya aku berharap hal seperti ini ngga akan pernah terjadi, namun nyatanya terjadi juga sama aku. Dan aku harus melewatinya. Caranya? Entahlah. Aku pun ngga pernah nyangka semuanya akan jadi kaya gini.

Pernah kepikiran gini?

Pasti dia marah sama aku. Pasti dia ilfeel sama aku. Padahal itu semua bukan aku yang lakuin. Cuman salah paham. Bisa ngga sih semua jadi baik-baik aja kaya dulu?

Sunday, July 22, 2012

No, it's more than feeling betrayed. I'm feeling down.

They said if you cry with the first tear in your left eye, you are crying because of sadness. So this is sadness, am I right?

Friday, July 20, 2012

Things

So how does it feel...
If someone, someone you used to share everything with, turned out to be someone you would never thought they be? Do you have any idea how much it hurts? I never thought they would be this different. The way they talked, and the way they told stories... Yeah, I might once forget them when I was happy, but then, I realized my fault. And I'm trying hard to fix it but, maybe, just maybe, they don't want me to be their friends anymore.

I don't care how much tears and time I have spent for thinking about this. It hurts. Much.

You know, I never regret the fact that you are my best friends. I miss you. The old you. The old us. I miss the time when we just sat there like a dumb and laughed at everyone who's passed by. I miss the time when we had no secrets and just told each other everything. No exception. I miss how our friendship used to be.

Oh I should stop writing this. My eyes start watering.

Thursday, May 5, 2011

After A Long Hibernation (Eh?)


Long time no see, huh? Well, maafkan saya karena terlalu lama mengabaikan blog ini. Banyak hal yang harus saya selesaikan dan harus saya hadapi akhir-akhir ini sehingga waktu pun tersita untuk itu. Maaf! :)

Banyak hal terjadi selama aku nggak update di blog ini. Mulai dari UTS, ulangan harian, sakit, sakit hati (selalu), kegiatan FOKER, dll. Yaaa pasti ada seneng, sedih, bahagia (sama nggak sih sama seneng?), kecewa (sama juga nggak sih sama sedih?), dan hal yang paling aku suka dari semua pengalaman hidupku ini adalah: aku belajar untuk menjadi lebih kuat dan kembali seperti aku yang dulu.

Apa sih yang bikin aku mikir sampe kaya gini? Banyak. Dan aku udah lama banget mikir hal itu, tapi dulu aku masih lemah. Masih cengeng.
Sekarang, aku gak mau dianggap lemah lagi. Karena aku tau aku kuat. Dan aku bisa hadapin semua masalah di hidupku tanpa harus ngeluarin air mata lagi.

Aku sekarang punya prinsip. Dan aku memegang prinsipku. Aku gak mau jadi orang gak berprinsip yang plin plan dan bisanya cuman omdo. Aku gak mau harga diriku diinjek-injek. Aku gak mau diremehkan. Aku gak mau direndahkan. Karena aku wanita, dan wanita gak seharusnya diperlakuin seperti itu. Wanita itu harusnya dimuliakan.

Aku jadi tau masih banyak yang sayang dan peduli sama aku. Ada sahabat-sahabatku, ada mama, ada temen-temenku. Ketika aku jatuh, masih ada yang ngangkat aku dan ngebantu aku berdiri. Aku sekarang tau, kalau aku memang gak pernah ada di hati lelaki itu. Aku gak pernah dianggap berharga. Dan pengorbananku selama ini buatnya pun nyatanya sia-sia. Apa aku sedih? Tentu. Tapi aku nggak mau berlarut-larut dalam kesedihanku ini. Banyak yang mendukung aku, menemaniku ketika aku butuh, membantu menghapus air mata kekecewaanku, membuatku tertawa ketika aku menangis. Mereka semua yang menghargai aku, bukan LELAKI itu. Mungkin aku sempat berpikir bahwa dia-lah segalanya buatku. Mungkin pernah aku melupakan mereka yang selalu ada buat aku karena lelaki itu. Tapi kini aku sadar.

