Banyak kata yang ingin kusampaikan padamu. Tapi toh percuma, kau takkan pernah menganggapku ada. Bagimu, aku hanyalah satu dari sekian banyak rupa yang mengagumimu. Tak berhak dapatkan keistimewaan untuk perhatianmu. Bahkan untuk sampaikan kata rindu saja terasa mahal. Apa lagi untuk sederet kata-kata (yang menurutmu) bualan yang sudah lama kusimpan.
Kau sedikit terlalu jauh dari jangkauanku.
Apalah aku ini, hanya seorang gadis biasa dengan harap berlebih. Dengan ketulusan cinta yang senantiasa kau ragukan. Mungkin kau berpikir aku terlalu sombong, terlalu percaya diri untuk memproklamirkan cinta yang tulus dari hati.
Ah, cinta?
Rasanya aku salah memilih diksi. Kau kan, tidak percaya cinta.
Surabaya, 22 Februari 2015.
Dari yang ingin membuatmu percaya.
Sunday, February 22, 2015
Saturday, February 21, 2015
Jangan (Sok) Kuat #23
Barangkali ada penghargaan untuk Perempuan yang Tak Ingin Melukai Hati Siapapun, mungkin penghargaan itu akan dengan sendirinya berlarian menujumu. Bukan tanpa sebab aku berkata demikian, lihatlah dirimu. Selalu berusaha untuk berkata "Ya" pada mereka yang kau jumpai. Entahlah, apakah ada sesuatu yang mengganjal jika satu kali saja kau ucapkan "Tidak"?
Tak ada maksud untuk mencampuri urusanmu. Siapalah aku ini yang berhak mendiktemu perihal apa yang harus dan tak harus kau lakukan. Ini hidupmu, terserah padamu akan kau apakan sisa usiamu nanti. Namun aku terlalu menyayangimu untuk membiarkan kau menyenangkan hati orang lain, tapi melupakan kebahagiaan diri. Kau boleh saja mencoba bahagiakan aku, kami, mereka. Tapi kau tak boleh lupakan batinmu. Aku tak ingin terkesan menggurui, tapi ingatlah satu hal: jika kau mencoba untuk senangkan orang lain, satu-satunya orang yang kau kecewakan adalah dirimu sendiri.
Sudah berulang kali aku membujukmu untuk rehat sejenak dari rutinitas yang terlihat tanpa henti itu. Berulang kali pula kau yakinkan aku bahwa kau kuat, kau baik-baik saja, kau masih sanggup. Padahal sorot matamu memberitahuku, kalau kau butuhkan tempat bersandar. Kau butuhkan tempat berbagi barang sebentar. Kau butuhkan tempat menopang beban.
Aku tahu kau selalu inginkan yang terbaik untuk semua orang. Tapi kau juga tahu kan, tidak semua orang memahami usahamu. Terlampau sering kita memperdebatkan persoalan kau-tak-harus-selalu-ucapkan-ya. Tapi percuma saja beradu argumen denganmu. Kau seakan punya segudang alasan untuk meyakinkanku, juga orang-orang di luar sana, bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa kau siap membantu. Bahwa kau punya waktu luang yang tak terhingga. Bahwa stok tenagamu selalu terisi penuh.
Akuilah saja, kau tidak sekuat itu.
Tidak ada manusia yang sekuat itu, tak peduli bagaimanapun kau coba tanamkan sugesti dalam benak. Sudahlah, kau tak perlu risau. Masih ada aku dan mereka yang menyayangimu, yang memerhatikan kesehatanmu.
Jangan terlalu paksakan dirimu, mbak Nit. Bahkan Allah melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri, begitu bukan?
Mari sejenak kita lupakan kewajiban untuk membahagiakan tiap jiwa. Dan mulai membahagiakan apa yang sepatutnya dibahagiakan: batin dan raga yang terlupakan.
Surabaya, 21 Februari 2015.
Dari yang berada di sebelahmu saat menulis surat ini.
Tak ada maksud untuk mencampuri urusanmu. Siapalah aku ini yang berhak mendiktemu perihal apa yang harus dan tak harus kau lakukan. Ini hidupmu, terserah padamu akan kau apakan sisa usiamu nanti. Namun aku terlalu menyayangimu untuk membiarkan kau menyenangkan hati orang lain, tapi melupakan kebahagiaan diri. Kau boleh saja mencoba bahagiakan aku, kami, mereka. Tapi kau tak boleh lupakan batinmu. Aku tak ingin terkesan menggurui, tapi ingatlah satu hal: jika kau mencoba untuk senangkan orang lain, satu-satunya orang yang kau kecewakan adalah dirimu sendiri.
Sudah berulang kali aku membujukmu untuk rehat sejenak dari rutinitas yang terlihat tanpa henti itu. Berulang kali pula kau yakinkan aku bahwa kau kuat, kau baik-baik saja, kau masih sanggup. Padahal sorot matamu memberitahuku, kalau kau butuhkan tempat bersandar. Kau butuhkan tempat berbagi barang sebentar. Kau butuhkan tempat menopang beban.
Aku tahu kau selalu inginkan yang terbaik untuk semua orang. Tapi kau juga tahu kan, tidak semua orang memahami usahamu. Terlampau sering kita memperdebatkan persoalan kau-tak-harus-selalu-ucapkan-ya. Tapi percuma saja beradu argumen denganmu. Kau seakan punya segudang alasan untuk meyakinkanku, juga orang-orang di luar sana, bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa kau siap membantu. Bahwa kau punya waktu luang yang tak terhingga. Bahwa stok tenagamu selalu terisi penuh.
Akuilah saja, kau tidak sekuat itu.
Tidak ada manusia yang sekuat itu, tak peduli bagaimanapun kau coba tanamkan sugesti dalam benak. Sudahlah, kau tak perlu risau. Masih ada aku dan mereka yang menyayangimu, yang memerhatikan kesehatanmu.
Jangan terlalu paksakan dirimu, mbak Nit. Bahkan Allah melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri, begitu bukan?
Mari sejenak kita lupakan kewajiban untuk membahagiakan tiap jiwa. Dan mulai membahagiakan apa yang sepatutnya dibahagiakan: batin dan raga yang terlupakan.
Surabaya, 21 Februari 2015.
Dari yang berada di sebelahmu saat menulis surat ini.
