Showing posts with label Boy. Show all posts
Showing posts with label Boy. Show all posts

Wednesday, February 18, 2015

Teruntuk Pemilik 18 Februari #20

Halo.
Ah, mungkin kau tak mengenalku, kak. Tapi yang jelas, kita pernah bicara. Pernah saling menyemangati satu sama lain. Pasti kau bertanya-tanya, "Ah, masa? Kapan?"
Untuk menjawab pertanyaanmu, izinkan aku menceritakannya dalam surat ini.

Saat itu, pertengahan tahun 2007 (atau mungkin 2008, aku tak begitu mengingatnya). Pertama kali aku mendengarmu di sebuah stasiun radio di mana kau menjadi penyiarnya. Di tahun itu, aku selalu menjaga frekuensi radioku agar tetap berada pada stasiun di mana aku bisa mendengar suaramu. Kau ingat tidak kak, ada satu segmen berjudul Obat Tidur? Nah, di segmen itulah kau seringkali menyemangatiku. Tak jarang, aku kirimkan pesan singkat mengenai permasalahan yang kuhadapi. Terkadang aku juga mengirimkan sekadar sapaan salam saat kau bertugas pada segmen 911, ingat? Kemudian lambat laun kau mulai mengahapal namaku yang kerap muncul pada SMS gateway radiomu. Pernah suatu ketika aku memintamu untuk menjadi kakakku, dan tanpa kusangka, kau berkata, "Boleh dong, dek Nindy."

Sejak saat itu, aku selalu menganggapmu sebagai sosok kakak buatku.

Mungkin kau sudah melupakan detil-detil kecil seperti itu, kak. Tapi aku tak akan pernah bisa lupa. Ada satu momen di mana aku kau buat bahagia bukan kepalang saat akhirnya dapat berbicara denganmu, walau memang hanya melalui sambungan telepon. Malam itu, aku tak sengaja melihatmu di sebuah stasiun teve lokal, sedang membawakan acara musik bersama satu orang host perempuan. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung meraih gagang telepon, menekan digit-digit nomor sesuai dengan yang tertera di televisi, lalu menunggu teleponku tersambung. Satu kali telepon, belum tersambung. Aku tak menyerah. Pada percobaan kedua, seseorang mengangkat teleponku. Dalam hati aku memekik kegirangan, karena impianku untuk bicara denganmu tersampaikan. Setelah menunggu tak sampai satu menit, akhirnya aku dapat mendengar suaramu. Bukan melalui radio, bukan melalui televisi. Aku mendengar suaramu yang begitu jelas tepat di sebelah telinga. Saking gembiranya, aku melupakan apa yang seharusnya kulakukan saat menelepon acara teve itu: request lagu. Ya, setelah sang host perempuan mengingatkanku untuk menyebutkan satu judul lagu yang ingin kutonton video musiknya, pembicaraan kita pun sesegera mungkin diakhiri olehnya. Apalagi setelah aku menyebutkan nama stasiun radio tempatmu biasa menyapaku pada acara teve itu secara on air, sang host perempuan pun buru-buru menyudahi teleponku. Aku yang waktu itu belum tahu etika jurnalistik, tentu saja merasa kesal.

Tapi, mendapat pengalaman untuk berbicara denganmu saat itu sudah cukup mewah buatku. Sebuah pencapaian yang cukup prestisius untuk ukuran anak SMP yang mengagumi penyiar radio ibukota.

Kalimat-kalimat bijak yang selalu kau lontarkan tiap kali menemani pendengarmulah yang membuatku mengagumi sosokmu. Ada satu kutipan darimu yang masih kuingat hingga saat ini, ketika kau sedang memberi suntikan semangat melalui segmen dini hari itu, "Do what you love, love what you do."
Kutipan itu masih terpatri dalam benak dan menjadi patokan setiap kali aku melakukan sesuatu.

Sebenarnya, tujuanku menulis surat ini padamu tidak lain tidak bukan hanya satu, kak: ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat bertambah usia. Selamat menjalani hidup di tahun ke-dua puluh tujuh. Aku senang, tahun ini adalah tahun pertama kau melewati pergantian usia dengan adanya seorang istri di sisi. Yang membuatku lebih senang lagi adalah mengetahui bahwa istrimu merupakan sosok wanita yang selama ini memenuhi hari-hari, bahkan sebelum aku mengenalmu. Aku masih ingat hari di mana aku mengetahui perempuan yang menjadi sumber semangatmu kala itu. Kak Aiu, begitu aku pertama kali melihat namanya. Tak kusangka, kini ia menjadi pendamping hidup yang siap menemani hingga akhir hayat nanti. Untuk kehidupan baru bersama kak Aiu, aku ucapkan selamat juga ya, kak. (meski ucapan ini rasanya sedikit terlambat)

Sekali lagi, selamat bertemu usia baru, kak Yugo. Secara tulus kudoakan semoga kebahagiaan selalu bersamamu. Semoga Allah memberimu rejeki yang baik dan halal. Semoga segera diberi titipan Allah yang soleh/solehah dan lucu. Sehat selalu ya, kak. Sukses untuk semua karirmu. Sampaikan salam dan doaku untuk istri tercinta.



