Saturday, February 28, 2015

Last But Not Least #30

Sore di penghujung Februari kuhabiskan dengan segelas kopi panas dan lantunan tembang milik Adhitia Sofyan yang judulnya menggambarkan cuaca kotaku saat ini, After the Rain. Tak terasa, sudah tiga puluh hari aku menuliskan pucuk demi pucuk surat cinta. Tiga puluh hari pula kau dengan sigap mengantarkan kata-kata cinta dari dan untuk para pecinta.

Aku pasti rindu saat-saat di mana aku harus temukan orang yang akan kutulisi surat. Saat-saat di mana tenggat waktu pengiriman surat tinggal beberapa menit dan aku belum memiliki ide akan kata-kata cinta yang harus tersusun. Saat-saat di mana aku menunggu komentar sang pengantar surat di kolom paling bawah tiap surat-suratku.

Kau selalu membaca rangkaian kata yang kutulis. Juga yang ditulis para pecinta lainnya. Setiap hari. Tanpa lelah. Tanpa keluhan. Tanpa luput meninggalkan satu dua kata semangat pada kolom paling bawah surat-surat. Di sela kesibukanmu, kau tidak melupakan kami para pecinta. Kau membuat kami merasa dihargai, merasa diapresiasi. Suntikan semangat darimu untuk tetap giat menorehkan kata cinta; itulah yang membuatku, kami, terpacu untuk menuntaskan program ini dengan sesempurna mungkin: mengirim tiga puluh surat tanpa jeda bahkan satu haripun.

Aku sangat berterima kasih atas waktu yang kau sisihkan untuk surat-surat kami. Kutahu itu tidak mudah. Bisa jadi malah sedikit memusingkan, membaca sekian banyak tumpukan surat yang entah berisi curhatan (seperti mayoritas suratku) entah berisi ungkapan. Sepenggal terima kasih saja rasanya tak cukup untuk membalas jasamu 'mengantarkan' surat-surat kami selama tiga puluh hari terakhir ini. Ah, andai saja aku dapat menghadiri kopi darat esok dan memelukmu, aku pasti akan memelukmu erat dengan bertubi-tubi terima kasih.

Namun, sementara ini, izinkan aku untuk mengucap terima kasih walau hanya melalui surat, kak Ika. Terima kasih karena mengapresiasi tiap huruf yang kami coretkan dalam surat-surat cinta ini. Terima kasih karena telah menjadi tukang pos yang sangat istimewa. Terima kasih karena menjadi jembatan untuk kami ungkapkan perasaan. Terima kasih untuk semua yang telah kau sempatkan, kak. Semoga aku bisa membalas kebaikanmu suatu saat. Sukses untuk segala cita dan cintamu. Ku-aamiin-kan segala semoga yang diterbangkan untukmu. Sampai jumpa tahun depan, kak Ika. Sekali lagi, terima kasih.


If somewhere down the line,
we will never get to meet...
I’ll always wait for you after the rain.




Pasuruan, 28 Februari 2015.
Rizky Nindy Lestari.


NB:
Tahun ini, aku mengulang keberhasilan istiqomah tahun kemarin, kak. Tak sabar ingin segera mengulangnya lagi tahun depan!

Friday, February 27, 2015

Terlambat? #29

Harusnya aku tak terkejut saat kau berkata, "Aku membaca semua suratmu. Aku tahu itu untukku, meski tak pernah satu suratpun kau sebut namaku di situ."
Ya. Harusnya aku sudah mempersiapkan diri saat kutahu kau membaca semuanya. Semuanya, tak tertinggal barang satu atau dua surat. Ah, bukankah ini berarti kau membaca semua ungkapan hati?

Tapi tak ada yang lebih mengejutkan daripada kalimat-kalimatmu yang muncul setelah sebuah hening lama antara kita.
Kini kutahu, kau juga rasakan yang sama terhadapku. Bahkan jauh sebelum aku menyadari perasaanku sendiri. Haruskah aku bahagia karena kecurigaanku terhadap 'penolakan' yang kau berikan beberapa hari ini tak terbukti? Atau haruskah aku menyesalinya karena tak ungkapkan lebih awal?