Mungkin aku dulu terlalu lemah untuk tidak memaafkan dan terlalu kuat untuk gampang memaafkan. Dan itulah mengapa AKU GAMPANG SEKALI DISAKITI.

Aku nggak akan menyebutkan semua sakit hatiku disini. Aku menghargai privasi orang lain seperti halnya aku menginginkan privasiku dihargai. Yang ingin aku tegaskan sekali lagi adalah, bahwa aku bukan lagi aku yang lemah. Aku kembali seperti aku yang dulu. Yang kuat, yang selalu tersenyum dan tak pedulikan masalah yang mengganggu.


THANKS FRIENDS AND BEST FRIENDS! YOU GUYS BRIGHTENED MY DAY THOUGH IT WAS THE DARKEST ONE :)

Sunday, April 3, 2011

untitled


So.. maybe you don't love me :(

You know something’s wrong with me when…


  1. My smile just doesn’t reach my eyes.
  2. Sit there staring at something for the longest time.
  3. Look up and continuously blink.
  4. Give a heavy sigh and shake my head.
  5. Only smile when something’s hilarious.
  6. Sit while hugging my knees.
  7. Mindlessly scribble.
  8. Completely alone not even attempting to be with someone.
  9. Rest my head on your shoulder.
  10. When you ask if something is wrong and i say ‘I’m just tired’

Source: cantstopmenow

Sunday, March 6, 2011

This Feeling.

Not all my daily stories written here. Some stories are too private to tell so that I have to write it in my diary. I mean, diary.




Well, today is Sunday and tomorrow is Monday and I hate it so much.
There are things that I hate but I still have to face it everyday..
I hate being the one who loves someone who doesn't love me enough.
I hate being the one who always cry over love stories while everyone around are smiling.
I hate being the new me. I miss the old me. The new one is SUCKS.

I miss me. I miss my voice. I miss my hair. I miss my body. I miss my attitude. I miss how I always smile though I had a lot of problems. I miss how creative I was. I miss how I advises my friends and I can kept it for myself. I miss how mature I was. I miss the way I wrote my future novel, my short stories, oh man I miss them a lot.

The new me is really sucks. I mean it. The new me is childish. The new me is so much different than the previous one. And I hate it. So much.

Some said I've changed because of love. Some said love drove me crazy. And hell yeah, I hate it that I've changed because of one stinky thing called LOVE. I wish I knew how to make a feeling stop.

I don't know why, I don't know how, but I'm starting to hate love.

Saturday, February 26, 2011

Thought of The Day

What if I lie to you? What if I went dinner with another boy and I tell you I go with my girlfriend? What if you were me? What would you feel?

-Rizky Nindy Lestari.

Wednesday, February 2, 2011

Thought of The Day

"I'm trying so hard to forget these pains of mine. But why world seems no stop reminding me? I won't lie to myself, my heart is too fragile to stand strong still."


-Rizky Nindy Lestari.

Tuesday, January 25, 2011

Menyakitkan Bila Cintaku Dibalas dengan Dusta

gak tau lah, jadi gak semangat belajar. padahal aku udah coba percaya, coba positif thinking, coba buat ngilangin marahku ke kamu, tapi apa balesanmu ke aku? padahal aku udah semangat buat belajar biologi, fisika, buat ngerjain semua peer sekolah tapi grgr kamu moodku jadi ancur banget. seneng kan kamu bikin aku kaya gini?

aku gak pernah sekalipun bohongin kamu padahal. aku udah coba buat percaya lg sm kamu walopun itu sulit banget nginget kamu udah pernah bohongin aku. sering. kamu gak tau kan gimana sakit hatiku? gak tau. karena kamu gak pernah dibohongin sm orang yg plg km percaya dlm hidupmu. aku gak pernah & gak akan pernah bohongin km. karena apa? aku sayang kamu, aku gak mau nyakitin perasaan orang yg paling aku sayang, yg paling aku percaya sekalipun orang itu nyakitin aku.

