Saturday, January 31, 2015

Kepada yang Kuabaikan #2

Menulis surat ini, aku membayangkan sedang bercengkerama denganmu di teras rumah sambil sesekali menyesap secangkir cokelat panas. Dalam bayanganku, aku mendengarmu bercerita tentang bagaimana kau menungguku untuk berbagi suka duka selama hampir tiga puluh satu hari denganmu, yang kemudian membuatku merasa bersalah untuk sekian menit. Hingga akhirnya aku mendengar suaramu yang semakin mengecil, seolah tahu bagaimana perasaanku. Lalu kau menepuk pundakku lembut, meyakinkanku untuk tak usah menyalahkan diri sendiri. 'Aku tahu kau sangat sibuk akhir-akhir ini' begitu katamu.

Tapi tetap saja, mengabaikanmu selama itu membuatku tak enak hati. Kau selalu menjadi kesayangan yang kutunggu-tunggu kehadirannya. Namun begitu kau hadir, aku malah mengabaikanmu. Tak menengokmu walau sebentar. Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa membuatku baik-baik saja?

Hebatnya, dengan segunung perasaan bersalah yang berkecamuk dalam dada, tak sedikitpun keluar kalimat bernada menyalahkan darimu. Tak sedikitpun kau mengintimidasiku. Tak sedikitpun kau memberiku tatapan sinis. Kau memang manis, tak pernah membuatku menangis. Mungkin inilah alasan terbesar mengapa kau akan selalu menjadi favoritku.

Memberiku banyak hal menarik adalah alasan lain mengapa aku selalu membanggakanmu. Kadang kau juga menyiapkan kejutan untukku, walau memang tak semuanya membuatku terkejut. Selain itu, tak pernah ingkar untuk mengukir kenangan manis tiap kali kau hadir juga menjadi alasan kuat mengapa aku menggemarimu sebegini banyaknya. Ah, sesungguhnya aku tak butuh alasan-alasan itu untuk menyayangimu; aku akan menjadi penggemarmu yang setia tanpa tapi.

Maafkan untuk segala hal yang membuatku melupakanmu tahun ini. Dua puluh kali kau hadir di hidupku, baru kali ini aku tak menyambutmu dengan antusias. Tak pernah ada maksud untuk mengabaikanmu, apalagi membencimu. Tahun ini memang menjadi tahun yang amat sibuk buatku, dan aku tahu kau mengerti. Maaf telah membuatmu merasa terabaikan. Aku tak bisa berjanji akan memberimu sambutan yang luar biasa di kali lain, tapi aku berjanji akan setia menunggu kehadiranmu satu tahun lagi. Semoga Tuhan masih mengijinkan kita untuk, setidaknya, sekadar menukar sapa.

Kau akan selalu menjadi favoritku, Januari. Terima kasih untuk tiga puluh satu hari yang warna-warni.



Pasuruan, 31 Januari 2015.
Dari perempuan yang sok sibuk.

6 comments:

  1. Maka Januari hanya bisa menghela nafas meski menyenangkan baginya engkau hadir menghiasi tanggal demi tanggal yang terpampang dalam dirinya. Sekali saja Januari akan meminta kepadamu, hela-lah nafasmu dan pandanglah langit lalu ingatlah selalu langit dibulan Januari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'Langit di bulan Januari', tentu. :))

      Delete
  2. kapan jadiannya? *kepo*
    -ikavuje

    ReplyDelete
    Replies
    1. 13 Januari, 20 tahun lalu, kak. xD

      Delete
  3. Keren kak tulisannya, semangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe terima kasih, yaa. Kamu juga semangat yak nulisnya! :))

      Delete

Thanks for stopping by. You seem nice. You are welcome to leave any comments here.