Pasuruan, 18 Februari 2015.
Dari pendengar setia yang masih menganggapmu kakak lelakinya.


NB:
Kalau kak Yugo tak ingat, acara musik di teve lokal waktu itu bernama Music Lyric, kak.

Thursday, February 27, 2014

Kangen yang Dulu #27

Hai, Bat!
Udah lama ya kita nggak jalan berdua kaya tadi. Entah cuman perasaanku aja atau gimana, tapi kayanya setelah lama kita nggak ketemu, rasanya agak kaku gitu ya waktu kita ketemu lagi tadi. Apa semua karena kita sudah jarang komunikasi? Ah, hidup memang sulit dimengerti ya, Bat.

Sebenernya Bat, banyak yang pengen aku ceritain sama kamu. Tapi ya itu tadi, aku bingung harus mulai cerita dari mana, saking lamanya kita nggak berjumpa. Lagipula, sepertinya di antara kita sudah mulai ada jarak di mana kamu juga aku nggak bisa cerita semua-muanya secara gamblang kaya dulu. Aku belum tau sih, apa yang bikin persahabatan kita (sepertinya) merenggang. Padahal, dulu apa-apa kita bagi. Hal-hal nggak penting aja diceritain. Tapi sekarang sudah beda ya, Bat.

Aku kangen loh saat-saat kita menggila trus geje-gejean di mana aja. Dulu nih, mau di rumah kek, di sekolah kek, di jalan kek, di kafe kek, di manaaa aja kita pasti ketawa-ketawa nggak jelas (padahal juga nggak ada yang lucu yang patut ditertawakan). Tapi sekarang beda banget ya, Bat. Bahkan sampai ada awkward silence gitu di antara kita.

Dulu juga kalau kita teleponan pasti nggak pernah kehabisan bahan obrolan. Waktu BBM-an atau chat lainnya juga. Tapi sekarang beda. Malah kayanya sudah nggak ada lagi bahan obrolan yang bisa memperpanjang waktu ngobrol kita. Ini semua cuman aku yang ngerasain atau gimana, Bat? Atau mungkin aku yang terlalu sensitif kali, ya?

Sesungguhnya aku pengen kaya orang-orang lain, Bat, yang bisa tetep rame dan punya banyak cerita yang mau dibagi sama sahabatnya ketika mereka sudah lama nggak bertatap muka secara langsung. Tapi entahlah, kayanya aku nggak mahir deh melakukan hal semacam itu. Selalu ada perasaan canggung saat aku dan teman lama yang udah jarang ketemu akhirnya menyisakan sedikit waktu untuk ngobrol langsung. Aku benci hal-hal seperti itu, Bat. Aku pengen punya persahabatan yang kaya di film-film. Yang tetep asik dan seru walau dimakan waktu.

Seberbeda apapun persahabatan kita yang sekarang dan yang dulu, aku cuman pengen satu hal yang nggak berubah: ketulusan kita bersahabat. Tenang aja, Bat, aku nggak akan ke mana-mana kalau kamu butuh tempat buat cerita. Nomor hapeku masih yang sudah kamu simpan, akun twitterku juga masih ada di daftar followersmu. Jadi kalau kamu pengen berbagi suka duka, aku siap kok. Yah, walaupun klise, tapi buatku kalimat kalau kamu bahagia aku pun bahagia itu berlaku buat semua sahabat-sahabat yang kusayangi. Termasuk kamu, Bat.

Jadilah lelaki yang baik ya, Bat. Yang bisa kubanggakan karena memiliki sahabat yang gentleman sepertimu. Aku percaya kok kamu nggak akan ngecewain aku dan harapanku. Dan terima kasih buat traktirannya hari ini. Lain kali aku yang nraktir kalau kamu main ke Surabaya. :D



Pasuruan, 27 Februari 2014.
Dari cuhubutmu yang kangen masa-masa gila sebelum kita berjauhan.

Monday, February 24, 2014

Aku Terpukul #24

Halo, lelaki berparas tampan dengan tingkah menyenangkan.
Saat aku melihatmu untuk pertama kalinya, tak terpikir sedikitpun bahwa aku akan mengagumi indahmu. Namun lambat laun, dengan segala aksi lucu dan menggemaskan yang kau lakukan entah sadar atau tidak, perasaan itu terpancing juga.

Sebenarnya alasanku (dulu) menggemarimu adalah karena kau tegas dan lugas dalam berbicara. Tak pernah berbelit-belit. Ditambah lagi kelakuan-kelakuan aneh yang kadang tanpa sadar kau lakukan. Seakan hilang apa yang dikatakan dengan jaim dalam dirimu.

Namun, sore tadi, aku seolah dihantam kenyataan. Keras. Dan membuatku terpukul. Makin ke mari tingkahmu makin tak selelaki dahulu. Tentu saja aku terkejut. Siapa yang mengira seseorang sepertimu akan bertingkah seperti itu.

Sungguh disayangkan bahwa kau meleset sedikit agak jauh dari yang selama ini kuharapkan.



Surabaya, 24 Februari 2014.
Dari yang sempat membangga-banggakan ke-tidak jaim-anmu.