kamu td bilang kamu gak akan pulang malem & lgsg pulang begitu udah dapet apa yg mau km beli di malang. aku sms km pas maghrib, karena aku inget km td bilang ke aku mau pulang maghrib dan gak pulang malem. emg aku sempet marah, tp km gak pernah ngerti dan gak mau ngerti alasan aku marah ke km. aku kuatir. mgkn km anggep aku lebay krn nguatirin cowo umur 16 taun kaya km. tp sumpah aku bener2 kuatir. km gak tau kan, aku tuh pgn bgt jd satu2nya cewe yg ngasih km kasih sayang. aku pgn jd pengganti ibumu walopun aku tau ibumu gak akan pernah terganti. seenggaknya km bisa hargai semua perhatian, pengorbanan, kekuatiranku ke km. tp km gak pernah hargain itu semua. sakit.

aku sms km tp km gak bales. aku ingetin km buat solat, ttp gak km bales. oke, aku coba mikir positif. aku inget kata2mu td siang kalo km bakal pulang maghrib. aku mikirnya km lg di jalan, dan gak tau kalo ada sms. oke aku udah tenang. tp apa? aku dapet kabar kalo km msh di matos jam segini. km tau apa yg aku rasain? gak tau. sakit banget. aku dibohongin lg sm km stelah km janji gak akan pernah lagi bohongin aku. aku udah mulai bangun kepercayaan buat km walopun itu susah, tp km hancurin semua itu. sakit banget. percuma aku omongin ini semua ke km. km gak akan pernah ngerti. km pasti nyalahin aku. km pasti ngata2in aku posesif, suka ngelarang2, egois, jahat, dsb. km gak pernah tau kan, sakit denger itu semua drmu. km orang paling aku sayang, paling aku percaya tp blsnmu ke aku kaya gini. km gak pernah ngerti perasaanku. km gampangin aku. kamu berubah.

mungkin km udah gak sayang lg sm aku. mungkin km udah bosen. emang, aku gak cantik, gak pinter, gak kaya, tp aku punya hati dan perasaan. semuanya itu udah aku percayain sm km. tp ternyata kamu ngecewain aku lg, entah buat yang keberapa kalinya.

mungkin kamu kepikiran untuk minta maaf ke aku. gampang memang ngucapin kata maaf, tp km gak tau sakitnya yang masih membekas dan gak akan pernah hilang. harusnya km tau kaya apa sakitnya aku, gak cuman sekali km bohongin aku kaya gini. dan bahkan km udah janji ke aku gak akan pernah bohongin aku lg. susah memang buat percaya kamu pada awalnya, tp aku bangun lg kepercayaanku buatmu dengan susah payah. hah. percuma semuanya itu. kamu hancurin lg. dan belom tentu akan tetep utuh setelah ini.

kalo kamu emang udah gak ada rasa sayang lg sm aku, ngomong. jangan mainin perasaanku kaya gini. sakit banget dipermainin, dibohongin sama ORANG YANG PALING KAMU PERCAYA. aku selalu bisa maafin kamu, tp kamu.. seolah aku orang yg gak punya perasaan, yang gampang buat dimainin gitu aja. terlalu sakit hati ini. dan percuma aku omongin semua sakitku ini sm km. km gak akan pernah mau ngerti, gak akan pernah mau denger. yg ada di pikiranmu cuman: AKU EGOIS. JAHAT. POSESIF. SUKA NGELARANG2. SUKA NGATUR2.

sekarang terserah km mau apain lg perasaanku. kamu bener2 berubah. kamu bukan mushi yang sayang sm munyi. aku kecewa.

Monday, January 24, 2011

Days 364 - 365. Lots of Fun. And :(

Kemaren, tanggal 23 Januari 2011 diabisin sama dia. Yah, walopun nggak seharian sih emang, tapi seneng banget lah. Kemaren dia bantuin gue beresin undangan buat sunatan ade gue. Terus selesenya kita keluar. Makan ke tempat dimana tanggal 23 Januari 2010 dia ngajak gue. Bakso Kepala Sapi :). Tapi yah, kita emang gak makan bakso sih kemaren, kita makan mi hijaunya. Kalo setaun lalu, kita makan bakso disana. Gue inget pertama kali dia manggil gue "sayang" sama minta diambilin sendok garpu setaun kemaren. Cute! Yaah, gimana ya, kalo nginget itu rasanya terharu sama seneng sama sedih.. Nyampur lah semua perasaan gue hahaha kangeeen gue pas saat-saat awal pacaran sama pas pdkt :D