Aku tak bisa putuskan mana ekspresi yang harus kupilih hingga kau membuka suara; menyusun kata menjadi cerita yang menggores hati perlahan, tanpa henti. Aku bahkan bisa rasakan sayatan-sayatan yang tak hasilkan darah, dengan pedih yang sangat nyata. Luka ini membelenggu bibirku, menahannya untuk tak lontarkan kalimat kesakitan. Tenggorokanku tercekat, ingin teriakkan kesedihan walau tak mampu. Mataku berat menggenggam bongkahan air mata yang kupaksa untuk tinggal. Jangan jatuh, kumohon. Namun mau tak mau, getar yang timbul dari kedua bahu membuatnya terlepas. Detik itu juga, kubiarkan tetesan ini mengalir deras. Kubuka genggaman akan semua gundah hingga lega. Walau pada akhirnya, hatiku semakin terluka.

Kau bilang, kau tak ingin menceritakannya padaku karena kau masih simpankan aku ruang dalam dada. Kau bilang, kau tak pernah yakin, apakah aku rasakan hal yang sama ataukah hanya perasaanmu saja. Kau bilang, ingin rasanya mendekapku erat sebelum semua ini terjadi.
Sebelum kau tahu perasaanku.
Sebelum kau putuskan untuk bersamanya.

Aku... terlambat.

Saat ini kau telah berdua. Tak lagi sendiri. Tak lagi bisa sempatkan waktumu untukku kapan saja. Tak lagi ada kemungkinan untuk kita bersama.

Tidak apa-apa. Menyayangimu sebagai seorang teman saja sudah menjadi hal yang istimewa. Aku yang keterlaluan, menodai pertemanan kita dengan ungkapkan apa yang tak seharusnya diungkapkan. Berbahagialah bersamanya. Aku di sini mencoba untuk tulus mendoakan bahagiamu. Meski bukan aku yang menemanimu.

Hapuslah cinta antara kita berdua,
karena kau sudah ada yang punya.
Biarlah diriku memendam rasa ini...
jauh di lubuk hatiku.



Pasuruan, 27 Februari 2015.
Dari yang (masih) menyimpan harap.

Thursday, February 26, 2015

Mbuh. #28

Aku ingin teriak. Lepaskan tumpukan amarah dalam dada. Legakan bulir-bulir emosi yang berjejalan tak karuan. Geramku sudah cukup beralasan untuk tautan alis yang timbulkan tikungan tajam. Nafas yang memburu seolah menjadi penanda betapa jengkelnya hati ini.

Aku tak tahu berapa banyak alasan lagi kau ucap tiap kecewakan diri. Aku sudah bosan. Aku bahkan tak tahu harus pekikkan apa untuk perasaan yang berkecamuk. Bicara denganmu toh percuma saja, buang buang waktu.

Dengar, kau tak seberharga itu untuk waktu-waktu berhargaku. Jangan terlalu percaya diri. Aku tak menyesalimu, aku menyesali waktu yang kubuang demi seorang kau.



Surabaya, 26 Februari 2015.
Dari yang (akhirnya) marah.

Wednesday, February 25, 2015

Untuk Ingkarmu #27

Mungkin kau sudah bosan mendengar cerita perihal perubahan yang kurasa pada lingkunganku, pada teman-temanku. Ribuan pertemuan kita lewati dengan keluh kesah mengenai ketidakadilan yang kurasa pada situasi A, mengenai kejamnya persaingan yang kualami pada situasi B, ataupun kegelisahan lain pada waktu dan tempat berbeda dengan persoalan yang masih sama.

Aku ingat pernah merajuk agar kau tidak mengubah diri seperti tokoh-tokoh yang ada pada setiap ceritaku. Aku juga ingat kau pernah berjanji untuk tidak akan berubah, sekalipun dunia berusaha mengubahmu. Aku tak akan lupa bagaimana raut wajahmu terlihat begitu meyakinkan, hingga membuatku percayai janjimu dengan mudahnya. Aku masih memegang janjimu sampai saat itu tiba; saat di mana aku merasa ada sesuatu yang mengubahmu.