Friday, February 14, 2014

Kepada Sesiapa yang Akan Mendampingiku Kelak #14

Halo, kau yang nantinya akan berada di sampingku ketika tiba saatnya.
Aku tidak tahu apakah kita sudah dipertemukan atau belum. Aku juga tidak tahu apakah kau seorang lelaki gundul ataukah berambut cepak rapi. Aku tidak menemukan petunjuk apapun tentangmu, selain kau seorang laki-laki yang sudah pasti terbaik untukku.

Mungkin kita memang belum bertemu, mungkin pula kita pernah satu kali bertatap muka di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Mungkin kita sedang sama-sama menunggu waktu itu; saat akhirnya kita mendapat keyakinan bahwa kau memang tercipta untukku dan aku tercipta dari tulang rusukmu.
Selama ini, aku bertanya-tanya: Adakah seseorang di sana yang dapat mengerti seluruh cerita-cerita dan keluh kesah manjaku tanpa sekalipun memberi penilaian? Adakah seseorang di sana yang rela menjadi partner gilaku? Adakah seseorang di sana yang mampu melihat kekurangan-kekuranganku dan menutupinya dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki? Adakah seseorang di sana yang bersedia menjadi imam dan kepala keluarga dari keluarga kecilku kelak? Adakah seseorang di sana yang dapat membawaku menjadi ciptaan Allah yang jauh lebih baik dari sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang terlalu dini untuk ditanyakan, namun aku sudah menemukan jawabnya: ada. Kau, yang entah membaca surat ini atau tidak, sudah dipersiapkan Allah untuk memintaku pada Ayahku pada saat yang tepat. Yang akan menerimaku dalam segala kurang dan lebihku. Yang akan menemaniku meraih cita-cita yang belum tercapai. Yang akan menjadi pria ketiga yang kucintai sepenuh hati setelah ayah dan adik lelakiku. Yang akan menjadi pemimpin dalam setiap langkah yang akan kita jalani.

Kau mungkin tidak sempurna, begitupula aku. Tapi hingga saat yang kita tunggu itu tiba, aku akan terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi pendampingmu yang baik dan solehah. Bukankah Allah sudah menentukan, "Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik." Dan karena aku menginginkanmu, seseorang yang sudah tentu baik untukku dan keluargaku (juga keluarga kita), maka aku harus memperbaiki diri menjadi sosok wanita yang pantas mendampingimu.

Aku yakin, tingkah-tingkah anehku yang mungkin kebanyakan orang tak dapat memahami, akan kau pahami dan mungkin menjadi bagian favoritmu dariku. Bagian dirimu yang tidak kau suka, mungkin juga akan menjadi bagian yang paling kugemari. Aku percaya, pasangan diciptakan untuk saling melengkapi, dan aku menunggu saat kau akhirnya menempati ruang kosong dalam hidupku; menyempurnakannya.

Sabarlah menunggu. Aku takkan ke mana-mana.



Pasuruan, 14 Februari 2014.
Dari yang sedang mempersiapkan diri bertemu denganmu.

Thursday, February 13, 2014

Senyum Terakhirmu #13

Hai, Mai!
Sudah berapa lama kita nggak ketemu? Terhitung sejak sapaan terakhirmu, ini sudah empat tahun lebih ya, Mai. Kangen nggak sama aku? Hahaha, aku kangen ngejailin kamu dan rambutmu yang aneh itu, Mai. Masih inget kan, gimana aku dan Elita masuk-masukin sisa-sisa penghapus sama staples ke rambutmu, trus kamu bilang, "Woi woi! Aduuuuh..." sambil ketawa-tawa kecil geje trus acak-acak rambutmu biar "sampah" tadi hilang. Aku sama Elita cuman bisa ngakak dan nggak berhenti ngejailin kamu, Mai.

Oh ya, Mai, inget nggak waktu Elita bilang, "Mai, ada pemain FTV yang mukanya mirip kamu!" trus kamu senyum-senyum geje (kapan sih, kamu nggak senyum-senyum geje?) lalu tanya, "Hah iyotah, El? Sopo emang?" Trus Elita jawab namanya Guntur. Dan sejak itu aku dan Elita sering panggil kamu Geledek, gara-gara kamu mirip orang yang namanya Guntur itu. Huahaha, yang bikin lebih lucu adalah karena kamu ngakuin kalau kamu emang mirip Guntur. Konyol tau, Mai. :D

Kalau ada yang panggil kamu Mai, selain aku dan Elita, itu pasti Papai, pasanganmu, Mai. :p Hahaha, nggak ngerti kenapa kita dulu bisa gila banget bikin keluarga yang terdiri dari kamu sebagai Mamai, Papai, Mbah, dan anak-anaknya adalah aku sama Elita. Trus kekeluargaan kita kusebarluaskan di tempat les, sehingga mbak Ninda dan beberapa tentor lainnya ikutan manggil kamu Mai. Duh, Mai, kangen nggak sih waktu ketawa-tawa ngakak karena kita sekeluarga ngelakuin hal-hal nggak jelas yang semestinya nggak lucu dan nggak pantes buat ditertawain tapi kita malah ketawa-tawa sendiri? Aku kangen, loh.