Friday, February 20, 2015
Yang Tak Pernah Kecewakanku #22
Andai suatu hari ada yang menanyaiku, "Siapa yang tidak pernah mengecewakanmu?" tentu aku akan menyebut namamu. Bagaimana tidak, setiap kali aku merasa dikecewakan dunia, kau selalu mengangkat semangatku, membuatku takjub dengan kejutan lain yang kau beri. Kau tidak pernah ingkar janji; salah satu dari sekian banyak alasan mengapa kau tidak pernah membuatku kecewa. Kau sangat mengenalku untuk tahu bahwa kata kecewa itu sendiri dapat mengecewakanku. Sebab itulah kau tidak pernah membuatku teringat oleh kata itu.
Kau selalu tahu apa yang kumau. Suatu ketika sebuah band favorit dijadwalkan untuk tampil di kotaku. Kau bisa lihat luapan semangat saat aku menunggu detik-detik bertemu idola. Walau aku tak pernah membicarakan harapanku saat bertemu sang idola denganmu, kau tahu pasti apa yang kuinginkan. Dengan segala usaha yang kulakukan, kau menyemangatiku. Mendorongku untuk menggapai harapan-harapan yang kugantungkan. Ketika keadaan terlihat tidak membantuku untuk mencapai semua ingin, kau dengan tanpa basa-basi memberiku bantuan. Tiada lelah kau menolongku hingga harapan-harapan kugapai. Kau tentu masih ingat, betapa gembiranya aku saat itu hingga berteriak kencang; kegirangan. Kau hanya tertawa melihat tingkahku. Lalu kuhampiri kau seraya lontarkan ratusan syukur dan terima kasih untukmu. Lagi lagi, kau tidak mengecewakanku. Atau lebih tepatnya, tak ingin melihatku kecewa.
Banyak hal yang telah kita lalui. Hal-hal seperti malam di mana aku menantikan penampilan 5 Seconds of Summer di sebuah acara televisi. Kau tentu tahu kalau aku tak akan melewatkan apapun yang berkaitan dengannya. Namun tiba-tiba saja hujan datang. Angin kencang yang menyertai membuat antena televisi tidak dapat menangkap sinyal elektromagnetik dengan baik. Jadilah, semut-semut mengerubungi layar diiringi dengan suara mendesis yang amat mengganggu pandangan. Aku kesal, tapi masih tak henti membumbungkan harap agar hujan segera reda. Atau setidaknya, ia tak mengganggu keasyikanku memandangi 5SOS nantinya.
Dan, sekali lagi, kau tidak mengecewakanku. Tepat beberapa menit sebelum band asal Australia itu tampil, layar televisi kembali normal. Kembali menampilkan gambar dan suara yang jelas. Sejelas rasa cintaku padamu. Pada kau yang tak pernah ingin melihatku kecewa.
Kau tahu, dalam menjalani hidup, aku tak ingin ambil pusing ketika beberapa teman, kerabat, atau bahkan keluarga membuatku bersedih. Membuatku mengingat kata kecewa. Namun kau juga tahu kan, aku hanyalah manusia biasa. Tempatnya salah dan lupa. Tak mudah bagiku untuk tak mempedulikan kekecewaan yang terasa. Tapi kemudian aku teringat ucapanku sendiri: manusia memang tempatnya salah dan lupa.
Manusia akan selalu mengecewakan, tapi Tuhan tidak.
Untuk segala kebahagiaan lahir dan batin yang kau beri, aku berterima kasih. Kau tak pernah pamrih padaku. Walau aku masih teramat sering mengecewakanmu, tak pernah sekalipun kau balas aku. Kau justru membalasku dengan tumpukan kegembiraan yang kau beri secara percuma; yang terkadang lupa kusyukuri. Maaf jika selama ini aku bersikap angkuh dan lalai akan semua kewajiban. Terima kasih karena tidak pernah mengecewakanku, Tuhan. Terima kasih.
Pasuruan, 20 Februari 2015.
Dari yang tak lepas dari salah dan lupa.
Kau selalu tahu apa yang kumau. Suatu ketika sebuah band favorit dijadwalkan untuk tampil di kotaku. Kau bisa lihat luapan semangat saat aku menunggu detik-detik bertemu idola. Walau aku tak pernah membicarakan harapanku saat bertemu sang idola denganmu, kau tahu pasti apa yang kuinginkan. Dengan segala usaha yang kulakukan, kau menyemangatiku. Mendorongku untuk menggapai harapan-harapan yang kugantungkan. Ketika keadaan terlihat tidak membantuku untuk mencapai semua ingin, kau dengan tanpa basa-basi memberiku bantuan. Tiada lelah kau menolongku hingga harapan-harapan kugapai. Kau tentu masih ingat, betapa gembiranya aku saat itu hingga berteriak kencang; kegirangan. Kau hanya tertawa melihat tingkahku. Lalu kuhampiri kau seraya lontarkan ratusan syukur dan terima kasih untukmu. Lagi lagi, kau tidak mengecewakanku. Atau lebih tepatnya, tak ingin melihatku kecewa.
Banyak hal yang telah kita lalui. Hal-hal seperti malam di mana aku menantikan penampilan 5 Seconds of Summer di sebuah acara televisi. Kau tentu tahu kalau aku tak akan melewatkan apapun yang berkaitan dengannya. Namun tiba-tiba saja hujan datang. Angin kencang yang menyertai membuat antena televisi tidak dapat menangkap sinyal elektromagnetik dengan baik. Jadilah, semut-semut mengerubungi layar diiringi dengan suara mendesis yang amat mengganggu pandangan. Aku kesal, tapi masih tak henti membumbungkan harap agar hujan segera reda. Atau setidaknya, ia tak mengganggu keasyikanku memandangi 5SOS nantinya.
Dan, sekali lagi, kau tidak mengecewakanku. Tepat beberapa menit sebelum band asal Australia itu tampil, layar televisi kembali normal. Kembali menampilkan gambar dan suara yang jelas. Sejelas rasa cintaku padamu. Pada kau yang tak pernah ingin melihatku kecewa.
Kau tahu, dalam menjalani hidup, aku tak ingin ambil pusing ketika beberapa teman, kerabat, atau bahkan keluarga membuatku bersedih. Membuatku mengingat kata kecewa. Namun kau juga tahu kan, aku hanyalah manusia biasa. Tempatnya salah dan lupa. Tak mudah bagiku untuk tak mempedulikan kekecewaan yang terasa. Tapi kemudian aku teringat ucapanku sendiri: manusia memang tempatnya salah dan lupa.