Haruskah ku katakan kau ingkari janji, atau justru aku yang harus instropeksi?
Ya. Bisa saja aku yang berubah. Bukan kau. Bukan juga mereka yang selalu kusebut dalam tiap sesi bercerita denganmu.

Terlepas dari siapa yang berubah, satu kesimpulan kudapat: semua orang berubah. Tidak satupun hal dapat mencegahnya. Tidak satu kalimat janji yang kau ucapkan dapat mencegahnya.

Kau beriku alasan, 'Aku sedang mencoba mengerti diri sendiri, sebelum aku bisa mengertimu.' saat aku bertanya-tanya akan perubahanmu.
Haha. Kau bukan pembohong yang handal rupanya. Kau tahu, aku tahu, dunia tahu, bahwa hanya kau yang paling mengertiku. Yang paling memahamiku melebihi diriku sendiri. Tidakkah kau masih ingat, siapa yang pertama kali menawariku tempat untuk tumpahkan beban saat aku justru terlihat sangat baik-baik saja dengan senyuman paling ceria yang kutampakkan? Tidakkah kau masih ingat, siapa yang berkata, "Matamu tidak menampakkan kebahagiaan. Tidak usah berusaha tegar." saat aku menyambutmu dengan senyuman paling lebar?
Hei, itu kau. Itu kau yang mengerti segala titik kecil pada diri. Itu kau yang mengerti perasaan hati. Kau sangat mengertiku, tak usah kau coba bohongi aku dengan memberi dalih yang dapat terbantahkan dengan begini mudah. Akuilah, kau (atau mungkin aku) memang berubah. Tak usah beri penjelasan mengenainya.

Apapun alasanmu mengingkari janji, aku harap itu bukan karena hal-hal yang kita lalui beberapa hari ini.



Pasuruan, 25 Februari 2015.
Dari yang tak lagi merasa sama.


NB: Aku punya satu lagu untukmu selagi kau baca surat ini: Keane - Everybody's Changing.

Tuesday, February 24, 2015

Jawablah! #26

Akankah ada beda, jika aku tuliskan surat yang kompleks ataukah sederhana?
Akankah kau memerhatikan, ataukah kalimat-kalimatku terasa menjemukan?
Akankah kau simpankan sedikit ruang untukku, ataukah coba mencari kunci lain yang cocok buatmu?
Akankah senyuman ku dapat, ataukah rengut yang terlihat?
Akankah harapan tercapai, ataukah mimpi terpaksa usai?

...

Jangan senang dulu. Masih banyak 'akan' yang menggerogoti pikiran. Tapi kali ini, cukup itu saja. Beritahu aku kalau kau sudah miliki jawabnya.



Pasuruan, 24 Februari 2015.
Dari seorang penuh tanya.

Monday, February 23, 2015

Bukan Kita #25

"Kejutan!"
Kalau daun dan bunga-bunga di pekarangan rumahku bisa bicara, mungkin itulah yang akan mereka katakan saat aku membuka pintu dan menemukan sosokmu di hadapan. Setelah satu minggu kau lenyapkan diri, malam tadi kau putuskan untuk muncul kembali. Lengkap dengan senyum yang biasa kau suguhkan padaku. Ada apa sebenarnya? Kau tak berniat memberi harapan padaku, bukan? Atau, ada alasan lain di balik kehadiranmu yang tiba-tiba?

Satu minggu tak menjalin komunikasi, aku merasakan sedikit perubahan padamu. Kau lebih pendiam. Tak seperti biasanya. Entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Mungkin juga kau coba menyesuaikan diri dengan keadaan kita sekarang; keadaan di mana rasa canggung menyeruak hingga membuat sesak. Aku sadar, kemarin aku juga tak berbicara banyak. Kau tahu, sesungguhnya aku benci bersikap kikuk denganmu. Terasa seperti hanya ragaku yang menjumpaimu, sendiri tanpa ditemani jiwa yang melanglang entah ke mana.