Aku juga masih inget, Mai, seminggu sebelum kamu bener-bener pergi, kamu ngasih aku 'kenangan' yang nggak biasa. Hari Senin sepulang sekolah, waktu aku nunggu jemputan di depan gerbang, aku masih inget banget kamu dan motormu yang lebih gede daripada ukuran badanmu sendiri, tiba-tiba nangkring di depanku. Kamu berhenti sebentar sebelum lanjutin perjalanan pulang, lengkap dengan senyummu yang nggak pernah nggak geje. Trus aku bilang, "Lapo, Mai?" dan kamu jawab, "Nggak, nggak popo." Setelah senyum-senyum geje yang bikin aku ikutan senyum geje juga, kamu akhirnya mutusin buat lanjut pulang. "Mulih sek, yo!"
Hari Selasa (atau mungkin Rabu, aku lupa), masih setelah pulang sekolah, selepas aku jemput Elita di kelasnya, aku dan Elita lihat kamu berdiri dengan tatapan kosong di depan wastafel sebelah laboratorium fisika. Aku sama Elita yang nggak biasanya lihat kamu kayak gitu, otomatis nyapa dong. Kita tanya, "Kenapa, Mai?" kamu masih belum sadar dari kebengonganmu. Lalu kita ngagetin kamu dengan, "Woi, Mai!" Kamu cuman senyum tipis yang dipaksakan, dan geleng-geleng kecil.

Setelah itu, aku lupa kapan terakhir aku ngece kamu dengan motor gedemu. Tapi di Jum'at siang tanggal 11 Desember 2009, di sela tidurku buat ngisi energi sebelum les, aku dibangunkan oleh sebuah pesan singkat yang kuterima dari Hilal dengan isi yang nggak aku ngerti maksudnya apa. Aku diem, bengong, langsung ngambil posisi duduk begitu aku baca smsnya. Setelah aku bales smsnya Hilal dan dia ngasih penjelasan, saat itu aku bener-bener bengong nggak percaya. Aku masih diem. Nggak lama, Elita nelpon dan bilang kalau kabar itu bener. Bahkan sekarang temen-temen yang lain sudah berada di rumah sakit. Nggak pake pikir panjang, langsung aja aku ganti baju dan meluncur ke rumah Elita. Sesampainya di rumah sakit, aku lihat Imam yang nangis sesenggukan di depan UGD. Aku lemes.

Lihat tubuhmu udah terbujur kaku di ruang jenazah, air mataku udah nggak terbendung lagi, Mai. Aku nggak percaya yang ada di sana itu kamu, Galih Raditya Pratama, Mamai-ku, temen yang selalu kujailin semasa sekolah. Helm yang kamu pakai waktu itu, udah penuh darah. Aku makin nangis ngeliatnya. Beruntung, ada Elita dan Bu Mus, guru bahasa Indonesia favorit kita, yang nenangin dan yakinin aku kalau kamu sudah bahagia di sana. Aku masih sempat lihat senyum terakhirmu di ruangan yang seram itu, Mai. Kamu tersenyum, sama seperti senyuman yang kamu beri buat aku dan Elita beberapa hari sebelum kamu pergi.

Aku nggak pernah nyangka, sapaan dan candaan di hari Senin itu bakal jadi yang terakhir yang kuterima darimu, Mai. Tapi aku bersyukur, kamu ngasih aku kenangan yang nggak bakal kulupain itu. Sekarang, sudah nggak ada lagi Mamai yang bisa kuusilin rambutnya, yang bisa kuajak debat masalah lagu, yang cerita masalah hal-hal nggak penting sama aku. Seandainya kamu masih sama-sama kita di sini, mungkin kamu sudah satu kampus sama Edo, Gani, Fajrin, dan temen-temen lainnya di kampus impianmu, Mai. Mungkin kita masih bisa bercanda lagi di kota orang. Tapi 'andai' akan tetap menjadi andai.

Kita nggak berpisah untuk selamanya kok, Mai. Hanya sampai nanti kita bertemu lagi. Kangen nih. Surga pasti memberimu lebih banyak kebahagiaan dibanding yang kamu rasa di sini.

Foto ini kuambil di atas kapal dalam perjalanan menuju Bali. Coba lihat gayamu, Mai, tetep sok jutek. :p



Pasuruan, 13 Februari 2014.
Dari yang selalu nangis ketika dengerin Lagu Untuk Riri-nya RAN.

Wednesday, February 12, 2014

Re? #12

Hai, Re! Apa kabar lo? Masih inget gue? Yaah, mungkin lo udah lupa sama gue. Gue temen lo sesama blogger yang nemuin blog lo karena googling dengan keyword "Hotel 626". Kayak game online yang sama-sama kita suka itu, elo juga tiba-tiba menghilang seiring dengan hilangnya Hotel 626.

Bukan apa-apa nih Re, sebenernya gue penasaran lo ke mana selama ini. Akun facebook lo nggak aktif, bahkan nggak ada foto profil dan foto-foto lainnya, lo juga udah lama nggak ngetwit, apalagi ngeblog. Padahal Re, lo salah satu inspirasi gue dalam ngeblog di tahun 2008-2009. Coba aja lo ubek-ubek lagi postingan gue dari jaman baru-baru bikin blog. Gaya gue nyeritain keseharian sama kayak elo, Re. Selain itu, gue juga suka ngebacain cerita-cerita lo yang sebenernya biasa tapi lo bikin konyol abis. Seru aja gitu.

