Showing posts with label People. Show all posts
Showing posts with label People. Show all posts

Wednesday, July 15, 2015

"Semua Cowok Tuh Sama Aja!"

ASSALAMU'ALAIKUM ALOHA HAO XIANG HAO XIANG NI HAO MA ANNYEONG MONYONGSEO ARIGATOU GOZAIMBAK~

Akhirnya yah, setelah lima bulan (iya, lima bulan) nggak nge-post apa-apa di mari karena sibuk revisian tugas akhir sana sini, NINDUNIA AKHIRNYA KEMBALI, PEMIRSAH! Iya, kembali ke pelukanmu dunia per-blogging-an. Pada kangen nggak sih sama tulisan aku? Hah? Enggak? Yaudah, nggak jadi nulis deh. *ngambek*
Nggak deng, aku mah anaknya nggak ambekan. Kalau lagi ngambek, dikasih es potong seribuan juga dah seneng. Nindy memang mudah sekali dibahagiakan. :") #UHUK #kodedetected

Oke, mungkin kalian bertanya-tanya arti perhatianku terhadapmu dari judul blogpost ini. Mungkin beberapa cewek langsung berpikir, "Eh eh ini mau ngebahas apaan nih duh iya memang cowok tuh di mana-mana sama semua iyuh~". Mungkin beberapa cowok langsung bete, "Ebuset maksudnya apaan nih bilang semua cowok sama aja yaela mbak naif amat sih lau!"

Tenang, gaes! Tenang! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik kok.
Jadi, maksud kedatangan saya ke sini dengan membawa topik ini adalah...

Thursday, September 25, 2014

Kesempatan Kedua

ALOHA, SAUDAGAR SAUDAGAR SEKALIAAAAN!~
Lama juga ya aku nggak ngeblog. Kangen banget tau nggak sihhhhh. Ini semua dikarenakan kembalinya daku ke dunia perkuliahan yang penuh teka-teki dan intrik #halah
Iya, dunia kuliah, apalagi tingkat akhir kayak aku gini emang penuh teka-teki. Gimana nggak penuh teka-teki, baru juga 3 hari kuliah udah ada tugas aja. Udah disuruh bikin bermacam-macam proposal. Udah disuruh mikirin jodoh judul Proyek Akhir. Ah, semester 5 memang nggak bisa ditebak. Macem perasaan kamu padaku. #IKIOPO

Sebenernya nih, sekembalinya aku ke dunia per-blogging-an setelah magang ini diniatkan untuk berbagi cerita pada kawula muda tentang suka duka magangku. Tapi, nanti dulu. Ada yang lebih pas nih momennya.

Jadi... hari ini kan tanggal 25 September yak. Nah, di tanggal ini, dua tahun lalu, aku dikasih kesempatan kedua sama Allah. Maksudnya? Gimana ceritanya?

Friday, August 8, 2014

Road to Asian Fashion Week: The Press Conference

Bentar bentar, kayaknya aku belum ngucapin ini deh ya...........oke, aku ucapin.

Rizky Nindy Lestari mengucapkan...
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN, TAQABALLAHU MINNA WA MINKUM. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H, maafin salahnya akuh yaaawhh *sebar cium* *sebar angpo* *eh ga jadi deh, buat aku sendiri aja angponya*

Maafkan ucapan yang telat tadi, yah. Iyah.
Well, jadi begini. Masih inget kan ya kalau aku magang di SHE Radio sampe awal September nanti? Naaah, selama 1 bulan lebih ini, aku dapet baaanyak banget pengalaman di sini. Tapi ada satu yang paling berkesan hingga hari ini. Yaaah, bisa nebak lah dari judul tulisan akyuh *kedip kedip lucuk*

IYA GAES, IYA! AKU MENGHADIRI PRESSCON SALAH SATU EVENT BERGENGSI! KYAAAA~~ *berlarian* *ke pelukan Rio Dewanto* *kemudian dijambak Atiqah Hasiholan* *yasudahlah*

Kok bisa sih?
Jangan jangan ilegal, ya? Nyusup, ya?
Jadi gini ceritanya...

Wednesday, July 9, 2014

Antusiasme 9 Juli dan Efek Negatifnya

Wazzup all the people in the world!
Hari ini, 9 Juli 2014, negara kita Indonesia abis ngelaksanain kegiatan paling demokratis, pemilihan presiden. Kamu kamu yang udah punya KTP, pastinya dapet undangan buat nyoblos dong yaa? Atau ada yang nggak terdaftar jadi daftar pemilih tetap (DPT)? Wah, kalau yang tadi belum terdaftar, tetep pada nyoblos nggak? Atau malah males ngurusin prosedurnya?

Jadi nih, tadi pagi aku udah nyoblos dooong! Aku bela-belain loh pulang ke Pasuruan (tempat di mana aku tercatat sebagai DPT) cuman buat nyoblos doang. Padahal mah hari ini magangnya nggak libur. Cerita dikit nih, kemarin waktu perjalanan pulang ke Pasuruan, jalanan tuh maaaacet banget. Menurut feeling-ku, hal itu dikarenakan banyaknya orang-orang yang pulang ke tempat di mana dia tercatat sebagai DPT buat nyoblos. Nggak tau deh feeling-ku bener apa enggak :p

Jadi gaes, ini adalah kali keduaku nyoblos. Yang pertama waktu pemilihan gubernur dan yang kedua ini waktu pilpres. Lah, yang pemilihan legislatif kemaren ke mana cuy? Sayang sekali saudara, waktu pileg kemaren aku nggak lagi di Pasuruan dan aku nggak tau kalau ternyata bisa pindah DPT. Bukan maksud buat golput sih, tapi kalau seandainya nggak golput, bingung juga mau nyoblos siapa. Abisan nggak kenal sama calon-calonnya ._.

Kalau pilpres tadi, ada yang golput nggak? Duh gaes usahain jangan ada yang golput deh! Soalnya nih, kalau kamu udah punya hak buat milih dan ternyata kamu lebih milih golput, nantinya kamu nggak boleh betek atau sebel kalau ternyata presiden terpilih nggak sesuai sama visi misi kamu. Kan kamunya enggak nyoblos siapapun. Ibaratnya nih, kamu HTS-an sama gebetan. Males banget kan nggak bisa seenaknya cemburu atau ngamuk kalau doi deket sama orang lain? Duuuh :'

Nah, ngomongin masalah 9 Juli dan nyoblos…
Aku mau ngebahas dikit dong perkara politik. Dikit doaaang. Janji deh!