Manusia akan selalu mengecewakan, tapi Tuhan tidak.
Untuk segala kebahagiaan lahir dan batin yang kau beri, aku berterima kasih. Kau tak pernah pamrih padaku. Walau aku masih teramat sering mengecewakanmu, tak pernah sekalipun kau balas aku. Kau justru membalasku dengan tumpukan kegembiraan yang kau beri secara percuma; yang terkadang lupa kusyukuri. Maaf jika selama ini aku bersikap angkuh dan lalai akan semua kewajiban. Terima kasih karena tidak pernah mengecewakanku, Tuhan. Terima kasih.
Pasuruan, 20 Februari 2015.
Dari yang tak lepas dari salah dan lupa.
Thursday, February 19, 2015
Buat yang Mengantar Surat-surat #21
Selamat sore, Bosse! Bagaimana kabar hari ini? Masih semangat mengantar surat-surat dari kami--para pecinta--bukan? Aku senang sekali, akhirnya bisa mengirim (atau lebih tepatnya membalas) surat untuk Bosse.
Seperti yang aku dan para pecinta lain ketahui, Bosse dan seluruh tukang pos @PosCinta mengadakan gathering yang mempertemukan para pecinta di 1 Maret nanti. Seperti halnya tahun lalu, kota yang terpilih menjadi tempat kopi darat masih Bandung. Karena menurut Bosse, Bandung merupakan kota yang sarat akan cinta. Dan, seperti halnya tahun lalu, aku yang berdomisili di Surabaya, sayangnya tidak dapat menjumpai Bosse dan kawan-kawan pecinta lainnya. Sebab jarak dan waktu yang membentang.
Sedih? Tentu saja. Bosse tak punya ide betapa aku sangat ingin bertatap muka dengan Bosse dan para tukang pos yang saban hari tak kenal lelah menyampaikan surat-surat cinta dari masing-masing pecinta. Aku ingin tahu, seperti apakah suara merdu kak @ikavuje saat melantunkan lagu. Juga ingin tahu, seperti apa kelincahan Bosse yang seringkali lompat-lompat di tumpukan surat. Juga ingin tahu, seperti apa cinta yang ditaburkan kawan pecinta pada dunia nyata. Seandainya saja Surabaya-Bandung dapat ditempuh dalam sekejap mata, mungkin aku tak akan berpikir dua kali untuk meramaikan gathering bersama Bosse dan para pecinta. Mungkin aku tak akan sesedih ini karena dua kali absen pada acara yang paling ditunggu selama bulan Februari. Tapi, tak apa. Seperti apa yang diucap Rayi, Asta, dan Nino, "Jarak dan waktu takkan berarti, karena kau akan selalu di hati."
Bosse, kalau aku diperbolehkan meminta, aku inginkan satu saja: adakan gathering @PosCinta di Surabaya. Karena yang perlu Bosse ketahui, Surabaya tak hanya terkenal sebagai kota Pahlawan. Surabaya juga memiliki banyak pecinta yang penuh cinta. Bosse harus merasakan cinta kami. Aku serius, Bosse. Kita, pecinta dari Surabaya, memiliki banyak cinta untuk Bosse, dan, kawan pecinta lain yang mungkin masih sendiri. (Eh?)
Maaf karena harus absen lagi tahun ini, Bosse. Doakan saja tahun depan aku bisa hadir menemui Bosse dan kawan-kawan, ya!
Malang, 19 Februari 2015.
Dari yang ingin sekali hadir.
Seperti yang aku dan para pecinta lain ketahui, Bosse dan seluruh tukang pos @PosCinta mengadakan gathering yang mempertemukan para pecinta di 1 Maret nanti. Seperti halnya tahun lalu, kota yang terpilih menjadi tempat kopi darat masih Bandung. Karena menurut Bosse, Bandung merupakan kota yang sarat akan cinta. Dan, seperti halnya tahun lalu, aku yang berdomisili di Surabaya, sayangnya tidak dapat menjumpai Bosse dan kawan-kawan pecinta lainnya. Sebab jarak dan waktu yang membentang.
Sedih? Tentu saja. Bosse tak punya ide betapa aku sangat ingin bertatap muka dengan Bosse dan para tukang pos yang saban hari tak kenal lelah menyampaikan surat-surat cinta dari masing-masing pecinta. Aku ingin tahu, seperti apakah suara merdu kak @ikavuje saat melantunkan lagu. Juga ingin tahu, seperti apa kelincahan Bosse yang seringkali lompat-lompat di tumpukan surat. Juga ingin tahu, seperti apa cinta yang ditaburkan kawan pecinta pada dunia nyata. Seandainya saja Surabaya-Bandung dapat ditempuh dalam sekejap mata, mungkin aku tak akan berpikir dua kali untuk meramaikan gathering bersama Bosse dan para pecinta. Mungkin aku tak akan sesedih ini karena dua kali absen pada acara yang paling ditunggu selama bulan Februari. Tapi, tak apa. Seperti apa yang diucap Rayi, Asta, dan Nino, "Jarak dan waktu takkan berarti, karena kau akan selalu di hati."
Bosse, kalau aku diperbolehkan meminta, aku inginkan satu saja: adakan gathering @PosCinta di Surabaya. Karena yang perlu Bosse ketahui, Surabaya tak hanya terkenal sebagai kota Pahlawan. Surabaya juga memiliki banyak pecinta yang penuh cinta. Bosse harus merasakan cinta kami. Aku serius, Bosse. Kita, pecinta dari Surabaya, memiliki banyak cinta untuk Bosse, dan, kawan pecinta lain yang mungkin masih sendiri. (Eh?)
Maaf karena harus absen lagi tahun ini, Bosse. Doakan saja tahun depan aku bisa hadir menemui Bosse dan kawan-kawan, ya!
Malang, 19 Februari 2015.
Dari yang ingin sekali hadir.
Wednesday, February 18, 2015
Teruntuk Pemilik 18 Februari #20
Halo.
Ah, mungkin kau tak mengenalku, kak. Tapi yang jelas, kita pernah bicara. Pernah saling menyemangati satu sama lain. Pasti kau bertanya-tanya, "Ah, masa? Kapan?"
Untuk menjawab pertanyaanmu, izinkan aku menceritakannya dalam surat ini.