Lo ke mana sih, Re? Dan kenapa lo tiba-tiba ngilang dari dunia maya? Kita emang nggak sering-sering amat berinteraksi, tapi ketika gue chatting sama lo dan Glad, (eh masih inget Gladytha, kan?) gue berasa nemuin dunia baru yang belum pernah gue temuin sebelumnya. Kalian berdua seru, lucu, gokil. Dari kalian juga gue pertama kali tau istilah alay. Waktu itu lo juga pernah nakut-nakutin gue waktu gue tanya soal level 8 di Hotel 626. Hahaha, gue kangen kegilaan lo, Re. Muncul lagi, dong. Plis.

Oh ya, 2 Februari kemaren lo ulang tahun, kan? Selamat tua ye, udah umur dua puluh dua tuh. Udahan lah, lo muncul lagi kek. Drastis banget tau Re, dari elo yang punya segala sosmed: Plurk, MySpace, Heello, Formspring, bahkan Friendster, sekarang nggak gue temuin sama sekali di sosmed paling mutakhir sekalipun. Kangen kegilaan lo nih, Re. Kangen kegilaan lo.



Pasuruan, 12 Februari 2014.
Dari temen lo yang berusaha cari info ke mana dan kenapa.

Tuesday, February 4, 2014

Yang Kumis Tipis Jangan Sampe Lolos #4

Halo, Satria Ramadhan.

Entah darimana asal mula aku menemukanmu dalam dunia yang kita sebut Twitter. Yang kuingat, saat aku mulai membiarkanmu memenuhi linimasaku, tawa dan senyum kerap menghiasi hari-hariku. Setiap kata yang kau tulis tidak pernah gagal membuatku, paling tidak, tersenyum. Kalimatmu lucu, selucu avatar yang diam-diam kusimpan. (Eh, kalau aku memberitahumu seperti ini, sudah tidak diam-diam lagi, ya?)

Jangan salah sangka mengira bahwa aku mengagumimu karena avatar yang rupawan itu. Aku mengagumi keindahan tulisan-tulisan dalam akun Twittermu juga blog pribadimu yang menjadi tab favorit web browser-ku. Namun bukan berarti, aku tidak mengagumi indahmu yang lain. Kau punya hal-hal yang kusuka: kumis tipis, alis tebal, dan kacamata.

Kau tahu, Satria, aku pernah cemburu. Ketika itu kau sedang heboh-hebohnya dengan salah satu peserta ajang pencarian bakat di televisi yang, kuakui, memang cantik dan bersuara merdu. Mulanya aku berpikir bahwa kau mungkin sekadar ngefans dan mengirim twit-twit lucu untuk menarik perhatiannya. Namun saat ia ternyata juga meresponmu, aku... marah. Aku merasa tersaingi (oke, ini seharusnya tidak kukatakan), apalagi saat kutau bahwa dia berdomisili di kota yang sama denganku menimba ilmu. Terlebih bahwa ia adalah teman sahabatku. Seperti wanita-wanita lain yang sedang jealous, tentu saja aku langsung mencari informasi tentang wanita yang mampu membuatmu memandangi iPad seharian demi menonton videonya. Saat kuberhasil menemukan beberapa informasi tentangnya, sempat aku memaki, "Ah, dia suka foto selfie." "Ah, caption fotonya nggak nyambung." "Ah, dia alay, ngobrolnya pake RT."

Aku tau aku bukanlah seseorang yang penting untukmu dan tidak seharusnya aku marah maupun cemburu. Aku tidak berhak, begitu bukan? Tapi entahlah, Satria, kau mampu membuatku melakukan hal-hal konyol yang seharusnya tidak kulakukan untuk seseorang yang tidak pernah kutemui sebelumnya.

Pernah suatu ketika, aku mengirimkan twit untukmu di satu pagi, dan kau membalasnya. Bukan dengan RT, melainkan reply. Tentu saja aku senang, aku merasa istimewa. Yah, walaupun mungkin tidak hanya aku seorang yang mendapatkan reply darimu. Twit di pagi hari darimu seolah penyemangat untukku menjalani hari. Begitu pula saat kau membalas twitku di malam pergantian tahun. Twit balasanmu yang hanya berisi tawa, seakan menerangi awal tahunku. Hahaha, maaf ya, Satria, sampai di kalimat ini, aku merasa surat cinta ini kian ke mari kian lebay dan kata-katanya mulai menjijikkan.

Terima kasih karena memberiku lengkung senyum melalui kata-kata dan kumis tipismu, wahai aa kumis tipis.



Pasuruan, 4 Februari 2014.
Dari @rzkynndy yang tidak akan membiarkanmu lolos.

Monday, December 30, 2013

Hal Ini #16

Siapa yang tidak suka bermimpi indah?

Pertanyaan sederhana ini punya satu jawaban yang pasti: tak satupun.
Seperti halnya orang kebanyakan, aku suka sekali bermimpi. Berangan-angan. Berkhayal. Yang bagi sebagian orang mungkin itu adalah hal bodoh yang tidak seharusnya dilakukan lagi oleh seorang gadis berusia hampir sembilan belas tahun.