Sunday, July 6, 2014

Hari Hari Pertama Jadi AGM (Anak Gaul Magang)

Wa'alaikumussalam, para pemburu takjil!
Wah, nggak kerasa udah seminggu aja nih kita-kita yang muslim ngejalanin puasa. Gimana ngabuburitnya? Gimana buka barengnya? Gimana sahur on the road-nya? Pasti udah pada ngerencanain itu semua kaaan walaupun puasa baru jalan seminggu~

Ngomongin puasa, ada yang beda sama puasaku tahun ini. Kalau kemarin masih bisa ngerasain sahur, buka, dan taraweh bareng keluarga di rumah, tahun ini aku terpaksa harus melaluinya sendirian :') Karena eh karena, di bulan puasa ini bertepatan sekali dengan bulan di mana aku harus Kerja Praktek (KP) a.k.a magang.

Jadi, di kampusku itu (mungkin kampus lain juga), magang jadi salah satu mata kuliah dan wajib buat diikuti seluruh mahasiswanya. Karena aku kuliah di jurusan Multimedia Broadcasting, otomatis tempat magangku nggak jauh-jauh dong dari dunia itu. Nah, selama Juli sampai September, aku magang di Suara Surabaya Media. Tepatnya di radio SHE. Di sana, aku magang di bagian produksi.

Karena background sekolahku dulu adalah SMA di mana nggak ada pengalaman magang seperti anak SMK, maka waktu mendekati hari H magang aku deg-degan banget. Nervous. Aku udah ngebayangin yang aneh-aneh aja. Kayak takut dimarah-marahin, takut disalah-salahin, woah pokoknya takut-takut nggak jelas gitu lah. Ini semua akibat doktrin dari hestek #AnakMagangSelaluSalah.

Tapi selama dua hari aku magang...
Let the story begin.

Tuesday, June 24, 2014

Postest yang Tidak Biasa

Assalamu'alaikum, para pencari Tuhan! #EdisiMauRamadhan
Kalau dilihat dari arsip blogku, ternyata aku belum pernah ngomongin tentang apa yang kupelajari selama kuliah di jurusan Multimedia Broadcasting (MMB) ini secara gamblang. Hmm, setelah hampir dua tahun aku menetap sebagai mahasiswi paling yuhuu biasa saja di sana, aku pingin membagi cerita tentang, "Gimana sih kuliahnya anak MMB?" Pasti banyak yang penasaran kaaan? Iya kaaan? Iya dooong. #maksabanget

Eh tapi, kalian tahu nggak aku kuliah di kampus mana? Jangan-jangan pada nggak tau..........
Aku kuliah di kampus PENS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Yoi, kampus yang terkenal banget sama robot. TAPI EH TAPI! Multimedia Broadcasting-nya juga nggak kalah famous kok sama robotnya. Buktinya, jurusanku dipercaya banyak instansi -khususnya instansi pendidikan- buat bikinin iklan untuk mereka. Daaan, sudah sering ditayangkan di tipi kalian, loh. Hebat kaaan :')

Oke, back to topic. Jadi, menilik dari masa lalu *halah*, di semester satu sampai dua, aku lebih banyak dikenalkan dengan hal-hal yang berbau multimedia. Seperti contohnya, mata kuliah Publishing yang ngajarin gimana cara bikin poster, brosur, dan advertising things yang kece. Mata kuliah Web Development yang ngajarin tentang HTML5, CSS, dan dunia per-koding-an lainnya yang berhubungan dengan situs web. Ada juga mata kuliah Audio Video Recording & Editing yang ngajarin gimana bikin video yang apik, audio yang nggak ecek-ecek, dan perintilan lainnya. Yang paling seru di semester dua nih, ada mata kuliah Photo & Camera Editing, atau lebih dikenal dengan matkul Fotografi. Di sini, kita diajarin gimana ngatur ISO, shutter speed, diafragma, cara ngambil foto yang keren, dan pastinya diajakin hunting foto sampai ke mana-mana! Asik banget kaaan?

Nah, sementara itu di semester tiga sampai empat, kita, mahasiswa MMB, udah mulai dikenalkan dengan dunia Broadcasting-nya. Kita belajar Sistem Komunikasi, Studio Camera & Lighting, Broadcasting Studio, Multimedia Networking, Dasar Jurnalistik, sampai Studio Aksesoris.
Di blogpost kali ini, aku mau cerita tentang postest (semacam kuis tapi untuk praktikum) menjelang UAS dari matkul Studio Aksesoris yang seru banget. Nih, aku tunjukin spoiler-nya.

Ini postest loh, ya. Bukan main-main iseng di studio.

Jadi...

Thursday, April 24, 2014

Mengapa Kita Copas? (Jawaban dari blogpost 'PEDE = Percaya (sama) Diri (sendiri)')

Halooo khalayak ramai! Hehe maaf yaa akhir-akhir ini jarang ngeblog, abisan tugas kuliah manja banget nggak mau ditinggal. Tapiii tenang aja, karena di blogpost yang ini, aku mau mengulas satu topik yang berkaitan dengan blogpost-ku sebelumnya, yaitu perihal copas.

Ngomongin soal copas, pasti ada yang pro dan yang kontra. Nah, bisa dibilang aku ini masuk ke golongan yang kontra, alasannya apalagi kalau bukan karena aku pernah merasakan menjadi korban pen-copas-an dari pelaku yang tidak bertanggung jawab. Tapi, kita nggak boleh menutup mata dan telinga dengan hanya mendengarkan dari satu sisi saja. Kita juga harus menerima pendapat dari sisi yang lain, yaitu sisi pro. Masih ingat kan, sama blogpost-ku yang berjudul PEDE = Percaya (sama) Diri (sendiri)? Ternyata nih, salah seorang temanku (yang bercakap-cakap lewat sms sama aku di postingan itu), baca blogpost itu dan dia nggak setuju sama postinganku. It's okay, aku malah nyuruh dia buat bikin satu blogpost balasan yang menjawab postingan punyaku. Tapi masalahnya dia nggak punya blog :/

Jadiiii, jalan keluarnya adalah dia nulis pendapatnya dan dikirim melalui email. Di sini, aku akan ngepost pemikirannya dia mengenai copas. Mohon diingat ya, semua yang ada di blog ini adalah pendapat tanpa ada niatan untuk menyinggung atau menyakiti perasaan siapapun. Tapi kalau ada yang tersinggung aku minta maaf, yaaa namanya juga pendapat. Ambil yang baik, buang yang buruk, dan jangan ditelan mentah-mentah, kawan. :))

So, here it is: Mengapa Kita Copas?

Sunday, April 6, 2014

Ngobrol Asik Tanpa Terusik (Gadget)

Halooo! Udah lama nih nggak curhat di blog ini huehe. Maapin yaa karena tugas bejibun dan tiap hari minta ketemu mulu, jadi nggak sempat nengokin blog yang udah berdebu ini. :( *sapuin blog*

Anyway, barusan aku jalan nih sama seorang temen lama. Aku hampir lupa kalau ternyata dia juga menimba ilmu di kota rantau yang sama kayak aku. Singkat cerita, gara-gara chat fesbuk yang lupa nggak aku off-in, dia nyapa dan akhirnya janjianlah kita buat ketemu dan bagi-bagi cerita.