Bukankah kau rasakan hal serupa; kau yang bukan kau dan aku yang bukan aku. Ke mana perginya jiwa mereka berdua? Bukankah seharusnya keadaan kita tetap baik-baik saja? Toh, hanya satu minggu kita hilang kontak. Satu minggu. Waktu yang terlalu singkat untuk kekakuan yang kita hadirkan kemarin.

Seharusnya kita bisa bersikap biasa saja, bersikap seolah-olah kau tak pernah tahu perasaanku dan aku tak pernah ungkapkannya padamu.

Dua jam yang kita lalui kemarin bak kemarau panjang. Kering, sepi, tiada guyonan segar. Sesekali kau lontarkan gurauan, yang kemudian diiringi tawa kecil dari bibirku. Ah, ada yang salah pada kita. Kemarin malam itu bukan kita, bukan. Kita yang kutahu selalu memecahkan suasana hingga lupa waktu. Kita yang kutahu tak pernah malu-malu lemparkan ejekan pun pujian. Kita yang kutahu tak pernah ciptakan keheningan yang perlahan mematikan senyuman. Ke mana kita yang itu?

Aku rindu kita.

Andai kutahu semua akan berakhir seperti ini, pasti tak akan kuizinkan perasaan ini bertumbuh. Apalagi memberitahumu tentangnya.



Surabaya, 23 Februari 2015.
Dari yang tak ingin berubah.

Sunday, February 22, 2015

Terlalu Jauh #24

Banyak kata yang ingin kusampaikan padamu. Tapi toh percuma, kau takkan pernah menganggapku ada. Bagimu, aku hanyalah satu dari sekian banyak rupa yang mengagumimu. Tak berhak dapatkan keistimewaan untuk perhatianmu. Bahkan untuk sampaikan kata rindu saja terasa mahal. Apa lagi untuk sederet kata-kata (yang menurutmu) bualan yang sudah lama kusimpan.

Kau sedikit terlalu jauh dari jangkauanku.

Apalah aku ini, hanya seorang gadis biasa dengan harap berlebih. Dengan ketulusan cinta yang senantiasa kau ragukan. Mungkin kau berpikir aku terlalu sombong, terlalu percaya diri untuk memproklamirkan cinta yang tulus dari hati.

Ah, cinta?
Rasanya aku salah memilih diksi. Kau kan, tidak percaya cinta.



Surabaya, 22 Februari 2015.
Dari yang ingin membuatmu percaya.

Saturday, February 21, 2015

Jangan (Sok) Kuat #23

Barangkali ada penghargaan untuk Perempuan yang Tak Ingin Melukai Hati Siapapun, mungkin penghargaan itu akan dengan sendirinya berlarian menujumu. Bukan tanpa sebab aku berkata demikian, lihatlah dirimu. Selalu berusaha untuk berkata "Ya" pada mereka yang kau jumpai. Entahlah, apakah ada sesuatu yang mengganjal jika satu kali saja kau ucapkan "Tidak"?

Tak ada maksud untuk mencampuri urusanmu. Siapalah aku ini yang berhak mendiktemu perihal apa yang harus dan tak harus kau lakukan. Ini hidupmu, terserah padamu akan kau apakan sisa usiamu nanti. Namun aku terlalu menyayangimu untuk membiarkan kau menyenangkan hati orang lain, tapi melupakan kebahagiaan diri. Kau boleh saja mencoba bahagiakan aku, kami, mereka. Tapi kau tak boleh lupakan batinmu. Aku tak ingin terkesan menggurui, tapi ingatlah satu hal: jika kau mencoba untuk senangkan orang lain, satu-satunya orang yang kau kecewakan adalah dirimu sendiri.

Sudah berulang kali aku membujukmu untuk rehat sejenak dari rutinitas yang terlihat tanpa henti itu. Berulang kali pula kau yakinkan aku bahwa kau kuat, kau baik-baik saja, kau masih sanggup. Padahal sorot matamu memberitahuku, kalau kau butuhkan tempat bersandar. Kau butuhkan tempat berbagi barang sebentar. Kau butuhkan tempat menopang beban.