Pagi tadi, aku terbangun dengan mimpi indah. Tentangmu.
Dalam mimpiku semalam, kau tiba-tiba saja datang membantu motorku yang tak mau menyala. Lalu kau membawaku ke sebuah tempat yang aku tak tahu apa dan di mana. Setibanya di tempat itu, kau bercerita banyak hal. Kau menarik dan menggenggam tanganku, lebih dekat ke arahmu, semakin dekat. Kau berceloteh ini itu dan aku tersenyum sangat antusias mendengarnya. Lalu kau membawaku berjalan pergi, ke suatu tempat yang asing dan menyeramkan. Di tengah ketakutanku, kau mendekapku dan menggendongku.

Sampai di cerita ini, aku tersenyum bahagia --dalam mimpi--. Di atas lenganmu aku berbaring, melingkarkan kedua tanganku ke lehermu, masih ketakutan. Namun kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku menenggelamkan kepalaku dalam dadamu yang nyaman. Melihatku seperti itu, kau mengecup pipiku. Lembut dan hangat.

Mimpi indahku ini terlalu panjang untuk dituliskan, biarlah cukup aku dan mimpiku yang tahu cerita lengkapnya. Bahkan dalam mimpi saja, kau terlalu indah untuk diceritakan.

Saat aku membuka mata, aku terduduk terdiam. Aku mengingat-ingat apa yang terjadi dalam mimpi --yang sesungguhnya ingin sekali kuharapkan menyata--. Tak bisa kuelakkan, senyum pun mengembang dari wajahku yang awut-awutan akibat istirahat yang terlalu nyenyak. Namun seketika kusadari, ini semua hanyalah mimpi.

Aku merindukan saat-saat di mana kenyataan jauh lebih indah dibanding mimpi. Sudah cukup lama aku tak merasakannya. Aku ingin kembali bersemangat menyambut hari-hari yang melelahkan. Aku ingin kau yang menjadi penyebabnya.


Ah, andai saja seluruh keindahan pagi tadi bukanlah sebuah mimpi belaka.

Thursday, December 26, 2013

Hal Ini #12

Aku tak tahu harus bersikap bagaimana ketika sedang berhadapan denganmu. Haruskah aku tersenyum lalu menanyakan kabarmu, ataukah melenggang bebas dan berlagak mengacuhkanmu? Keduanya sulit dan tak ingin kulakukan. Namun aku butuh petunjuk perihal cara menghadapimu.

Kau bukan momok yang harus kutakuti, bukan pula artis yang pasti digemari. Kau hanyalah kau, seseorang yang mampu buat tidurku tak nyenyak karena pikirkan waktu untuk kita bertemu yang entah kapan.
Tapi fakta sederhana bahwa kau adalah kau sungguh menyiksa. Sebab, itulah yang kini menghantuiku ke manapun kupergi.

Sebelum ruang hati ini kau sesaki, aku tidak pernah mempedulikan gaya bicaraku padamu. Aku juga tidak pernah mempedulikan penampilanku yang sekenanya ketika berjumpa denganmu. Aku juga tidak pernah memperhatikan apa saja yang kau suka dan tidak sukai dari seorang gadis. Karena dulu, semua hal tentangmu tak dapatkan peranan penting dalam hidupku.

Kini, setelah segalanya berkebalikan, aku mencemaskan keadaanku sendiri. Bisa kubilang aku tak lagi percaya diri ketika mata kita tanpa sengaja bertemu. Atau memang sengaja kita pertemukan --karena terlibat sebuah pembicaraan--. Aku tak lagi tahu langkah apa yang harus kuperbuat selanjutnya setelah kita terdiam beberapa saat dengan pandangan mata yang sama-sama belum lepas.


Sejujurnya aku bertanya-tanya, apakah kau juga rasakan hal yang sama? Rasakan kebingungan atas apa yang akan kau lakukan ketika bertemu denganku? Sungguh, aku ingin tahu.

Saturday, December 21, 2013

Hal Ini #6

Menjadi seseorang yang menikmati indahmu dari jauh itu sudah cukup bagiku. Jika pada satu waktu mata kita bertaut, lalu kau dan aku sama menyungging senyum; kuanggap itu bonus. Karena melihatmu tersenyum melihatku, adalah hal yang kudamba saat ini.

Thursday, December 19, 2013

Hal Ini #3

Satu minggu. Selama kurun waktu itu, aku tidak bertemu dengannya. Rindu, sudah pasti. Namun tak ada yang dapat kulakukan selain menunggu liburan usai. Ya. Pertemuanku dengannya hanya akan terjadi kala aku berada di kota rantauan. Kita tidak berasal dari kota yang sama. Itulah mengapa sulit bagiku untuk dapat sewaktu-waktu mengajaknya berjumpa.

Lama tak bersua, akhirnya tibalah saat yang kutunggu.
"Baru juga nggak ketemu seminggu, kamu udah gendutan aja, nih!" Seruku begitu aku melihatnya berjalan dari kejauhan di koridor kampus. Dia menautkan alis.
"Ada juga kamu tuh yang makin gendut. Weeek!" Sial, dia balik mengejekku. Aku memasang muka cemberut. Dia tertawa. Aku menghampirinya, kemudian mencubit perutnya yang kini membuncit. Gemas.