Biasanya nih ya, kalau kita ketemu sama temen yang udah lama nggak ketemu, seringnya kita nggak tau harus mulai obrolan dari mana. Canggung, nggak bisa langsung ceplas-ceplos, dan banyak deh ke-kikuk-an lainnya. Tapi, dengan temenku yang satu ini, perasaan kayak gitu berasa sirna. Nggak ada tuh yang namanya canggung, apalagi sampe awkward silence. Begitu ketemu di depan pagar kosan aja langsung haha hihi.

Nah, kalian pernah nggak sih, jalan sama temen (entah yang udah lama ketemu maupun yang biasa ketemu sehari-hari), trus pas kamunya ngobrol malah dicuekin sama temenmu yang asik mainan hengpon atau gadget lainnya? Beuh, aku sering tuh ngalamin yang kayak gitu. Kadang nih ya, aku udah cerita panjang lebar eh taunya cuman direspon, "Gimana gimana? Aku nggak fokus nih hehe.." YAIYALAH GIMANA MAU FOKUS WONG FOKUSMU KE LAYAR GEJET! #SoriCapslockJebol #MakluminLagiEmosi

Kamu kamu yang sering ngalamin kejadian kayak gitu pastinya kesel banget dong. Gimana nggak kesel, kita udah mangap-mangap sampe berbusa eh taunya yang diajak ngomong malah nggak perhatiin muka kita, apalagi merhatiin cerita. Mata lawan bicara malah tertuju ke layar hengpon. Lama-lama hengpon dia ditaruh di jidat kita juga nih, biar kalau kita ngomong diperhatiin. Hih.

Thursday, February 27, 2014

Kangen yang Dulu #27

Hai, Bat!
Udah lama ya kita nggak jalan berdua kaya tadi. Entah cuman perasaanku aja atau gimana, tapi kayanya setelah lama kita nggak ketemu, rasanya agak kaku gitu ya waktu kita ketemu lagi tadi. Apa semua karena kita sudah jarang komunikasi? Ah, hidup memang sulit dimengerti ya, Bat.

Sebenernya Bat, banyak yang pengen aku ceritain sama kamu. Tapi ya itu tadi, aku bingung harus mulai cerita dari mana, saking lamanya kita nggak berjumpa. Lagipula, sepertinya di antara kita sudah mulai ada jarak di mana kamu juga aku nggak bisa cerita semua-muanya secara gamblang kaya dulu. Aku belum tau sih, apa yang bikin persahabatan kita (sepertinya) merenggang. Padahal, dulu apa-apa kita bagi. Hal-hal nggak penting aja diceritain. Tapi sekarang sudah beda ya, Bat.

Aku kangen loh saat-saat kita menggila trus geje-gejean di mana aja. Dulu nih, mau di rumah kek, di sekolah kek, di jalan kek, di kafe kek, di manaaa aja kita pasti ketawa-ketawa nggak jelas (padahal juga nggak ada yang lucu yang patut ditertawakan). Tapi sekarang beda banget ya, Bat. Bahkan sampai ada awkward silence gitu di antara kita.

Dulu juga kalau kita teleponan pasti nggak pernah kehabisan bahan obrolan. Waktu BBM-an atau chat lainnya juga. Tapi sekarang beda. Malah kayanya sudah nggak ada lagi bahan obrolan yang bisa memperpanjang waktu ngobrol kita. Ini semua cuman aku yang ngerasain atau gimana, Bat? Atau mungkin aku yang terlalu sensitif kali, ya?

Sesungguhnya aku pengen kaya orang-orang lain, Bat, yang bisa tetep rame dan punya banyak cerita yang mau dibagi sama sahabatnya ketika mereka sudah lama nggak bertatap muka secara langsung. Tapi entahlah, kayanya aku nggak mahir deh melakukan hal semacam itu. Selalu ada perasaan canggung saat aku dan teman lama yang udah jarang ketemu akhirnya menyisakan sedikit waktu untuk ngobrol langsung. Aku benci hal-hal seperti itu, Bat. Aku pengen punya persahabatan yang kaya di film-film. Yang tetep asik dan seru walau dimakan waktu.

Seberbeda apapun persahabatan kita yang sekarang dan yang dulu, aku cuman pengen satu hal yang nggak berubah: ketulusan kita bersahabat. Tenang aja, Bat, aku nggak akan ke mana-mana kalau kamu butuh tempat buat cerita. Nomor hapeku masih yang sudah kamu simpan, akun twitterku juga masih ada di daftar followersmu. Jadi kalau kamu pengen berbagi suka duka, aku siap kok. Yah, walaupun klise, tapi buatku kalimat kalau kamu bahagia aku pun bahagia itu berlaku buat semua sahabat-sahabat yang kusayangi. Termasuk kamu, Bat.

Jadilah lelaki yang baik ya, Bat. Yang bisa kubanggakan karena memiliki sahabat yang gentleman sepertimu. Aku percaya kok kamu nggak akan ngecewain aku dan harapanku. Dan terima kasih buat traktirannya hari ini. Lain kali aku yang nraktir kalau kamu main ke Surabaya. :D



Pasuruan, 27 Februari 2014.
Dari cuhubutmu yang kangen masa-masa gila sebelum kita berjauhan.

Tuesday, February 25, 2014

Aku Suka Untuk Februari-mu #25

Hai, kak Tiwi (maaf aku sok kenal, tapi apakah benar begitu panggilanmu?).
Aku dan kau memang sama-sama tidak saling kenal, kak. Tapi begitu aku membaca suratmu yang kau tujukan kepada Februari, entah mengapa rasanya aku tidak asing denganmu. Kata demi kata yang kau rangkai memang sederhana, namun indah dan mendatangkan candu untuk terus membacanya.

Sebelumnya, perkenankan aku mengenalkan diri. Kak Tiwi bisa panggil aku Nindy, kebetulan kita berdiam di kota yang sama, kak. Mungkin melalui surat yang kukirim lewat PosCinta, kita bisa menjalin silaturahmi dan bertukar ide mengenai dunia tulis menulis dengan lebih mudah mengingat kakak dan aku tinggal di satu kota (aku menimba ilmu di kota tempatmu tinggal, kak).

Oh ya kak, perihal Februari, kita punya kesamaan. Februari mengajarkanku hal-hal baru jauh lebih banyak dibanding bulan-bulan lain, yang notabene memiliki hari lebih lama. Walau Februari hanya sampai dua puluh delapan saja, tapi hingga dua puluh lima Februariku ini, aku justru sudah belajar banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang tak bisa dibayar dengan uang. Bukankah kak Tiwi juga merasa seperti itu? Rupanya hal ini rahasia Tuhan yang lain, ya, kak.