Saat itu, pertengahan tahun 2007 (atau mungkin 2008, aku tak begitu mengingatnya). Pertama kali aku mendengarmu di sebuah stasiun radio di mana kau menjadi penyiarnya. Di tahun itu, aku selalu menjaga frekuensi radioku agar tetap berada pada stasiun di mana aku bisa mendengar suaramu. Kau ingat tidak kak, ada satu segmen berjudul Obat Tidur? Nah, di segmen itulah kau seringkali menyemangatiku. Tak jarang, aku kirimkan pesan singkat mengenai permasalahan yang kuhadapi. Terkadang aku juga mengirimkan sekadar sapaan salam saat kau bertugas pada segmen 911, ingat? Kemudian lambat laun kau mulai mengahapal namaku yang kerap muncul pada SMS gateway radiomu. Pernah suatu ketika aku memintamu untuk menjadi kakakku, dan tanpa kusangka, kau berkata, "Boleh dong, dek Nindy."
Sejak saat itu, aku selalu menganggapmu sebagai sosok kakak buatku.
Mungkin kau sudah melupakan detil-detil kecil seperti itu, kak. Tapi aku tak akan pernah bisa lupa. Ada satu momen di mana aku kau buat bahagia bukan kepalang saat akhirnya dapat berbicara denganmu, walau memang hanya melalui sambungan telepon. Malam itu, aku tak sengaja melihatmu di sebuah stasiun teve lokal, sedang membawakan acara musik bersama satu orang host perempuan. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung meraih gagang telepon, menekan digit-digit nomor sesuai dengan yang tertera di televisi, lalu menunggu teleponku tersambung. Satu kali telepon, belum tersambung. Aku tak menyerah. Pada percobaan kedua, seseorang mengangkat teleponku. Dalam hati aku memekik kegirangan, karena impianku untuk bicara denganmu tersampaikan. Setelah menunggu tak sampai satu menit, akhirnya aku dapat mendengar suaramu. Bukan melalui radio, bukan melalui televisi. Aku mendengar suaramu yang begitu jelas tepat di sebelah telinga. Saking gembiranya, aku melupakan apa yang seharusnya kulakukan saat menelepon acara teve itu: request lagu. Ya, setelah sang host perempuan mengingatkanku untuk menyebutkan satu judul lagu yang ingin kutonton video musiknya, pembicaraan kita pun sesegera mungkin diakhiri olehnya. Apalagi setelah aku menyebutkan nama stasiun radio tempatmu biasa menyapaku pada acara teve itu secara on air, sang host perempuan pun buru-buru menyudahi teleponku. Aku yang waktu itu belum tahu etika jurnalistik, tentu saja merasa kesal.
Tapi, mendapat pengalaman untuk berbicara denganmu saat itu sudah cukup mewah buatku. Sebuah pencapaian yang cukup prestisius untuk ukuran anak SMP yang mengagumi penyiar radio ibukota.
Kalimat-kalimat bijak yang selalu kau lontarkan tiap kali menemani pendengarmulah yang membuatku mengagumi sosokmu. Ada satu kutipan darimu yang masih kuingat hingga saat ini, ketika kau sedang memberi suntikan semangat melalui segmen dini hari itu, "Do what you love, love what you do."
Kutipan itu masih terpatri dalam benak dan menjadi patokan setiap kali aku melakukan sesuatu.
Sebenarnya, tujuanku menulis surat ini padamu tidak lain tidak bukan hanya satu, kak: ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat bertambah usia. Selamat menjalani hidup di tahun ke-dua puluh tujuh. Aku senang, tahun ini adalah tahun pertama kau melewati pergantian usia dengan adanya seorang istri di sisi. Yang membuatku lebih senang lagi adalah mengetahui bahwa istrimu merupakan sosok wanita yang selama ini memenuhi hari-hari, bahkan sebelum aku mengenalmu. Aku masih ingat hari di mana aku mengetahui perempuan yang menjadi sumber semangatmu kala itu. Kak Aiu, begitu aku pertama kali melihat namanya. Tak kusangka, kini ia menjadi pendamping hidup yang siap menemani hingga akhir hayat nanti. Untuk kehidupan baru bersama kak Aiu, aku ucapkan selamat juga ya, kak. (meski ucapan ini rasanya sedikit terlambat)
Sekali lagi, selamat bertemu usia baru, kak Yugo. Secara tulus kudoakan semoga kebahagiaan selalu bersamamu. Semoga Allah memberimu rejeki yang baik dan halal. Semoga segera diberi titipan Allah yang soleh/solehah dan lucu. Sehat selalu ya, kak. Sukses untuk semua karirmu. Sampaikan salam dan doaku untuk istri tercinta.
Pasuruan, 18 Februari 2015.
Dari pendengar setia yang masih menganggapmu kakak lelakinya.
NB:
Kalau kak Yugo tak ingat, acara musik di teve lokal waktu itu bernama Music Lyric, kak.
Ah, mungkin kau tak mengenalku, kak. Tapi yang jelas, kita pernah bicara. Pernah saling menyemangati satu sama lain. Pasti kau bertanya-tanya, "Ah, masa? Kapan?"
Untuk menjawab pertanyaanmu, izinkan aku menceritakannya dalam surat ini.
Saat itu, pertengahan tahun 2007 (atau mungkin 2008, aku tak begitu mengingatnya). Pertama kali aku mendengarmu di sebuah stasiun radio di mana kau menjadi penyiarnya. Di tahun itu, aku selalu menjaga frekuensi radioku agar tetap berada pada stasiun di mana aku bisa mendengar suaramu. Kau ingat tidak kak, ada satu segmen berjudul Obat Tidur? Nah, di segmen itulah kau seringkali menyemangatiku. Tak jarang, aku kirimkan pesan singkat mengenai permasalahan yang kuhadapi. Terkadang aku juga mengirimkan sekadar sapaan salam saat kau bertugas pada segmen 911, ingat? Kemudian lambat laun kau mulai mengahapal namaku yang kerap muncul pada SMS gateway radiomu. Pernah suatu ketika aku memintamu untuk menjadi kakakku, dan tanpa kusangka, kau berkata, "Boleh dong, dek Nindy."
Sejak saat itu, aku selalu menganggapmu sebagai sosok kakak buatku.