Aku tahu kau selalu inginkan yang terbaik untuk semua orang. Tapi kau juga tahu kan, tidak semua orang memahami usahamu. Terlampau sering kita memperdebatkan persoalan kau-tak-harus-selalu-ucapkan-ya. Tapi percuma saja beradu argumen denganmu. Kau seakan punya segudang alasan untuk meyakinkanku, juga orang-orang di luar sana, bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa kau siap membantu. Bahwa kau punya waktu luang yang tak terhingga. Bahwa stok tenagamu selalu terisi penuh.

Akuilah saja, kau tidak sekuat itu.
Tidak ada manusia yang sekuat itu, tak peduli bagaimanapun kau coba tanamkan sugesti dalam benak. Sudahlah, kau tak perlu risau. Masih ada aku dan mereka yang menyayangimu, yang memerhatikan kesehatanmu.

Jangan terlalu paksakan dirimu, mbak Nit. Bahkan Allah melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri, begitu bukan?
Mari sejenak kita lupakan kewajiban untuk membahagiakan tiap jiwa. Dan mulai membahagiakan apa yang sepatutnya dibahagiakan: batin dan raga yang terlupakan.



Surabaya, 21 Februari 2015.
Dari yang berada di sebelahmu saat menulis surat ini.

Friday, February 20, 2015

Yang Tak Pernah Kecewakanku #22

Andai suatu hari ada yang menanyaiku, "Siapa yang tidak pernah mengecewakanmu?" tentu aku akan menyebut namamu. Bagaimana tidak, setiap kali aku merasa dikecewakan dunia, kau selalu mengangkat semangatku, membuatku takjub dengan kejutan lain yang kau beri. Kau tidak pernah ingkar janji; salah satu dari sekian banyak alasan mengapa kau tidak pernah membuatku kecewa. Kau sangat mengenalku untuk tahu bahwa kata kecewa itu sendiri dapat mengecewakanku. Sebab itulah kau tidak pernah membuatku teringat oleh kata itu.

Kau selalu tahu apa yang kumau. Suatu ketika sebuah band favorit dijadwalkan untuk tampil di kotaku. Kau bisa lihat luapan semangat saat aku menunggu detik-detik bertemu idola. Walau aku tak pernah membicarakan harapanku saat bertemu sang idola denganmu, kau tahu pasti apa yang kuinginkan. Dengan segala usaha yang kulakukan, kau menyemangatiku. Mendorongku untuk menggapai harapan-harapan yang kugantungkan. Ketika keadaan terlihat tidak membantuku untuk mencapai semua ingin, kau dengan tanpa basa-basi memberiku bantuan. Tiada lelah kau menolongku hingga harapan-harapan kugapai. Kau tentu masih ingat, betapa gembiranya aku saat itu hingga berteriak kencang; kegirangan. Kau hanya tertawa melihat tingkahku. Lalu kuhampiri kau seraya lontarkan ratusan syukur dan terima kasih untukmu. Lagi lagi, kau tidak mengecewakanku. Atau lebih tepatnya, tak ingin melihatku kecewa.

Banyak hal yang telah kita lalui. Hal-hal seperti malam di mana aku menantikan penampilan 5 Seconds of Summer di sebuah acara televisi. Kau tentu tahu kalau aku tak akan melewatkan apapun yang berkaitan dengannya. Namun tiba-tiba saja hujan datang. Angin kencang yang menyertai membuat antena televisi tidak dapat menangkap sinyal elektromagnetik dengan baik. Jadilah, semut-semut mengerubungi layar diiringi dengan suara mendesis yang amat mengganggu pandangan. Aku kesal, tapi masih tak henti membumbungkan harap agar hujan segera reda. Atau setidaknya, ia tak mengganggu keasyikanku memandangi 5SOS nantinya.
Dan, sekali lagi, kau tidak mengecewakanku. Tepat beberapa menit sebelum band asal Australia itu tampil, layar televisi kembali normal. Kembali menampilkan gambar dan suara yang jelas. Sejelas rasa cintaku padamu. Pada kau yang tak pernah ingin melihatku kecewa.