Teruslah menulis, kak Tiwi. Maaf jika aku lancang mengirimimu surat seperti ini. Senang bisa menemukan orang dengan minat yang sama dari kota tempat tinggal yang sama pula.



Pasuruan, 25 Februari 2014.
Dari yang (merasa) punya beberapa kesamaan denganmu.

Friday, February 21, 2014

Kita Harus Bertemu #21

Hai, Ayuuuuuk!
Di akun instagram-mu tadi, kamu nyuruh aku buat bikin surat untukmu. Nih, Yuk, aku bikinin surat. :p
Ini hari Jum'at, dan harusnya hari ini aku menulis surat kaleng dan mengirimkannya ke email PosCinta, tapi aku putuskan untuk cuti dulu nulis surat kalengnya. Hari ini, khusus kutuliskan surat untukmu, hai mantan teman sekamar.

Kamu di sana apa kabar, Yuk? Mungkin ini memang pertanyaan klise sih, tapi beneran loh, kamu apa kabar? Tinggal sendirian di kamar kos serem nggak? Trus kalau kamu mau curhat-curhat tentang, yah, you-know-who, curhatnya sama siapa? Yang nemenin kamu cari makan siapa? Masih nggak mau matiin lampu kalau tidur? Trus kalau nganggur di kosan, kamu ngapain, Yuk? Nonton film sendirian, baca novelnya Agatha Christie yang dulu selalu kupinjam, atau main ke temen kamar sebelah?

Nih, ada satu pertanyaan puncak nih buat kamu, Yuk: Kalau malam minggu siapa yang nemenin? Hahaha, inget kan ya, dulu setiap malam minggu kalau kita lagi sama-sama nggak pulang kampung, kita pasti bakalan ngemal trus ngecengin anak-anak yang pacaran? Duh, sekarang kalau malam minggu dan aku lagi di kos, aku bingung banget Yuk harus ngajak siapa buat jalan ngecengin anak pacaran. Yah, kamu tau sendiri kan, Yesi pasti udah banyak rencana sama temen-temen SMP/SMAnya atau nggak malah pacaran sama Derry. Sarah, setiap nggak pulang, adaaaa aja acaranya entah sama saudaranya atau sama gebetan-gebetan nggak jelasnya. Ravita? Kita semua sudah sama-sama tau kan, Ravita anaknya rumahan banget dan suka nggak tau arah jalan. Jadi aku selalu ngaplo di kamar dan membusuk semalaman, Yuk. Menyedihkan sekali, bukan?

Maret nanti kalau kamu pulang ke Kediri dalam rangka liburan, kamu harus nyediain waktu buat jalan sama kita-kita di Surabaya, Yuk! Aku kan dulu sudah pernah bilang mau ngajak kamu ke tempat-tempat seru, trus foto ke studio yang kutunjukkin di TP terakhir kita jalan berempat dulu. Pokoknya, kamu-aku-dan lainnya harus temu kangen sampai kangennya tersampaikan! (yaaah, walaupun nggak akan pernah habis rasa kangenku buatmu #halah)

Bawain aku oleh-oleh jajan Yupi dan nasgor ya, kak! Hehehe... (ala Anya)



Pasuruan, 21 Februari 2014.
Dari cahabatmu yang kata orang-orang nyebelin.

Thursday, February 20, 2014

Cie, Berkepala Dua Nih #20

Hai, Romaaa.
Hari ini kamu mengulang hari kelahiran yang ke-20 kalinya, loh! Gimana, Rom, rasanya jadi makin tua? Siap nggak, menempuh umur dua puluh yang kata orang-orang bakalan kerasa cepet banget berjalannya?

Maaf ya, Rom, di hari spesialmu ini aku belum bisa ngasih kado layaknya orang-orang yang sedang berulangtahun lainnya dapatkan. Tapi, sebagai teman yang baik, aku, Ravita, Yesi, dan Sarah nggak akan melewatkan ulang tahunmu begitu saja. Kamu harus lihat video yang sudah kita buat, yaa. Toh, tadi kamu ada di sana kan waktu kami bikin videonya. Kurang romantis apa coba teman-temanmu ini, Rom.

Rom, ingat nggak, hari ini di bus kamu jejogetan aneh waktu lagu Oplosan diputar di bus. Apakah ini pertanda bahwa kamu sudah siap menjadi tua, wahai Roma? Aku tidak tau. Hanya kamu dan rumput bergoyang saja yang tau.

Sekali lagi, selamat menua ya, Romaaaa!



Solo, 20 Februari 2014.
Dari temanmu yang paling romantis.

Wednesday, February 19, 2014

Cepat Sembuh, Mas! #19

Hai, mas Widi. Perkenalkan, aku Nindy, salah seorang dari banyak mahasiswa yang tadi mengunjungi tempat kerjamu. Awal aku memasuki ruangan di mana kau menunggu kami untuk memberikan materi company profile perusahaanmu, jujur saja, aku terkejut. Aku merasa tak asing dengan wajahmu. Kacamata itu, terasa familiar. Lalu aku mulai mengingat-ingat siapakah namamu.

Setelah rekanmu memperkenalkan diri (dan memperkenalkanmu), aku baru mengingatmu. Setelah panjang lebar kau jelaskan ini itu, kau juga mengatakan suatu hal yang makin menguatkan ingatanku. Pantas saja kau tak asing bagiku.

Tapi mas, tadi kondisimu tidak begitu sehat. Ada dua penyangga badan yang kau gunakan untuk membantumu berjalan. Aku biasa menyebutnya krek. Aku penasaran mengapa kau seperti itu. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menanyakannya langsung padamu.

Semoga kau lekas sembuh ya, mas Widi. Sukses dengan karirmu. Dan terima kasih karena telah memberiku dan teman-temanku ilmu baru yang bermanfaat.



Purwakarta, 19 Februari 2014.
Dari yang sudah lama mengagumimu.

Thursday, February 13, 2014

Senyum Terakhirmu #13

Hai, Mai!
Sudah berapa lama kita nggak ketemu? Terhitung sejak sapaan terakhirmu, ini sudah empat tahun lebih ya, Mai. Kangen nggak sama aku? Hahaha, aku kangen ngejailin kamu dan rambutmu yang aneh itu, Mai. Masih inget kan, gimana aku dan Elita masuk-masukin sisa-sisa penghapus sama staples ke rambutmu, trus kamu bilang, "Woi woi! Aduuuuh..." sambil ketawa-tawa kecil geje trus acak-acak rambutmu biar "sampah" tadi hilang. Aku sama Elita cuman bisa ngakak dan nggak berhenti ngejailin kamu, Mai.