Mungkin kau sudah melupakan detil-detil kecil seperti itu, kak. Tapi aku tak akan pernah bisa lupa. Ada satu momen di mana aku kau buat bahagia bukan kepalang saat akhirnya dapat berbicara denganmu, walau memang hanya melalui sambungan telepon. Malam itu, aku tak sengaja melihatmu di sebuah stasiun teve lokal, sedang membawakan acara musik bersama satu orang host perempuan. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung meraih gagang telepon, menekan digit-digit nomor sesuai dengan yang tertera di televisi, lalu menunggu teleponku tersambung. Satu kali telepon, belum tersambung. Aku tak menyerah. Pada percobaan kedua, seseorang mengangkat teleponku. Dalam hati aku memekik kegirangan, karena impianku untuk bicara denganmu tersampaikan. Setelah menunggu tak sampai satu menit, akhirnya aku dapat mendengar suaramu. Bukan melalui radio, bukan melalui televisi. Aku mendengar suaramu yang begitu jelas tepat di sebelah telinga. Saking gembiranya, aku melupakan apa yang seharusnya kulakukan saat menelepon acara teve itu: request lagu. Ya, setelah sang host perempuan mengingatkanku untuk menyebutkan satu judul lagu yang ingin kutonton video musiknya, pembicaraan kita pun sesegera mungkin diakhiri olehnya. Apalagi setelah aku menyebutkan nama stasiun radio tempatmu biasa menyapaku pada acara teve itu secara on air, sang host perempuan pun buru-buru menyudahi teleponku. Aku yang waktu itu belum tahu etika jurnalistik, tentu saja merasa kesal.
Tapi, mendapat pengalaman untuk berbicara denganmu saat itu sudah cukup mewah buatku. Sebuah pencapaian yang cukup prestisius untuk ukuran anak SMP yang mengagumi penyiar radio ibukota.
Kalimat-kalimat bijak yang selalu kau lontarkan tiap kali menemani pendengarmulah yang membuatku mengagumi sosokmu. Ada satu kutipan darimu yang masih kuingat hingga saat ini, ketika kau sedang memberi suntikan semangat melalui segmen dini hari itu, "Do what you love, love what you do."
Kutipan itu masih terpatri dalam benak dan menjadi patokan setiap kali aku melakukan sesuatu.
Sebenarnya, tujuanku menulis surat ini padamu tidak lain tidak bukan hanya satu, kak: ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat bertambah usia. Selamat menjalani hidup di tahun ke-dua puluh tujuh. Aku senang, tahun ini adalah tahun pertama kau melewati pergantian usia dengan adanya seorang istri di sisi. Yang membuatku lebih senang lagi adalah mengetahui bahwa istrimu merupakan sosok wanita yang selama ini memenuhi hari-hari, bahkan sebelum aku mengenalmu. Aku masih ingat hari di mana aku mengetahui perempuan yang menjadi sumber semangatmu kala itu. Kak Aiu, begitu aku pertama kali melihat namanya. Tak kusangka, kini ia menjadi pendamping hidup yang siap menemani hingga akhir hayat nanti. Untuk kehidupan baru bersama kak Aiu, aku ucapkan selamat juga ya, kak. (meski ucapan ini rasanya sedikit terlambat)
Sekali lagi, selamat bertemu usia baru, kak Yugo. Secara tulus kudoakan semoga kebahagiaan selalu bersamamu. Semoga Allah memberimu rejeki yang baik dan halal. Semoga segera diberi titipan Allah yang soleh/solehah dan lucu. Sehat selalu ya, kak. Sukses untuk semua karirmu. Sampaikan salam dan doaku untuk istri tercinta.
Pasuruan, 18 Februari 2015.
Dari pendengar setia yang masih menganggapmu kakak lelakinya.
NB:
Kalau kak Yugo tak ingat, acara musik di teve lokal waktu itu bernama Music Lyric, kak.
Tuesday, February 17, 2015
Perasaan Apa Ini? #19
Aku pernah mendengar frasa, "Kau tak bisa kehilangan apa yang tak pernah kau miliki."
Secara logika, kalimat itu benar. Masuk akal. Namun, entahlah. Apa yang terjadi padaku seolah menepis seluruh kebenaran yang terkandung di dalamnya. Aku alami sesuatu yang, terasa seperti kehilangan, saat aku tak lagi rasakan hadirmu dalam hari-hariku.
Coba beritahu aku.
Apa kata yang pas untuk menggambarkan sesak dalam dada saat aku tak lagi dapat menjangkaumu, bahkan melalui sederet baris pesan singkat?
Apa kata yang pas untuk menggambarkan hampa yang terasa saat namamu tak lagi meramaikan ponselku?
Apa kata yang pas untuk menggambarkan sepi yang kerap kali menemani saat aku, sengaja maupun tidak, membawamu dalam pikiranku?
Apa kata yang pas untuk perasaan yang lambat laun membunuhku dengan cekat di tenggorokan, yang memaksaku untuk menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan dengan segala kericuhan yang ada dalam pikiran?
Aku tak tahu persis ini apa, tapi aku pikirkan satu kata yang pas untuk ini semua: aku merasa kehilanganmu.
Mungkin mereka pikir aku tak pernah memilikimu. Mungkin juga kau memikirkan hal yang sama. Tapi kalian salah besar. Aku pernah memilikimu, dan masih memilikimu, di dalam hatiku. Itu kau yang dengan sendirinya memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan lubang besar dalam dada; menghilang. Kalau aku beri penjelasan seperti ini, apakah kau setuju dengan anggapanku bahwa aku merasa kehilanganmu?
Aku memang tak pernah miliki ragamu. Tapi bagiku, perasaan kehilangan ini nyata adanya.
Pasuruan, 17 Februari 2015.
Dari seorang yang bersikeras (pernah) memilikimu.
Secara logika, kalimat itu benar. Masuk akal. Namun, entahlah. Apa yang terjadi padaku seolah menepis seluruh kebenaran yang terkandung di dalamnya. Aku alami sesuatu yang, terasa seperti kehilangan, saat aku tak lagi rasakan hadirmu dalam hari-hariku.
Coba beritahu aku.
Apa kata yang pas untuk menggambarkan sesak dalam dada saat aku tak lagi dapat menjangkaumu, bahkan melalui sederet baris pesan singkat?
Apa kata yang pas untuk menggambarkan hampa yang terasa saat namamu tak lagi meramaikan ponselku?
Apa kata yang pas untuk menggambarkan sepi yang kerap kali menemani saat aku, sengaja maupun tidak, membawamu dalam pikiranku?