Dia tertawa. Lalu balas mencubit lenganku.
"Iiiiih lengan kamu lemaknya berapa kilo sih?" Godanya. Aku tertawa. Kami tertawa bersama.

Aku dan dia memang sudah lama berteman. Namun kedekatan kita baru terasa beberapa bulan belakangan. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk mengubah pertemanan ini menjadi suatu hubungan yang lebih. Walau kuakui, aku memang mengaguminya. Dia seorang yang pandai, tidak banyak bicara, kreatif, low profile, dan yang paling membuatku terkesima, dia tidak segan membantu teman lain saat kesusahan.

Tapi, entah. Akhir-akhir ini aku seolah selalu menunggu momen untuk bertemu dengannya. Seperti hampa saat tak bersamanya. Belum lagi, dia juga sering mengajakku keluar. Sekadar makan siang atau malam bersama, atau bahkan hanya jalan-jalan mengitari kota. Embuh. Ini bukan perasaan yang biasa, karena aku belum pernah mengalaminya sebelumnya.

Mana pernah aku diam-diam menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar teman kepada teman baikku. Hingga detik ini, aku selalu mengutarakan apa saja yang kurasa ketika berteman dengan siapapun, termasuk ketika aku menyukainya lebih dari sekadar teman biasa. Tak pernah aku memendam perasaan sebegini hebatnya.

Bagaimana jika seandainya dia tahu perasaan ini?

Wednesday, December 18, 2013

Hal Ini #2

Setelah tragedi beberapa waktu lalu, tidakkah aku dapat mengambil, paling tidak, sebuah pelajaran berharga? Jika memang pelajaran berharga itu benar kuambil, lalu mengapa masih saja kulakukan kesalahan yang sama; membohongi perasaan diri sendiri?

Hal Ini #1

"Eh, aku kalau pake ini keren nggak?" Dia bertanya padaku sambil membetulkan lengan bajunya yang pendek. Aku yang saat itu sedang duduk terdiam memandang langit senja, menoleh. Memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
"Waaah, iya! Kamu lebih keren pake baju yang model begini!" Tanpa kusadari, aku menjawab pertanyaannya penuh semangat dengan senyum yang merekah lebar. Dia tersenyum.

Senyum itu.
Tidak pernah aku membayangkan akan sebegini candu. Selama aku mengenalnya, sudah teramat sering aku mendapatkan senyum itu darinya. Namun akhir-akhir ini, seperti ada perasaan yang lain. Yang kosong, ketika sehari saja aku tak menangkap senyum dari bibir itu.

"Trus, aku kelihatan keren kalau pake baju yang kaya gimana lagi, nih?"
Aku terdiam sejenak.
Tidak pernah sebelumnya hatiku membisikkan kalimat ini; kamu kan memang sudah keren. Apa-apaan ini?
"Mmm... kayanya kamu lebih cocok kalau pake kemeja trus lengannya dilipet sampe siku gitu, deh. Trus kumisnyaaa, tetep tipis kaya gitu aja. Lucuk!" Aku terus berceloteh tentang apa-apa yang kurasa akan membuatnya tampil lebih menawan. Dia hanya mengangguk, tersenyum, sesekali melihat kerapihan benda-benda yang menempel di tubuhnya.

Melihatnya seperti itu, tiba-tiba saja senyumku mengembang. Seolah mengisyaratkan betapa ucapanku sangat berarti untuknya. Walau kutahu, sesungguhnya tiada begitu berarti.

"Makasih sarannya, yaa! Aku mau tampil lebih keren lagi dari sekarang!"
Ya ampun, dia begitu bersemangat. Aku hanya tertawa mendengar kata demi kata yang terucap dari mulutnya. Ah, ada apa denganku?

Kembali ku menatap senja.
Indah.
Namun senjaku yang indah kali ini terasa berbeda. Entah. Aku mengembangkan senyum di wajahku terus-menerus tanpa henti. Hingga matahari bersembunyi di balik langit malam. Hingga kumandang adzan maghrib terdengar. Hingga akhirnya kusadari, ada ruang yang tersita di hati.

Friday, May 10, 2013

Tumpahan Perasaan yang Sengaja Dipendam Sekian Lama

Hari ini, akan kutuliskan hampir semua draft di memo hpku, percakapanku dengan diri sendiri di sebuah aplikasi chat, dan microsoft word laptopku yang sudah sekian lama kusimpan sendiri tanpa ada satu orangpun yang tahu ada cerita apa di baliknya.

Bahkan aku pun harus meyakinkan diri sendiri bahwa aku bukanlah aku, yang dulu, untuk beberapa waktu ini.

Mungkin aku butuh seseorang, atau sesuatu, untuk membagi cerita-cerita yang lama kupendam sendiri. Yang selalu jadi bahan pikiranku ketika larut dan mataku tetap tak mau terpejam. Sungguh, tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat bagi seorang aku untuk benar-benar mengubur perasaan yang kian hari kupaksakan untuk pergi namun ia tidak bisa benar-benar pergi. Semakin kupaksa, semakin kuusahakan untuk melupakan, semakin aku teringat. Dan puncaknya, aku menangis mendengarkan sebuah lagu yang, entahlah, liriknya seperti mengisahkan kisah kita.