Oh ya, Mai, inget nggak waktu Elita bilang, "Mai, ada pemain FTV yang mukanya mirip kamu!" trus kamu senyum-senyum geje (kapan sih, kamu nggak senyum-senyum geje?) lalu tanya, "Hah iyotah, El? Sopo emang?" Trus Elita jawab namanya Guntur. Dan sejak itu aku dan Elita sering panggil kamu Geledek, gara-gara kamu mirip orang yang namanya Guntur itu. Huahaha, yang bikin lebih lucu adalah karena kamu ngakuin kalau kamu emang mirip Guntur. Konyol tau, Mai. :D

Kalau ada yang panggil kamu Mai, selain aku dan Elita, itu pasti Papai, pasanganmu, Mai. :p Hahaha, nggak ngerti kenapa kita dulu bisa gila banget bikin keluarga yang terdiri dari kamu sebagai Mamai, Papai, Mbah, dan anak-anaknya adalah aku sama Elita. Trus kekeluargaan kita kusebarluaskan di tempat les, sehingga mbak Ninda dan beberapa tentor lainnya ikutan manggil kamu Mai. Duh, Mai, kangen nggak sih waktu ketawa-tawa ngakak karena kita sekeluarga ngelakuin hal-hal nggak jelas yang semestinya nggak lucu dan nggak pantes buat ditertawain tapi kita malah ketawa-tawa sendiri? Aku kangen, loh.

Aku juga masih inget, Mai, seminggu sebelum kamu bener-bener pergi, kamu ngasih aku 'kenangan' yang nggak biasa. Hari Senin sepulang sekolah, waktu aku nunggu jemputan di depan gerbang, aku masih inget banget kamu dan motormu yang lebih gede daripada ukuran badanmu sendiri, tiba-tiba nangkring di depanku. Kamu berhenti sebentar sebelum lanjutin perjalanan pulang, lengkap dengan senyummu yang nggak pernah nggak geje. Trus aku bilang, "Lapo, Mai?" dan kamu jawab, "Nggak, nggak popo." Setelah senyum-senyum geje yang bikin aku ikutan senyum geje juga, kamu akhirnya mutusin buat lanjut pulang. "Mulih sek, yo!"
Hari Selasa (atau mungkin Rabu, aku lupa), masih setelah pulang sekolah, selepas aku jemput Elita di kelasnya, aku dan Elita lihat kamu berdiri dengan tatapan kosong di depan wastafel sebelah laboratorium fisika. Aku sama Elita yang nggak biasanya lihat kamu kayak gitu, otomatis nyapa dong. Kita tanya, "Kenapa, Mai?" kamu masih belum sadar dari kebengonganmu. Lalu kita ngagetin kamu dengan, "Woi, Mai!" Kamu cuman senyum tipis yang dipaksakan, dan geleng-geleng kecil.

Setelah itu, aku lupa kapan terakhir aku ngece kamu dengan motor gedemu. Tapi di Jum'at siang tanggal 11 Desember 2009, di sela tidurku buat ngisi energi sebelum les, aku dibangunkan oleh sebuah pesan singkat yang kuterima dari Hilal dengan isi yang nggak aku ngerti maksudnya apa. Aku diem, bengong, langsung ngambil posisi duduk begitu aku baca smsnya. Setelah aku bales smsnya Hilal dan dia ngasih penjelasan, saat itu aku bener-bener bengong nggak percaya. Aku masih diem. Nggak lama, Elita nelpon dan bilang kalau kabar itu bener. Bahkan sekarang temen-temen yang lain sudah berada di rumah sakit. Nggak pake pikir panjang, langsung aja aku ganti baju dan meluncur ke rumah Elita. Sesampainya di rumah sakit, aku lihat Imam yang nangis sesenggukan di depan UGD. Aku lemes.

Lihat tubuhmu udah terbujur kaku di ruang jenazah, air mataku udah nggak terbendung lagi, Mai. Aku nggak percaya yang ada di sana itu kamu, Galih Raditya Pratama, Mamai-ku, temen yang selalu kujailin semasa sekolah. Helm yang kamu pakai waktu itu, udah penuh darah. Aku makin nangis ngeliatnya. Beruntung, ada Elita dan Bu Mus, guru bahasa Indonesia favorit kita, yang nenangin dan yakinin aku kalau kamu sudah bahagia di sana. Aku masih sempat lihat senyum terakhirmu di ruangan yang seram itu, Mai. Kamu tersenyum, sama seperti senyuman yang kamu beri buat aku dan Elita beberapa hari sebelum kamu pergi.

Aku nggak pernah nyangka, sapaan dan candaan di hari Senin itu bakal jadi yang terakhir yang kuterima darimu, Mai. Tapi aku bersyukur, kamu ngasih aku kenangan yang nggak bakal kulupain itu. Sekarang, sudah nggak ada lagi Mamai yang bisa kuusilin rambutnya, yang bisa kuajak debat masalah lagu, yang cerita masalah hal-hal nggak penting sama aku. Seandainya kamu masih sama-sama kita di sini, mungkin kamu sudah satu kampus sama Edo, Gani, Fajrin, dan temen-temen lainnya di kampus impianmu, Mai. Mungkin kita masih bisa bercanda lagi di kota orang. Tapi 'andai' akan tetap menjadi andai.

Kita nggak berpisah untuk selamanya kok, Mai. Hanya sampai nanti kita bertemu lagi. Kangen nih. Surga pasti memberimu lebih banyak kebahagiaan dibanding yang kamu rasa di sini.

Foto ini kuambil di atas kapal dalam perjalanan menuju Bali. Coba lihat gayamu, Mai, tetep sok jutek. :p



Pasuruan, 13 Februari 2014.
Dari yang selalu nangis ketika dengerin Lagu Untuk Riri-nya RAN.

Tuesday, February 11, 2014

Semangat Ya, Mbak! #11

Kepada mbak berbaju hangat hijau keabu-abuan di foto ini...


Sebelumnya, aku minta maaf karena lancang mengambil gambarmu yang sedang menikmati sarapan tanpa izin. Aku tidak mengenalmu, mbak, begitupula denganmu. Aku masih ingat, di pagi itu aku sedang menunggu pesanan siomay-ku di Taman Bungkul bersama Ayu. Dengan kamera yang kukalungkan (aku sedang dalam tugas kuliah fotografi bertemakan human interest), mataku menangkap sosokmu yang sedang menunggu pembeli datang. Si Mbak menjajakan pakaian-pakaian yang dibiarkan tergantung di pinggirmu. Sesekali wanita-wanita muda berhenti, mendekat, dan memilah-milih baju daganganmu. Tapi tak seorangpun membuka dompetnya untukmu, mbak.

Mungkin kau lelah berdiri terus-menerus menata dagangan, maka kau putuskan untuk beristirahat barang sebentar. Kau membuka sebungkus nasi pecel yang (mungkin) kau beli dari ibu pedangan pecel ponorogo di seberang lapakmu. Melihatmu makan dengan lahap, aku yakin kau pasti belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutmu ketika berangkat berdagang pagi tadi.