Apa kata yang pas untuk perasaan yang lambat laun membunuhku dengan cekat di tenggorokan, yang memaksaku untuk menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan dengan segala kericuhan yang ada dalam pikiran?
Aku tak tahu persis ini apa, tapi aku pikirkan satu kata yang pas untuk ini semua: aku merasa kehilanganmu.
Mungkin mereka pikir aku tak pernah memilikimu. Mungkin juga kau memikirkan hal yang sama. Tapi kalian salah besar. Aku pernah memilikimu, dan masih memilikimu, di dalam hatiku. Itu kau yang dengan sendirinya memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan lubang besar dalam dada; menghilang. Kalau aku beri penjelasan seperti ini, apakah kau setuju dengan anggapanku bahwa aku merasa kehilanganmu?
Aku memang tak pernah miliki ragamu. Tapi bagiku, perasaan kehilangan ini nyata adanya.
Pasuruan, 17 Februari 2015.
Dari seorang yang bersikeras (pernah) memilikimu.
Monday, February 16, 2015
Tak Sesuai Harapanmu, Ya? #18
"So you think hurting me will stop me from loving you?"
Hei, kau. Lelaki dengan sweater abu-abu.
Kau pikir dengan tiba-tiba menghilang seperti ini, dapat memudarkan perasaan untukmu?
Kau pikir dengan tiba-tiba mengabaikanku seperti ini, dapat menahan rindu yang memuncak?
Kau pikir dengan tiba-tiba menyakitiku seperti ini, dapat menghentikanku untuk tetap mencintaimu?
Maaf mengecewakanmu, tapi, kau salah besar.
Tidak kau, tidak keadaan, tidak satu hal pun dapat memaksa gejolak dada untuk menyerah. Tidak saat ini, tidak esok nanti. Maaf kalau kau tidak berkenan, tapi, aku juga tak mungkin ingkari diri sendiri.
Beritahu aku kalau kau mulai berusaha menerima kenyataan bahwa seluruh ruang di hati kupersiapkan untukmu.
Pasuruan, 16 Februari 2015.
Dari yangtidak belum merasa lelah.
Hei, kau. Lelaki dengan sweater abu-abu.
Kau pikir dengan tiba-tiba menghilang seperti ini, dapat memudarkan perasaan untukmu?
Kau pikir dengan tiba-tiba mengabaikanku seperti ini, dapat menahan rindu yang memuncak?
Kau pikir dengan tiba-tiba menyakitiku seperti ini, dapat menghentikanku untuk tetap mencintaimu?
Maaf mengecewakanmu, tapi, kau salah besar.
Tidak kau, tidak keadaan, tidak satu hal pun dapat memaksa gejolak dada untuk menyerah. Tidak saat ini, tidak esok nanti. Maaf kalau kau tidak berkenan, tapi, aku juga tak mungkin ingkari diri sendiri.
Beritahu aku kalau kau mulai berusaha menerima kenyataan bahwa seluruh ruang di hati kupersiapkan untukmu.
Pasuruan, 16 Februari 2015.
Dari yang
Sunday, February 15, 2015
Alhamdulillah, Halal. #17
Minggu ini merupakan minggu yang sangat berarti sekali buatmu, mbak. Setelah hari Kamis lalu dia secara mantap memintamu lewat akad, pagi tadi akhirnya kulihat kau berdiri di sana dengan dia yang akan menemani sisa hidupmu. Dia yang telah buktikan bahwa hubungan jarak jauh tidak selamanya berakhir di tengah jalan. Dia yang siap menuntunmu menjadi wanita penghuni surga. Dia yang kini menjadi baktimu, memanggul segala kewajiban atasmu.
Kau terlihat sangat bahagia sekali di pelaminan tadi, mbak. Terlihat sangat cantik. Sumringah. Dipenuhi kebahagiaan yang insya Allah tak akan pernah luntur karena ada dia di sisi yang siap memoles bahagiamu tiap harinya. Aku tak menyangka, ternyata waktu memang bergulir cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku menjadi fotorafer dadakan di acara pertunanganmu. Eh tahu-tahu, sekarang kau sudah menyandang gelar baru sebagai Nyonya Hady.
Di kehidupan yang amat sangat baru nanti, mbak, kau akan terbangun dengan dia di sebelah bantalmu. Akan terbangun dengan keinginan untuk membuat sarapan terbaik untuknya. Kau juga akan melewati hari-hari dengan rasa rindu yang baru. Kalau sebelumnya kau menunggu dia pulang ke kotamu, kelak kau akan menunggu dia pulang ke rumahmu; rumah kalian. Lalu menyambut dia yang letih bekerja seharian dengan senyum hangat. Memijat bahunya. Membuatkan kopi panas (hanya jika dia memang menyukai kopi). Menanyakan bagaimana harinya. Ah, saat-saat seperti itu terlihat sangat menyenangkan bukan, mbak? Bukankah kau sudah membayangkannya sejak lama? Nah, sekarang, kau akan benar-benar mengalaminya, mbak. Jangan terburu-buru menceritakan padaku perihal kebahagiaan seorang istri, mbak. Nanti aku iri. Um, mungkin lebih tepatnya, ingin.
Kalau keponakanku nanti sudah menatap dunia, jangan lupa beritahu aku ya, mbak. Aku penasaran, akan mewarisi wajah cantik ibunya, atau raut tegas ayahnya kah? Akan gemar berhitung, atau lebih suka menelaah mesin-mesin kah? Ah, tapi imajinasi ini rasanya terlalu jauh ya, mbak. Nikmati dulu saja masa-masa indah menjadi pengantin baru, mbak.
Selamat untuk kebahagiaanmu ya, mbak Shandra. Aku terbangkan doa semoga keluargamu selalu dirangkul kegembiraan dan dihujani rejeki yang diridhoi Allah. Tak lupa kulayangkan doa untuk kesejahteraan bahtera yang kalian berdua nahkodai. Badai mungkin tak dapat dihindari, tapi seperti ucapan orang bijak: untuk dapat melihat pelangi, kau harus merasakan hujan terlebih dahulu.
Surabaya, 15 Februari 2015.
Dari yang turut merasakan kekuatan cinta kalian berdua.