Oya, gue belom cerita kaan kalo dia ngasih gue kado sepatu pas ulang tahun gue :D tapi dia jg ngasih gue kado putus saat itu :( sedih ya kalo nginget masa lalu yang kaya gitu, tapi gue gamau ah bahas yang sedih-sedih. Ntar kapan-kapan gue tunjukin deh sepatu pemberian dia :)
Nah kemaren gue make sepatu kado dari dia dan dia make sepatu kado dari gue pas ulang tahun dia ke 16 taun lalu. Gue liat dia seneng ngeliat gue suka sama sepatunya dan itu bikin gue jadi ikutan seneng juga :D entah kenapa setiap senyum yang gue liat dari bibirnya bisa bikin gue jadi kerasa happy walopun gue lg gak pengen senyum sekalipun. Haha cinta kali yaa gue wkwk paansih gue jadi ngelantur gini kaaan haha jadi malu ah ><

Kemaren gue nonton Shutter Island sama Rumah Dara bareng dia. Seneng banget uuuuuuuuuuuuh sumpah gabisa digambarin gabisa diceritain pake kata-kata :) walopun cuman sekedar nonton dirumah tapi setiap waktu yang dihabisin sama dia rasanya berharga banget yaa gatau kenapa hihih :p ih gue kenapa sih aaah jadi kaya gini kan haha yaudah kapan-kapan deh gue bahas filmnya ;)

Yah cuman gitu sih acara gue tanggal 23 kemaren ;p seneng banget walopun cuman gitu aja. Ah mau nangis nih gue haha cengeng bgt ya wkwk
Walopun malemnya sempet ada konflik dikit tapi tetep aja gue gabisa bohongin perasaan kalo gue gabisa marah sama dia. Mau marah kaya gimana tetep gapernah sekalipun berhasil hhhh itu kali ya yang namanya sayang. Gue jg gitu ke mama papa ade sm sahabat-sahabat gue. Berarti gue sayang mereka dong uuuuu *hugs*

Nah tadi perut gue mules grgr PMS. Yah you know lah gimana ekspresi kesakitannya cewe kalo lagi itu. Sampe nangis segala tadi di sekolah hiks abisnya ganahan banget sakitnya yaallah.. Udah dikasih serbuk kunyit asem sm obat tetep aja gamanjur. Semua temen sekelas sampe ikutan repot ngeliat gue kesakitan kaya gitu huhuh muup yah ceman-ceman :( temen sebangku gue, Ridhah, sampe rela jadi korban pelampiasan kesakitan gue. Gue remes-remes tuh tangannya yang gendut hahaa lumayanlah sakit gue tersalurkan dengan baik & benar :D pacar juga selalu rela jadi korban pelampiasan PMS. Gue cubitin, gue remes, gue plintir-plintir tapi tetep aja pasrah :D makasih ya sayangggggg lopyuuh :*

Untungnya tadi perut gue agak mendingan setelah istirahat, jadinya gue bisa ceria kembali deeeh yeay ~(^^,~) ~(^.^)~ (~^,^)~ trus pas pulang sekolah eeeh ujan, seneng dong gueeeh secara daridulu emang udah suka banget kan sama ujan (y) nah berhubung (calon) ade ipar gue udah pulang bareng temennya, jd gue bisa ngeliatin ujan sm pacar tercintaa :* seneng seneng hihi apalagi pas pulangnya minum jus degan :9 tau degan? Itulooh daging kelapa muda :9 enak deh nyammm :9

Yaaah kayanya kebahagiaan gue gabisa deh diceritain lewat kata-kata. Pokoknya gue bahagiaaaa banget punya pacar kaya dia :) dia sabar banget sama gue, walopun kadang-kadang emg nyebelin sih haha tp gue tetep sayaaaang sama dia :) semoga aja selamanya tetep kaya gini yaallah amin :) :) :)