Kita memang tidak saling mengenal, mbak, tapi aku salut padamu. Kau masih begitu muda, mungkin seumuran denganku, mungkin juga lebih tua beberapa tahun. Jika boleh menebak, mungkin kegiatanmu di Minggu pagi itu adalah salah satu selingan untuk sekadar mencari uang jajan tambahan, mungkin juga tidak. Well, apapun tujuanmu berdagang, aku hanya bisa menyemangatimu dari kejauhan, mbak.

Semoga daganganmu laris manis ya, mbak, sepertimu yang manis dengan wajah tertutup topi merah jambu dan rambut terikat.



Pasuruan, 11 Februari 2014.
Dari aku yang suka memperhatikan sekeliling.

Thursday, February 6, 2014

Teruntuk Wanita yang Tenaganya Tidak Pernah Habis #6

Assalamu'alaikum, wanita hebat yang selalu ada untukku.

Mama, begitu aku memanggilmu. Mungkin kata itu pula yang keluar pertama kali dari mulutku saat aku mulai bisa berucap. Tapi surat ini bukan perkara bagaimana aku memanggilmu, ma, atau mengapa aku memanggilmu mama, bukannya ibu, bunda, atau bahkan mommy.

Ma, aku bangga memiliki mama yang super tangguh sepertimu. Di usia papa yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja lagi, kaulah yang selama ini membiayaiku dan adik sekolah, memberiku uang jajan, membelikanku ini dan itu, sekaligus masih menjadi mama yang menangani segala keperluan rumah. Aku tahu itu tidak mudah bagimu, ma, karena mama pasti lelah sekali menanggung semuanya sendiri. Belum lagi ketika ada keperluan kuliah yang mendadak, yang mengharuskanku meminta lagi pada mama. Sebenarnya ma, hati ini tidak pernah tega mengatakan kalimat demi kalimat penuh permintaan kepadamu. Aku tidak ingin selalu mengandalkan mama, aku ingin mama yang mengandalkanku.

Dahulu, saat pikiranku tak sestabil ini, aku sering sekali ngambek saat mama tidak memberikan apa yang kuingin. Mama memang selalu mengajarkanku untuk berusaha dengan kemampuanku sendiri demi mendapat apa yang kumau. Mana pernah mama langsung mengiyakan ketika aku menginginkan sesuatu? Seperti saat aku menginginkan kamera yang kuidam-idamkan sejak lama, alih-alih membelikan, mama malah berkata, "Iya nanti mama belikan, kalau kamu ranking satu." Dan benar saja, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan kamera yang kini kumiliki. Tapi apa yang selalu mama ajarkan padaku selama ini membawa dampak positif padaku, ma. Aku jadi tidak meremehkan sekecil apapun usaha. Aku jadi selalu termotivasi untuk tetap terus berusaha lebih dan lebih demi mendapatkan sesuatu, bukannya santai-santai dan tinggal tunjuk.

Tetapi, kini dengan semakin bertambahnya usia, aku menyadari, bahwa ngambek ketika keinginanku tidak terpenuhi saat itu juga adalah hal konyol yang kekanak-kanakan. Sekarang, untuk meminta sesuatu pada mama, aku berpikir seribu kali. Aku akan berusaha mendapatkan sesuatu dengan usahaku sendiri. Dengan uangku sendiri. Aku tidak setega itu untuk meminta terus-menerus pada mama. Masih banyak hal lain yang membutuhkan dana tidak sedikit untuk mama tangani. Aku sadar itu, ma. Maka dari itu, aku tidak berani memberitahu mama tentang biaya study excursie. Aku ingin berusaha dahulu.

Mama tidak mengenal kata capek. Selepas kerja, mama bukannya beristirahat tapi malah membuatkanku makan siang. Saat mama terlelap, aku sering memerhatikan raut muka mama. Raut muka lelah, yang tak lagi sesegar dulu, yang tak lagi muda, yang kini mulai dihiasi keriput kecil. Bagaimana bisa aku tidak meneteskan air mata melihat wajah kelelahan itu? Bagaimana bisa aku tidak memikirkan beban yang mama pikirkan? Seperti mama yang selalu ada saat aku sedang dalam keadaan apapun, aku berjanji juga akan selalu ada saat mama membutuhkanku untuk sekadar berbagi lelah.

Tidak ada sahabat terbaik di dunia selain mama. Siapa yang akan kutelepon pertama kali ketika aku membutuhkan seseorang untuk meluapkan rasa sesak dalam dada jika bukan mama? Siapa yang akan meneleponku pertama kali ketika aku tak segera pulang padahal hari sudah malam jika bukan mama? Siapa yang akan mengingatkanku pertama kali untuk tidak terlambat makan dan minum obat saat aku sedang sakit jika bukan mama? Di kota orang, aku tidak bisa mendapatkan perhatian mama sebanyak jika aku sedang berada di rumah. Itulah mengapa aku selalu ingin pulang ke rumah saat akhir pekan tiba, ma.

Ma, mama selalu menyebutku gadis tomboy. Sekali waktu ketika aku minta dibelikan lipstick padamu, mama bilang, "Duh, kamu kalau pake lipstick ntar kayak banci, mbak." Tentu saja aku merengut, namun kemudian kita tertawa bersama di depan mbak sales promotion girl yang memandangiku dengan senyum lebar. Pernah juga saat aku merajuk minta dibelikan rok, mama malah berkata, "Percuma, nanti nggak kamu pake." Hahaha, mungkin memang benar sih, ma, tapi kan aku juga ingin seperti gadis-gadis lain di luar sana yang tampil anggun dengan memakai rok.

Ma, anak perempuanmu yang manja ini sekarang sedang dalam proses menuju dewasa. Mungkin aku belum sedewasa wanita-wanita lain di luar sana, tapi sedang kuusahakan supaya aku tidak lagi manja dan cengeng. Aku senang ketika aku bercerita betapa menyebalkannya hariku pada mama melalui telepon, mama berkata, "Nggak apa-apa, mbak. Ini kamu lagi diuji sama Allah, bisa nggak kamu nyelesein masalah kayak gini. Kamu kan calon pemimpin. Tapi kamu sudah lumayan berubah lho, mbak. Dulu dikit-dikit nangis, sekarang sudah lebih tegar." Berarti aku sudah bukanlah gadis kecil mama yang cengeng lagi ya, ma? :")

Ketegaranku kupelajari darimu, ma. Mama selalu tabah dan tegar menghadapi segala rupa masalah. Dari luar, mungkin mama mengira aku tidak peduli, cuek, dengan apa yang sedang mama alami. Tapi sejujurnya ma, aku sedang berusaha mencari solusi terbaik untuk meringankan beban mama. Aku bersedia menjadi tempat mama membagi beban hidup, apapun itu. Apalah gunanya mama melahirkan anak perempuan jika tidak dapat membantumu, ma.