Sunday, March 10, 2013

Five Days Review

I'm back again in my lovely home, place where you can be yourself without any fear of being judged. I miss my blog so much, and I have stories to tell about what I've been trough during these five days of college.
Well, before I begin the stories, I want to post photos of me wearing my college outfit. So, I wore maxi skirt for months because of our (me and my classmates) consequences. I didn't used to wear maxi skirt, so I found difficulties in wearing it.



All clothes unbranded, Baby-G watch. Expectation: Mom's wedges. Reality: Fladeo flats.

Wednesday, February 27, 2013

Dear, Kamu. #part2


Hari ini, aku (lagi-lagi) ketik nama lengkapmu di kolom pencarian Google dan menemukan satu hal yang kulewatkan dulu. Memang nggak begitu penting, bagi kamu, bagi sebagian orang, namun buatku, sedikit informasi tentangmu adalah sesuatu yang perlu aku tau.

Tuesday, February 26, 2013

Dear, Kamu.


Hei kamu. Iya, kamu yang dulu pertama kali sms aku hari Jum'at tanggal 31 Agustus 2012 dengan isi "Bosen rek." Iya, kamu yang dulu, entah bener atau enggak, nungguin aku pulang kuliah hari pertama di depan parkiran, lalu nyapa aku lewat temenmu, dan akhirnya pulang setelah aku ambil motor di parkiran. Iya, kamu yang dulu bantuin aku benahin segala sesuatu printilan tugas ospekku yang belum selesai.

Tuesday, February 5, 2013

Regina & Dion Live at TP

Jadi sebenernya ini postingan yang telaaaaaat banget. Hari Minggu tanggal 29 Juli 2012, ngga sengaja aku liat tweetnya fans club Regina Surabaya, katanya saat itu Regina sama Dion bakalan ngisi acara di TP. Nah kebetulan juga waktu itu emang aku udah ada rencana ke Surabaya sama keluarga. Langsung deh saat itu aku reply twitnya trus tanya HTMnya berapa. Dan ternyata gratis! Yeay langsung aku bilang deh ke mama papa buat mampir TP dan mereka setuju #akucintagratisan #gratisunited

Pas nyampe TP itu jam 3 kurang, sementara menurut kabar yang di twitter, acaranya mulai jam setengah 3. Mampus lah kelewatan Dion atau Regina. Padahal yang aku pengen liat itu kan Dion nya huaaa. Belum lagi cari parkir mobil di TP itu susah banget dapetnya, harus naik naik sampe ke lantai entah lantai berapa. Setelah udah dapet parkir, aku langsung cari TKP. Udah nemu TKPnya, dan aku harus turun ke lantai paling bawah TP3. Kuseretlah Rere, adekku, buat nemenin. Dan dia entah kenapa waktu itu kok mau mau aja aku ajak repot gitu.

Udah berada di TKP, bukan berarti aku bisa dengan leluasa motret dan ngambil fotonya Dion yang waktu itu nyanyiin Tanjung Perak. Karena apa? Karena aku ada di belakaaaang sendiri dan kameraku dibawa papa bukannya aku -_- bermodal kamera BB yang kualitasnya kaya VGA, aku potretlah Dion. Waktu itu aku terlalu bahagia bisa liat Dion nyanyi dari jarak yang lumayan dekat, at least, ngga dibatasi sama layar tipi lah ya. Yaaaah singkat cerita, aku ketemu papa kemudian kameranya dikasihin ke aku, dan aku dengan tanpa menyerah serta penuh perjuangan nerobosin segitu banyak kerumunan orang biar bisa dapet tempat paling depan dan paling deket sama stage. Yah walaupun harus dibentak-bentak sama sekuriti yang pake baju ala polisi dengan sok galak dan sok secure, aku ga peduli. Yang penting bisa didepan stage persis dan bisa ambil foto-fotonya Regina dan Dion.

Waktu itu lebih banyak ngambil fotonya Regina karena pas kamera udah di tangan, Dion nya pas udah turun panggung. Gapapa sih, masih bisa ambil fotonya Dion juga. Ada sekitar 121 foto dan beberapa video, tapi yang aku share di blog ini cuman beberapa aja yang aku anggap lebih bagus dari yang lain. Check check! ;)



























Foto-foto diatas tadi asli tanpa editan. Brightness/contrast juga ga diedit, masih asli sli sli, cuman ditambahin watermark sama beberapa ada yang dicrop. Btw, tiga foto Dion terakhir itu bener-bener favorit aku banget. Ngambilnya ngga sengaja tapi hasilnya tetep bagus, bahkan ekspresinya pas banget menurutku. That's why I love picturing stage act, challenging you know :D

Monday, December 24, 2012

Quote of The Day

"...Nggak usah memutuskan hubungan pertemanan dengan orang yang sudah kasih harapan palsu atau gebetan yang nggak jadi nembak kita. Tetap berteman kayak biasa dan jaga tali silahturami. Tapi, nggak usah berharap lagi sama mereka."

-Arief Muhammad a.k.a @Poconggg.