Kau terlihat sangat bahagia sekali di pelaminan tadi, mbak. Terlihat sangat cantik. Sumringah. Dipenuhi kebahagiaan yang insya Allah tak akan pernah luntur karena ada dia di sisi yang siap memoles bahagiamu tiap harinya. Aku tak menyangka, ternyata waktu memang bergulir cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku menjadi fotorafer dadakan di acara pertunanganmu. Eh tahu-tahu, sekarang kau sudah menyandang gelar baru sebagai Nyonya Hady.
Di kehidupan yang amat sangat baru nanti, mbak, kau akan terbangun dengan dia di sebelah bantalmu. Akan terbangun dengan keinginan untuk membuat sarapan terbaik untuknya. Kau juga akan melewati hari-hari dengan rasa rindu yang baru. Kalau sebelumnya kau menunggu dia pulang ke kotamu, kelak kau akan menunggu dia pulang ke rumahmu; rumah kalian. Lalu menyambut dia yang letih bekerja seharian dengan senyum hangat. Memijat bahunya. Membuatkan kopi panas (hanya jika dia memang menyukai kopi). Menanyakan bagaimana harinya. Ah, saat-saat seperti itu terlihat sangat menyenangkan bukan, mbak? Bukankah kau sudah membayangkannya sejak lama? Nah, sekarang, kau akan benar-benar mengalaminya, mbak. Jangan terburu-buru menceritakan padaku perihal kebahagiaan seorang istri, mbak. Nanti aku iri. Um, mungkin lebih tepatnya, ingin.
Kalau keponakanku nanti sudah menatap dunia, jangan lupa beritahu aku ya, mbak. Aku penasaran, akan mewarisi wajah cantik ibunya, atau raut tegas ayahnya kah? Akan gemar berhitung, atau lebih suka menelaah mesin-mesin kah? Ah, tapi imajinasi ini rasanya terlalu jauh ya, mbak. Nikmati dulu saja masa-masa indah menjadi pengantin baru, mbak.
Selamat untuk kebahagiaanmu ya, mbak Shandra. Aku terbangkan doa semoga keluargamu selalu dirangkul kegembiraan dan dihujani rejeki yang diridhoi Allah. Tak lupa kulayangkan doa untuk kesejahteraan bahtera yang kalian berdua nahkodai. Badai mungkin tak dapat dihindari, tapi seperti ucapan orang bijak: untuk dapat melihat pelangi, kau harus merasakan hujan terlebih dahulu.
Surabaya, 15 Februari 2015.
Dari yang turut merasakan kekuatan cinta kalian berdua.
Saturday, February 14, 2015
Sederhana Saja #16
Kau bilang, hidup tak ubahnya sebuah kamera. Fokuskan diri pada hal paling esensial dan biarkan hal lain di sekelilingmu menjadi ornamen untuk memperindah. Pagi itu, kau ucap kalimat yang kini menjadi favoritku sembari menunjukkan hasil buruanmu. Sebuah gambar di mana aku tertawa lebar dengan sebuah gelembung sabun tepat di atas kepalaku. Aku masih bisa mendengar dentuman keras yang tiba-tiba menyeruak dalam diri, yang sepersekian detik kemudian diiringi dengan gumaman batin, "Sial. Sepertinya aku jatuh cinta."
Ya. Tepat setelah ujung sikumu menyenggol lenganku, aku jatuh cinta. Tepat setelah gesekan suara rumput yang timbul akibat sepatumu, aku jatuh cinta. Tepat setelah aku tak sengaja memegang jemarimu, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada caramu membuatku jatuh cinta; mengingatkanku bahwa kesederhanaanlah yang membuat kita bahagia.
Katamu, aku terlihat sangat lepas pagi itu. Seolah tak ada satu hal pun yang mampu membebaniku. Katamu, kau bahagia melihatku kembali lemparkan tawa pada awan dan rerumputan. Katamu, kau tidak perlu susah-susah mencari umpan untuk kamera besarmu karena senyuman yang tak letih mengembang dari bibirku. Katamu, membahagiakan aku tidak sulit: cukup mengajakku menikmati angin di lapangan penuh ilalang serta memberikan sebotol gelembung sabun seribuan. Katamu, "Kebahagiaanmu sederhana sekali."
Ya. Kebahagiaanku sesederhana mengagumi indahmu tanpa suara.
Barangkali kau berpikir aku gila, bisa-bisanya jatuh cinta pada seorang yang bahkan tak pernah berusaha membuatku jatuh cinta. Hingga kini, aku tak pernah bisa ungkapkan alasan memilihmu sebagai tempat terjatuh. Semua terjadi begitu saja. Kau bahkan (sepertinya) tidak pernah berniat membuatku jatuh cinta. Ah, aku memang aneh. Murah sekali perasaanku, disogok sebuah senyuman dengan beberapa kerutan di sekitar mata dan sebotol gelembung sabun saja sudah luluh. Padahal seharusnya aku meminta lebih, satu buket bunga mungkin. Atau, satu kotak cokelat merek ternama. Tapi nyatanya, hatiku dan tingkah lakumu seakan berkonspirasi untuk membuatku terlihat mudah. Dasar kau menyebalkan!
Asal kau tahu saja, hei lelaki penggemar warna biru. Selain tak berhenti merutuki diri sendiri karena jatuhkan hati pada sosokmu, aku juga tak berhenti semangati diri untuk tetap bertahan mencintaimu dalam kesunyian. Menjadi seorang yang menyebalkan tidak cukup untuk mengalahkan perasaan yang terlanjur tumbuh. Kalau sudah begini, kau mau apa, hm?
Maaf karena aku masih merawat perasaanku dalam keheningan ini. Mengutip Sheila on 7 –musisi favoritmu–, "Mungkin kau tak akan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dicintai."
Surabaya, 14 Februari 2015.
Dari yang menikmati kesederhanaan mengagumimu.
Ya. Tepat setelah ujung sikumu menyenggol lenganku, aku jatuh cinta. Tepat setelah gesekan suara rumput yang timbul akibat sepatumu, aku jatuh cinta. Tepat setelah aku tak sengaja memegang jemarimu, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada caramu membuatku jatuh cinta; mengingatkanku bahwa kesederhanaanlah yang membuat kita bahagia.