Memilikimu sebagai mamaku membuatku merasa menjadi anak paling beruntung sedunia, ma. Bagaimana tidak, apapun cerita dan permasalahanku, mama selalu sedia menjadi sosok pendengar yang baik. Aku tidak segan menceritakan apa saja yang ingin kuceritakan, termasuk siapa lelaki yang sedang kusuka saat ini, apa yang terjadi dalam dunia perkuliahanku, bahkan selain mendengarkan cerita-ceritaku yang tidak penting, mama juga menemaniku nonton konser band favorit dan ikut menyanyi seolah-olah mama juga penggemarnya. Hal menyenangkan lainnya adalah mama juga memiliki selera fashion yang menarik, sehingga banyak baju-baju keren mama ketika muda yang dapat kupakai kembali di masa kini. Aku memang beruntung punya mama seperti mama.

Mama, kau memang seorang wonder woman dalam arti yang sesungguhnya. Alhamdulillah, Allah memberi seorang malaikat seperti mama dalam kehidupanku. Terima kasih telah membiarkanku berada dalam perut mama selama sembilan bulan. Terima kasih telah memberiku asupan gizi terbaik. Terima kasih telah mendidikku dengan baik. Terima kasih telah menjadi sahabat pertama yang tidak pernah menghilang. Terima kasih untuk segala doa yang tak pernah putus kau panjatkan padaNya. Terima kasih karena menjadi mamaku, mama yang cantik dan baik. Jagalah kesehatan, jangan mama sakit-sakitan lagi. Mama jangan capek-capek, istirahatlah secukupnya. Makanlah yang teratur, ma. Maaf karena aku masih sering membuat mama marah dan menangis. Maaf karena belum bisa menjadi anak yang patut dibanggakan. Tunggulah saat ketika impian dan cita-citaku terwujud, sehingga suatu hari nanti mama dapat melihatku tumbuh menjadi seorang wanita sukses dan bisa kau banggakan.



Pasuruan, 6 Februari 2014.
Dari anak sulungmu yang menyayangimu melebihi apapun.

Saturday, February 1, 2014

Surat Pertama untuk Papa #1

Assalamu'alaikum, papa.
Surat ini adalah surat pertama yang kutulis untuk papa. Juga surat pertama dari serangkaian surat-surat yang akan kutulis dalam #30HariMenulisSuratCinta oleh @PosCinta. Semoga papa tidak mengoreksi tulisanku, ya. Mengingat papa adalah seorang penulis yang menjadi inspirasiku menulis selama ini.

Papa, sudah sembilan belas tahun sekian hari aku menjadi anak gadismu. Semakin kuberanjak dewasa, rasanya kedekatan kita semakin merenggang, tak lagi seperti dahulu. Aku ingat, bagaimana papa selalu mengajakku pergi ke tempat baru, mengajakku ke toko buku dan membiarkanku memilih buku apapun yang kusuka, mengajakku ke tempat penuh misteri (karena kita menyukai hal-hal berbau misteri, tentunya), mengajakku ke pameran lukisan di gedung Balai Pemuda Surabaya, mengajakku ke sanggar budaya milik teman papa, mengajakku ke taman bermain, dan masih banyak lagi. Masihkah papa mengingatnya?

Sekarang, ketika usiaku sudah terbilang remaja, papa lebih suka menjagaku dari kejauhan. Papa sering sekali bertanya ke mana aku akan pergi, dengan siapa, pulang jam berapa. Bahkan tak jarang papa menawariku tumpangan menuju tempat yang sudah kutentukan bersama teman-temanku. Aku tidak pernah menolaknya, kecuali memang salah seorang teman sudah memberiku tumpangan menuju sana. Aku juga tidak pernah malu saat papa menemaniku ke mana saja, malahan aku merasa senang karena tidak banyak anak-anak di luar sana yang diperhatikan oleh papanya sedemikian rupa.

Kadang papa memang menjengkelkan. Melarangku ini-itu, menggodaku dengan kalimat-kalimat papa yang khas, namun memang seperti itulah karakteristik orang tua. Aku tahu mungkin papa mengkhawatirkanku, tidak menginginkan aku berbuat suatu hal yang menurut papa keliru, ingin menjagaku dari dunia yang kejam. Tapi papa, bolehkan aku sedikit saja mencoba hal-hal yang menurutku benar. Aku sudah se-dewasa ini, tentunya aku bisa menentukan mana yang benar dan yang tidak, iya kan, pa?

Walau papa seringkali berusaha menyembunyikan bentuk perhatian papa dariku, aku selalu berhasil mengetahuinya, pa. Ketika aku sedang berada jauh dari papa dan sedang tidak sehat, mama selalu menelpon dan menanyakan sudahkah aku meminum obat? Sudahkah aku makan? Mama juga selalu mengingatkan untuk aku menjaga kesehatanku karena tidak akan ada yang bisa merawatku ketika sakit di perantauan. Namun aku tahu, di balik semua itu, papa kan yang mengingatkan mama agar segera menghubungiku, bukan begitu, pa? Anakmu ini tahu, perhatian papa tidak bisa segamblang mama.

Selain memberiku inspirasi menulis, pengetahuan dan selera musikku juga banyak dipengaruhi papa. Sejak aku kecil, papa selalu memutarkanku lagu-lagu dari The Beatles, Rolling Stones, Deep Purple, Ella Fitzgerald, Selena Jones, dan masih banyak musisi lainnya. Tidak hanya lagu-lagu dari musisi tersebut, papa juga mengenalkanku dengan lagu-lagu beraliran Jazz, Country, Rock n Roll, juga Pop. Berkat papa, kini wawasan musikku bertambah (memang lebih ke lagu-lagu jadul, sih). Selera musikku juga tidak jauh dari apa yang sudah kudengar selama ini. Aku tumbuh dengan kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan oleh musisi mancanegara legendaris.

Aku juga beruntung karena papa memiliki banyak barang-barang keren. Papa punya sepatu boots dengan merek ternama yang untuk saat ini belum bisa kujangkau jika aku membelinya dengan uang milikku sendiri. Namun papa tahu apa yang kuinginkan. Papa rela mencuci kembali sepatu boots milik papa agar aku dapat memakainya. Yah, walaupun aku harus kecewa karena sepatu itu sedikit kebesaran di kakiku.