Kau tahu, dalam menjalani hidup, aku tak ingin ambil pusing ketika beberapa teman, kerabat, atau bahkan keluarga membuatku bersedih. Membuatku mengingat kata kecewa. Namun kau juga tahu kan, aku hanyalah manusia biasa. Tempatnya salah dan lupa. Tak mudah bagiku untuk tak mempedulikan kekecewaan yang terasa. Tapi kemudian aku teringat ucapanku sendiri: manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Manusia akan selalu mengecewakan, tapi Tuhan tidak.

Untuk segala kebahagiaan lahir dan batin yang kau beri, aku berterima kasih. Kau tak pernah pamrih padaku. Walau aku masih teramat sering mengecewakanmu, tak pernah sekalipun kau balas aku. Kau justru membalasku dengan tumpukan kegembiraan yang kau beri secara percuma; yang terkadang lupa kusyukuri. Maaf jika selama ini aku bersikap angkuh dan lalai akan semua kewajiban. Terima kasih karena tidak pernah mengecewakanku, Tuhan. Terima kasih.




Pasuruan, 20 Februari 2015.
Dari yang tak lepas dari salah dan lupa.

Thursday, February 19, 2015

Buat yang Mengantar Surat-surat #21

Selamat sore, Bosse! Bagaimana kabar hari ini? Masih semangat mengantar surat-surat dari kami--para pecinta--bukan? Aku senang sekali, akhirnya bisa mengirim (atau lebih tepatnya membalas) surat untuk Bosse.

Seperti yang aku dan para pecinta lain ketahui, Bosse dan seluruh tukang pos @PosCinta mengadakan gathering yang mempertemukan para pecinta di 1 Maret nanti. Seperti halnya tahun lalu, kota yang terpilih menjadi tempat kopi darat masih Bandung. Karena menurut Bosse, Bandung merupakan kota yang sarat akan cinta. Dan, seperti halnya tahun lalu, aku yang berdomisili di Surabaya, sayangnya tidak dapat menjumpai Bosse dan kawan-kawan pecinta lainnya. Sebab jarak dan waktu yang membentang.

Sedih? Tentu saja. Bosse tak punya ide betapa aku sangat ingin bertatap muka dengan Bosse dan para tukang pos yang saban hari tak kenal lelah menyampaikan surat-surat cinta dari masing-masing pecinta. Aku ingin tahu, seperti apakah suara merdu kak @ikavuje saat melantunkan lagu. Juga ingin tahu, seperti apa kelincahan Bosse yang seringkali lompat-lompat di tumpukan surat. Juga ingin tahu, seperti apa cinta yang ditaburkan kawan pecinta pada dunia nyata. Seandainya saja Surabaya-Bandung dapat ditempuh dalam sekejap mata, mungkin aku tak akan berpikir dua kali untuk meramaikan gathering bersama Bosse dan para pecinta. Mungkin aku tak akan sesedih ini karena dua kali absen pada acara yang paling ditunggu selama bulan Februari. Tapi, tak apa. Seperti apa yang diucap Rayi, Asta, dan Nino, "Jarak dan waktu takkan berarti, karena kau akan selalu di hati."

Bosse, kalau aku diperbolehkan meminta, aku inginkan satu saja: adakan gathering @PosCinta di Surabaya. Karena yang perlu Bosse ketahui, Surabaya tak hanya terkenal sebagai kota Pahlawan. Surabaya juga memiliki banyak pecinta yang penuh cinta. Bosse harus merasakan cinta kami. Aku serius, Bosse. Kita, pecinta dari Surabaya, memiliki banyak cinta untuk Bosse, dan, kawan pecinta lain yang mungkin masih sendiri. (Eh?)

Maaf karena harus absen lagi tahun ini, Bosse. Doakan saja tahun depan aku bisa hadir menemui Bosse dan kawan-kawan, ya!



Malang, 19 Februari 2015.
Dari yang ingin sekali hadir.