Katamu, aku terlihat sangat lepas pagi itu. Seolah tak ada satu hal pun yang mampu membebaniku. Katamu, kau bahagia melihatku kembali lemparkan tawa pada awan dan rerumputan. Katamu, kau tidak perlu susah-susah mencari umpan untuk kamera besarmu karena senyuman yang tak letih mengembang dari bibirku. Katamu, membahagiakan aku tidak sulit: cukup mengajakku menikmati angin di lapangan penuh ilalang serta memberikan sebotol gelembung sabun seribuan. Katamu, "Kebahagiaanmu sederhana sekali."
Ya. Kebahagiaanku sesederhana mengagumi indahmu tanpa suara.
Barangkali kau berpikir aku gila, bisa-bisanya jatuh cinta pada seorang yang bahkan tak pernah berusaha membuatku jatuh cinta. Hingga kini, aku tak pernah bisa ungkapkan alasan memilihmu sebagai tempat terjatuh. Semua terjadi begitu saja. Kau bahkan (sepertinya) tidak pernah berniat membuatku jatuh cinta. Ah, aku memang aneh. Murah sekali perasaanku, disogok sebuah senyuman dengan beberapa kerutan di sekitar mata dan sebotol gelembung sabun saja sudah luluh. Padahal seharusnya aku meminta lebih, satu buket bunga mungkin. Atau, satu kotak cokelat merek ternama. Tapi nyatanya, hatiku dan tingkah lakumu seakan berkonspirasi untuk membuatku terlihat mudah. Dasar kau menyebalkan!
Asal kau tahu saja, hei lelaki penggemar warna biru. Selain tak berhenti merutuki diri sendiri karena jatuhkan hati pada sosokmu, aku juga tak berhenti semangati diri untuk tetap bertahan mencintaimu dalam kesunyian. Menjadi seorang yang menyebalkan tidak cukup untuk mengalahkan perasaan yang terlanjur tumbuh. Kalau sudah begini, kau mau apa, hm?
Maaf karena aku masih merawat perasaanku dalam keheningan ini. Mengutip Sheila on 7 –musisi favoritmu–, "Mungkin kau tak akan pernah tahu betapa mudahnya kau untuk dicintai."
Surabaya, 14 Februari 2015.
Dari yang menikmati kesederhanaan mengagumimu.
Friday, February 13, 2015
Selamat Datang, Cello! #15
Teruntuk ibu dosen...
Hari ini, Allah memberi Ibu sebuah kepercayaan baru dalam wujud seorang bayi mungil nan cantik. Alisha Cheryl Zaffa An-Najwa, begitu ibu dan suami memberinya nama. Nama yang indah, tentu memiliki arti yang tak kalah indah. Untuk kelahiran Cello, saya ucapkan syukur alhamdulillah. Akhirnya penantian Ibu dan keluarga untuk memandang wajah cantiknya terjawab setelah menunggu sembilan bulan lamanya.
Walau saya belum dapat melihat Cello secara langsung, tapi saya yakin Cello pasti memiliki senyuman manis khas ibunya. Atau, jenis rambut seperti milik ayahnya. Kalau boleh saya mengira-ngira, mendengar panggilan yang Ibu dan suami berikan, mungkin nantinya Cello akan tumbuh menjadi seorang gadis pemusik. Pemain instrumen yang handal. Mewarisi bakat bermusik dari garis ibunya. Ah, sepertinya akan menyenangkan ya, Bu, memiliki seorang anak perempuan dengan kegemaran yang sama?
Selain ingin menatap cantiknya Cello, saya juga ingin melihat ekspresi bahagia Divo menyambut kelahiran adiknya. Juga raut sumringah Ibu dan suami saat merengkuh Cello dalam kedua lengan. Saya dapat merasakan aura kegembiraan yang sedang keluarga Ibu rasa sekarang. Hari Jum'at yang barokah, bukan begitu, Bu?
Selamat atas kelahiran Cello ya, Bu. Semoga Cello tumbuh menjadi gadis solehah yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Yang membanggakan orang-orang di sekelilingnya. Yang selalu membawa kebahagiaan pada siapa saja yang mengenalnya. Untuk saat ini, maafkan jika hanya doa yang mampu saya beri untuk Cello. Ibu dan Cello jaga kesehatan, ya. Semoga keadaan Ibu setelah melahirkan lekas membaik. Sampaikan salam saya untuk Divo dan ayahnya.
Surabaya, 13 Februari 2015.
Dari salah satu mahasiswi yang menganggap Ibu keren.
Hari ini, Allah memberi Ibu sebuah kepercayaan baru dalam wujud seorang bayi mungil nan cantik. Alisha Cheryl Zaffa An-Najwa, begitu ibu dan suami memberinya nama. Nama yang indah, tentu memiliki arti yang tak kalah indah. Untuk kelahiran Cello, saya ucapkan syukur alhamdulillah. Akhirnya penantian Ibu dan keluarga untuk memandang wajah cantiknya terjawab setelah menunggu sembilan bulan lamanya.
Walau saya belum dapat melihat Cello secara langsung, tapi saya yakin Cello pasti memiliki senyuman manis khas ibunya. Atau, jenis rambut seperti milik ayahnya. Kalau boleh saya mengira-ngira, mendengar panggilan yang Ibu dan suami berikan, mungkin nantinya Cello akan tumbuh menjadi seorang gadis pemusik. Pemain instrumen yang handal. Mewarisi bakat bermusik dari garis ibunya. Ah, sepertinya akan menyenangkan ya, Bu, memiliki seorang anak perempuan dengan kegemaran yang sama?
Selain ingin menatap cantiknya Cello, saya juga ingin melihat ekspresi bahagia Divo menyambut kelahiran adiknya. Juga raut sumringah Ibu dan suami saat merengkuh Cello dalam kedua lengan. Saya dapat merasakan aura kegembiraan yang sedang keluarga Ibu rasa sekarang. Hari Jum'at yang barokah, bukan begitu, Bu?
Selamat atas kelahiran Cello ya, Bu. Semoga Cello tumbuh menjadi gadis solehah yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Yang membanggakan orang-orang di sekelilingnya. Yang selalu membawa kebahagiaan pada siapa saja yang mengenalnya. Untuk saat ini, maafkan jika hanya doa yang mampu saya beri untuk Cello. Ibu dan Cello jaga kesehatan, ya. Semoga keadaan Ibu setelah melahirkan lekas membaik. Sampaikan salam saya untuk Divo dan ayahnya.
Surabaya, 13 Februari 2015.
Dari salah satu mahasiswi yang menganggap Ibu keren.
Subscribe to:
Posts (Atom)