Papa, papa memang sudah tidak lagi semuda dulu. Maaf bila selama ini aku sering mengecewakanmu, membuatmu marah, dan belum bisa membanggakanmu. Terima kasih karena telah menjadi papaku yang memberiku banyak sekali hal yang mungkin tidak dapat kujabarkan satu persatu di surat ini. Terima kasih karena mendidikku dengan baik. Terima kasih karena masih memberiku perhatian-perhatian di usiaku saat ini. Kumohon tunggulah saat di mana aku akan berdiri tegak dengan kesuksesanku dan memberimu sesuatu untuk dibanggakan. Kumohon jagalah kesehatanmu, agar papa bisa melihatku bahagia dengan pasanganku suatu hari nanti di pelaminan. Berhentilah merokok, papa. Bukan maksudku ingin menjadi anak yang durhaka dengan sering menyembunyikan rokokmu, aku hanya tidak ingin papa sakit-sakitan. Aku ingin papa tetap sehat dan menemani cucu-cucu papa bermain di waktu yang akan datang.



Pasuruan, 1 Februari 2013.
Dari anak gadismu yang menyayangimu.

Sunday, January 19, 2014

Cabe-cabean

Hari gini, pasti nggak asing dong sama tulisan di atas? Mungkin emang nggak asing, sering denger bahkan. Tapi tau nggak sih, apa makna dari cabe-cabean?

Kalian pasti pada nggak nyangka, kalau arti sebenarnya dari cabe-cabean adalah gebetan; cem-ceman. Bukan seperti yang banyak diberitakan akhir-akhir ini yang artinya jadi sedikit, ehm bukan sedikit sih, jadi buruk dan terkesan 'nakal'. Yang orang-orang tau kan cabe-cabean ini cewe alay yang jadi bahan taruhan di arena balap liar, atau cewe yang suka pake baju kurang bahan dan dandanannya enggak banget. Yah, kalau aku perhatiin sih, cabe-cabean di sini mulai mengalami pergeseran makna dengan arti yang lebih rendah dari sebelumnya, atau istilah kerennya sih, peyorasi.

Tuh, "cabe-cabean" sama "alay" udah mulai bergeser maknanya.

Nggak, aku di sini bukan mau ngejabarin arti sesungguhnya cabe-cabean bak wikipedia dan sejenisnya, aku cuman mau ngutarain pendapat aja mengenai cabe-cabean yang lagi happening ini.
Awalnya sih, nggak pernah kepikiran buat ngebahas cabe-cabean di blog. Malah kupikir, cabe-cabean itu overrated. Dibahaaaas mulu di mana-mana. Bahkan kayanya nih, saking booming-nya, acara-acara talk show di teve ngangkat topik cabe-cabean buat acaranya. Nggak ngerti lagi deh.

Alasanku akhirnya nulis perihal cabe-cabean di blog, gara-garanya tadi habis nonton satu acara talk show gitu di teve, yang ngebahas masalah cabe-cabean. Narasumbernya mulai dari pemerhati cabe-cabean (what?), si pelaku cabe-cabean, joki balap motor, sampe ketua komisi perlindungan anak, psikolog, dan selebriti yang juga berperan sebagai orang tua.

Dari pemerhati cabe-cabean, aku dapat istilah-istilah baru yang gokil: cabe rawit, cabe racing, cabe karambol, terong balado, dan.....................terong dicabein. Kalau yang terlintas di pikiran kalian setelah baca ini adalah makanan, kita di sisi yang sama. Istilahnya lucu-lucu, ya. Salah satu bukti kalau remaja Indonesia ini kreatif dalam menciptakan kosa kata baru.

Oke, biar kalian nggak penasaran, aku coba jelasin satu persatu *setauku* tentang istilah tadi.

Friday, January 17, 2014

Hello, Nineteen!

Halo semuaaa! Akhirnya punya kesempatan buat ceritain tiga belas Januari-ku yang kesembilan belas. Yay!

Nah, jadi begini...
Pas bulan Desember, kira-kira pertengahan bulan, teman-temanku udah pada semangat menyambut tahun baru. Yesi sering bilang, "Duh, udah tanggal 20 ya... Hmm nggak sabar bentar lagi tahun baruuuu..." Teman lainnya juga kurang lebih menunggu hal yang sama. Kayanya sih cuman aku yang nggak excited sama sekali menyambut pergantian tahun. Malah penginnya Januari jangan cepat-cepat datang. Nggak biasanya emang. Dulu nih, Januari adalah bulan yang paling kutunggu kedatangannya. Ya tentu aja karena aku ulang tahun di bulan Januari.

Trus, kenapa dong aku nggak se-excited biasanya dalam menyambut Januari?
Hmm, awalnya sih, aku mikir "Ulang tahun yang ini pasti nggak istimewa lah. Biasa aja pasti." Nah dengan pemikiranku yang kaya gitu, alhasil hari-hari menuju ulang tahunku pun kulalui dengan biasa saja. Nggak ada semangat-semangatnya, nggak ngebayangin ntar mau ngapain di tanggal tiga belas, nggak minta kado ini itu ke mama papa, nggak berharap banyak lah pokoknya. Lempeng aja gitu.

Pas hari-H, aku yang biasanya nge-aktifin paket BIS (BlackBerry Internet Service) pas ulang tahun, sengaja nggak beli pulsa biar nggak tergoda nge-aktifin paketan. Selain karena nanti kalau aku aktifin paketnya BBMku bakalan dibajak sama Ika dengan ngirim broadcast message geje nan memalukan, aku juga pengin tahu, siapa aja sih yang masih inget ulang tahunku dan berusaha ngucapin. Alhamdulillah melalui cara ini, pertanyaanku tadi terjawab.

Yang ngucapin selamat ulang tahun memang nggak seberapa banyak, tapi ya inilah jawaban dari pertanyaanku. Aku senang karena beberapa teman masih mau meluangkan waktunya buat ngirim sms di pagi buta. Yang lebih berkesan buat aku sebenarnya kalau ada yang ngucapin langsung lewat lisan, bukan tulisan. Alhamdulillah lagi orang-orang yang ngucapin langsung adalah orang-orang yang memang kusayangi; mama papa dan sahabat-sahabatku, walaupun ada seorang teman yang sepertinya lupa dengan hari itu. Ya sudah, tak apalah. Mungkin dia sedang sangat sibuk, we'll never know, huh?

Selain itu, ulang tahun kesembilan belasku kemarin ternyata nggak se-biasa yang kubayangkan. Aku dapat tiga kejutan dan tiga kue ulang tahun. Asik banget, kan? :p

Wednesday, January 15, 2014

Hal Ini #21

Pernah seseorang yang kutahu memiliki keahlian luar biasa jauh di atasku, mengucapkan satu hal yang pedih. Ia tak berucap langsung padaku memang, namun aku tahu. Suatu saat ketika ia dan aku berada dalam satu situasi, ia menyindirku. Aku sudah tahu kalau dia hanya ingin ngetes aku saja. Tapi entah mengapa, diremehkan tepat saat aku telah berusaha keras belajar sendiri ternyata sakitnya melebihi luka patah hati. Dan sakit ini, akan kujadikan sebuah penanda; aku harus berusaha lebih keras lagi dan tunjukkan pada ia dan dunia bahwa aku tidak pantas diremehkan.